Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Di Kamarnya Mas Ningrat


__ADS_3

Sampai sore hari keluarga Negara masih berada di area perkebunan teh. Kala itu, Indi dan Satria juga diajak keluarga Negara mengunjungi tanah perkebunan khusus untuk menanam rempah-rempah. Sehingga memang ada jenis rempah-rempah khusus yang ditanam di sana.


Indi juga bisa tahu sendiri bagaimana Kunyit, Jahe, Kencur, dan aneka rempah yang lain ditanam. Ini tentunya menjadi pengalaman berharga untuk Indi.


"Pengantin baru mengonsumsi ini, Sat," kata Rama Bima dengan tiba-tiba.


"Tanaman apa ini, Rama?" tanya Satria.


"Ini akar Pasak Bumi, biar roso. Biar tahan lama," jawab Rama Bima dengan berbisik lirih kepada Satria.


Ya, akar Pasak Bumi adalah jenis tanaman herbal yang banyak tumbuh di Indonesia. Herba yang memiliki nama latin Eurycoma longifolia ini selama berabad-abad dipercaya obat kuat alami untuk meningkatkan vitalitas pria, terutama dalam hal gairah se-ksual dan kesuburan.


Satria yang mendengarkan ucapan Rama Bima sampai tertawa. Tanaman yang bentuknya menyerupai Jahe itu ternyata memiliki manfaat banyak untuk vitalitas pria. Akan tetapi, Satria menggelengkan kepalanya. Menurut Satria, dia tidak perlu memakai obat vitalitas. Tanpa itu saja, petualangannya bersama Indi sudah berhasil menggapai Swargaloka.


"Ada-ada saja, Rama," balas Satria.


"Memang ada, Sat. Jamu sehat pria kan dicampurkan ini. Walau begitu pemakaiannya tetap harus diawasi," jelas Rama Bima.


Sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpung di dunia jamu dan obat herbal, tentu Rama Bima sangat tahu hal seperti ini. Menjelang sore, ketika kabut mulai turun, barulah keluarga Negara mulai kembali ke rumahnya. Hampir petang, mereka baru tiba di kediaman Negara.


Indi memilih bersih-bersih terlebih dahulu. Begitu juga Satria yang bersih-bersih, setelah itu Satria berpamitan untuk menunaikan Sholat di Mushola yang tidak jauh dari rumahnya. Seakan terbayang dulu ketika Satria selalu bersujud dan berharap supaya Allah menyatukan cintanya dengan Indi. Kini, ketika semua terwujud dan restu sudah di dapatkan yang ada adalah hati yang selalu melimpah dengan syukur.


"Malam di rumahnya Rama dan Ibu suasananya seperti ini, Mbak Indi. Apalagi kita agak jauh dari pusat kota," kata Bu Galuh.


"Tidak apa-apa, Ibu. Indi senang kok. Bisa mengenal rumah Rama dan Ibu. Terima kasih Indi sudah diterima di sini," balasnya.


"Nanti kalau pagi sudah ada beberapa petani rempah-rempah, orang Jawa sering berkata empon-empon yang dijual di sini. Selain menanam di perkebunan sendiri, kita juga membeli dari petani rempah secara langsung," cerita Bu Galuh.


Wah, Indi baru tahu. Rupanya suasana di kediaman Negara jauh lebih beragam. Selain itu, ada aktivitas yang terkait dengan rempah-rempah yang memang dimanfaatkan untuk pengolahan jamu. Jika membeli dari petani secara langsung pastilah akan mendapatkan harga yang lebih murah tentunya.


Setelah itu, menunggu Satria dan Rama Bima pulang dari Mushola, kemudian mereka menikmati Teh Jahe di malam hari, bersama dengan camilannya. Suasana kekeluargaan yang hangat, dan ada Sitha yang terasa nyaman bisa berbicara dengan Indi.


Menjelang jam 21.00 malam, barulah Satria dan Indi masuk ke dalam kamarnya. Pria itu tampak senang membawa Indi masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Sini, ini kamarnya Mas Jejaka dulu," kata Satria.


Indi yang mendengarkannya pun terkekeh perlahan. Rasanya geli rasanya. Akan tetapi, juga Indi sekalian melihat-lihat kamar yang bercat abu itu. Sangat minimalis, dan tidak banyak barang di sana. Selain itu juga ada poster pemain sepak bola dari club Liga Italia yang tertempel di dinding.


"Khas kamar cowok banget yah ... ada poster pemain bolanya," kata Indi.


"Iya, dulu sukanya sepakbola, Sayang. Biasa waktu kecil dulu," balas Satria.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia kemudian melihat foto mereka kala masih sama-sama kuliah dan mengenakan almamater.


"Lucu banget yah, Mas," kata Indi.


"Iya, sama dengan foto yang ada di kamar kamu. Di rumahnya Ayah," balas Satria.


Usai itu, rupanya Satria segera mengunci pintu kamarnya dan mematikan lampu utama sehingga suasana di dalam kamar tidur itu pun menjadi remang-remang. Duduk di pinggir ranjang, dan Satria tampak memangku istrinya itu.


"Yah ini kamarnya Mas waktu jejaka dulu. Gak ada yang spesial. Yang bikin spesial itu foto kamu," kata Satria.


"Kamu yang buat aku lepas jejaka," balas Satria.


Terkekeh perlahan kemudian Satria mencerukkan wajahnya di leher istrinya. Menghirupi aroma parfum suaminya yang harum dan sedikit manis di indera penciumannya. Sesekali dia kecup perlahan garis leher istrinya yang jenjang. Walau hanya kecupan saja, Indi sudah mengedikkan bahunya perlahan.


"Jangan nakal-nakal, Mas," kata Indi.


"Nakalnya cuma sama kamu, Sayang. Mau enggak membuat kenangan di sini? di dalam kamarku," tanya Satria.


Tentu itu adalah pertanyaan yang ambigu dan terkesan absurd. Arah pertanyaan itu pastilah akan berakhir di ranjang. Indi sudah tahu jelas bagaimana lihainya suaminya itu.


"Takut, Mas. Baru sekali ke sini kok udah nakal-nakal," balas Indi.


Satria tersenyum lagi. "Lah, aku nginap di rumah kamu sekali juga langsung nakal. Menuntaskan misi. Mana kamu enggak nolak lagi. Senangnya dalam hati," balas Satria.


Indi tersenyum. Andai saja lampu di dalam kamar bersinar, pastilah Satria bisa melihat pipinya yang memerah. Lantaran sekarang dalam keremangan sehingga rona merah di pipi itu menjadi tak terlihat.

__ADS_1


"Issh, apa sih, Mas. Hoby banget sih bikin aku malu," balas Indi.


"Enggak hoby juga, Sayang. Cuma senang saja. Begitu juga, aku ingin mengajakmu membuat kenangan indah di dalam kamar kita ini," kata Satria.


Pun dengan Satria yang sudah mengutarakan niat hatinya. Tidak mungkin menginap di dalam kamarnya, jika tidak membuat kenangan berharga di sana. Dia juga ingin membuat kenangan indah bersama dengan istrinya.


Seakan tak perlu lagi menunggu, Satria mencapit perlahan dagu istrinya itu dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Membuat sang empunya dagu kian mendekat. Maka, tidak ada yang Satria tunggu lagi. Dia memangkas jarak wajahnya yang tidak seberapa, kemudian mulai melabuhkan kecupan demi kecupan di bibir istrinya. Sekarang, Satria benar-benar menunjukkan sisi nakalnya kepada Indi.


Tampilan di luar boleh tenang dan kalem, tapi kalau sudah bersama istrinya nampaklah bentuk sejatinya. Sekarang, Indi tidak kaget juga. Sudah tahu dan mengenal bagaimana suaminya itu kalau bersamanya. Sekarang seakan tidak ada lagi waktu untuk menolak. Sebab, ketika dua bibir saling bertemu dan mencecap, di sanalah keduanya akan bertaut.


Perlahan-lahan keduanya saling mencecap, saling menghisap, dan juga saling memberikan sapaan yang menyulut berbagai gelenyar asing dalam diri keduanya. Mempertahankan Indi dalam pangkuannya, tangan Satria perlahan meraba bagian tengkuk, lengan, hingga punggung istrinya dengan usapan naik dan turun. Hanya beberapa saat saja Indi sudah melenguh dibuatnya.


Dalam pangkuan Satria saja, Indi merasa goyah. Terutama ketika Satria menciumnya dengan lebih memburu. Rasanya begitu luar biasa. Hingga Satria akhirnya memindahkan Indi ke ranjang dengan begitu cepat.


Pria itu mulai memberikan kecupan demi kecupan di garis leher Indi. Membuka sesaat kaos yang Indi kenakan dan menyisir tulang belikat istrinya itu dengan bibirnya. Seakan Satria memang ingin melakukan momen indah di dalam kamarnya. Menempatkan diri dengan baik, Satria mulai menindih tubuh istrinya.


Kancing demi kancing di kemeja istrinya berhasil dia lepas. Satria merasa bahwa Indi sekarang dalam keadaan siap menerima. Tak ingin berlama-lama, dia hanya mengangkat wadah berenda di sana, mempertunjukkan bulatan indah yang mulai sekarang menjadi kesukaannya, Satria mulai meremasnya perlahan, memilin ujungnya, dan juga dia menyapa dengan ujung lidahnya. Menghisapnya perlahan, memberikan gigitan demi gigitan kecil di puncaknya. Satria merasa bersemangat. Sebab, jika ada wanita yang dia bawa ke kamarnya tentu adalah Indi. Sebelumnya tidak pernah ada yang lain.


Usai itu, invansi terus berlanjut. Dia membuai istrinya dengan sapaan lidahnya, menerobos dan memberikan usapan syarat akan godaan di bibir cawan surgawinya. Sensasinya selalu luar biasa, tapi Indi berusaha menahan diri untuk tidak bersuara terlalu keras. Indi sadar bahwa sekarang mereka berada di rumah mertuanya.


Satria juga akhirnya tidak ingin berlama-lama. Merasa bahwa milik. istrinya sudah basah dan siap, dia mulai menyatukan dirinya perlahan. Sensasinya sama dahsyatnya. Erat, dan penuh cengkeraman. Satria sampai menggeram beberapa kali.


"Makasih, Sayang. Kenangan ini ... sangat indah," kata Satria dengan terus bergerak.


Ritme yang dilakukan Satria pun terasa berbeda. Ada kalanya pria itu bergerak cepat, ada kalanya lembut, ada kalanya diam dengan memberikan jeda. Indi merasa tidak bisa berkata-kata lagi. Dia terlena. Dia merasakan bagaimana suaminya yang makin pro tiap harinya.


Beberapa saat lamanya Satria memandu. Dia merasakan dirinya sekarang sudah berada di ambang batasnya. Dirinya nyaris meletup sekarang. Oleh karena itu, Satria mempercepat gerakannya. Ada desakan, hujaman, tusukan, yang menciptakan gerakan seduktif yang sangat melenakan.


"Oh, aku sampai ...."


Satria menggeram sekarang. Dia sudah tidak bisa lagi menahan. Sampai pada akhirnya, pria itu merasakan tubuhnya bergetar dan kemudian rubuh di atas tubuh istrinya. Luar biasa sekali rasanya. Ledakan dahsyat. Andai itu adalah teori big bang, pastilah Satria sudah berhamburan di angkasa.


Ada ledakan, tapi tidak berbahaya. Ada letupan, tapi sangat indah. Yah, itu yang Satria dan Indi rasakan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2