
Masih terkekeh geli, Satria melirik istrinya yang sangat cerdik itu. Tanpa Satria banyak berbicara dan membela Indi, rupanya sang istri sudah bisa memiliki perisai sendiri. Berjalan kian menjauh, akhirnya Satria bertanya kepada istrinya itu.
"Cerdik banget sih, Sayang," kata Satria.
"Aku tahu pria itu seorang pengusaha di Solo, Mas. Perusahan miliknya pernah order seragam batik di tempat Bunda. Kan aku cuma membalas saja. Habis Karina merendahkan aku terus," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Dia juga tahu dan mendengar sendiri bagaimana Karina selalu merendahkan Indi setiap kali bertemu. Satria juga tidak suka istrinya terus-menerus direndahkan, tapi rupanya Indi sangat cerdik dan juga bisa membela dirinya sendiri.
"Sambil makan yuk, biar bisa sambil istirahat dulu," kata Satria.
Akhirnya, Satria mengajak istrinya ke restoran terlebih dahulu. Pepper Lunch adalah tempat makan yang mereka pilih. Menikmati makanan lezat, sembari bercerita berdua.
"Kata Ayah, jangan biarkan dirimu direndahkan orang lain. Dengan syarat selalu kamu benar dan tidak memulai duluan. Kalau kamu salah, ya lapang hatilah untuk meminta maaf. Kan selama ini, Karina duluan yang sinis ke aku, Mas," cerita Indi.
Indi menjelaskan kepada suaminya, kalau selama ini memang Karina yang merendahkan Indi terlebih dahulu. Sehingga, Indi berusaha membalikkan keadaan. Tidak ada maksud apa-apa.
"Ya, iya aku tahu. Padahal dulu itu Karina baik loh, kok sekarang malahan bisa kayak gitu. Kami kan berteman lama, jadi ya aku kenal baik. Masak yah, sampai jalan dengan pria bersuami," kata Satria.
Indi menganggukkan kepalanya, dia berusaha memahami bagaimana dulu suaminya dan Karina memang berteman sejak kecil. Jadi, tentu Satria sangat tahu bagaimana Karina dulunya.
"Pernah enggak Mas Satria naksir dia?" tanya Indi.
Menurut Indi dengan hubungan pertemanan yang lama mungkin saja dulu ada perasaan suka di antara keduanya. Hanya sebatas ingin tahu saja. Walau jujur, rasanya tidak nyaman jika saja Satria memiliki perasaan dulunya.
"Enggak ... biasa saja, Sayang. Yah, cuma temen," jawab Satria.
__ADS_1
"Oh, temen ... kirain pernah suka. Ya, kan dia cantik," balas Indi lagi.
"Cantikan kamu kemana-mana. Paling cantik di hatiku," balas Satria.
Indi tersenyum mendengarkan jawaban dari suaminya. Entah sekadar merayu atau apa, Indi memilih mempercayai ucapan suaminya. Setelah itu, Indi memilih untuk menghabiskan makanannya dulu mumpung masih dingin.
"Sini, buka mulutnya, aku suapin, Roro Ayu," kata Satria.
"Malu, Mas," balas Indi.
"Tidak apa-apa. Udah cantik, cerdik, keren lagi. Luar biasa kamu, Sayang. Tanpa menguasai jurus bela diri, tapi kamu bisa melindungi diri kamu sendiri," puji Satria.
Indi tersenyum dan menatap sekilas suaminya itu. "Sudah, jangan memuji-muji terus. Kepalaku tambah besar nanti. Aku biasa saja kok, Mas. Ya, kalau aku salah yah aku akan legowo minta maaf. Namun, jangan berusaha menginjak-injak diriku dengan berbagai hal remeh temeh. Sebelum merendahkan orang lain, instropeksi diri dulu sudah bagus dan lurus belum. Benar yah uwong kang urip itu sawang-sinawang. Kita tidak bisa melihat diri sendiri, lebih mudah melihat orang lain," kata Indi.
“Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang” yang artinya kurang lebih yaitu “Hakekat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang/melihat sebuah kehidupan". Akan tetapi, manusia lebih banyak melihat orang lain. Membandingkan apa yang mereka punya, sementara kita tidak. Terselip rasa iri akan jalan mereka yang lurus, sedang jalan kita berputar-putar penuh liku. Maka dari itu, penting untuk melihat diri sendiri, memperbaiki diri, dan tentunya terus bersyukur untuk apa yang kita miliki.
Di Area Berbeda ....
Karina menunjukkan ekspresi dan gestur tubuh yang berbeda. Jika tadi dia bergandengan dan lengket dengan pria yang bersamanya. Sekarang, Karina marah karena pria itu seolah menipunya.
"Kok jadi cemberut sih usai bertemu temen kamu tadi?" tanya pria itu.
"Jawab pertanyaanku, bener kamu adalah pria yang sudah beristri?" tanya Karina sekarang.
Tidak memberikan jawaban, pria yang berprofesi sebagai pengusaha itu mengajak Karina menuju ke hotel tempat mereka cek in semalam. Sebatas informasi memang Mall itu terhubung dengan hotel dan apartemen. Sehingga tidak perlu kemana-mana, sudah terhubung.
__ADS_1
Di dalam kamar hotel itu, Karina masih saja cemberut. Dia menunggu jawaban pria yang sudah menghabiskan beberapa malam bersamanya.
"Siapa yang memberitahumu kabar itu?" tanya si pria.
Karina kemudian menunjukkan hasil screenshot dari berita yang dia dapatkan di mesin pencarian. Dengan bukti digital itu, si pria tidak bisa lagi mengelak.
"Semua sudah jelas. Di mana saja pria selalu brengsek!"
Pria itu kemudian tersenyum dan membelai sisi wajah Karina. "Pria bisa mencari kenikmatan bahkan di luar rumah. Termasuk aku menikmati malam-malam bersamamu. Walau kamu sudah tidak orisinil sejak awal," kata pria itu lagi.
"Brengsek! Terbiasa dimasuki bule pasti kamu gak akan pernah puas, Babe. Aku yang bisa memberikannya. So, kita impas bukan. Aku mencari kenikmatan selama istriku masa nifas, dan kamu mendapatkan kenikmatan dariku. Impas. Kita sama-sama membutuhkan. Simbiosis mutualisme yang berhasil dan sebanding pastinya."
Karina kesal kala pria itu menyebut-nyebut tentang masa lalunya. Benar, Karina sudah merasakan kenikmatan seperti itu sebelumnya. Kala dia masih tinggal di Belanda. Kekasihnya waktu itu yang berkewarganegaraan Belanda yang kali pertama melakukannya. Untuk orang Barat, melakukan hubungan layaknya suami istri sah-sah saja. Tidak terikat dalam pernikahan pun tidak menjadi masalah. Akan tetapi, budaya itu tidak relevan dengan budaya negeri kita.
"Aku tidak mau lagi," kata Karina sekarang.
Pria itu pun menyeringai dan menunjukkan video yang dia ambil kala bermain dengan Karina. Tidak hanya lekuk tubuh, wajah Karina juga terpampang di sana. Sementara pria itu tidak terlihat sama sekali wajahnya.
"Sayangnya, kamu gak terlalu smart, Babe. Kalau aku keluarkan video ini, bisa jadi Karina 47 detik dong," kata pria itu dengan tersenyum culas.
"Brengsek kamu!"
Lagi Karina mengumpat pria culas yang sudah menikmati tubuhnya itu. Terlebih ketika ada video yang ternyata direkam oleh partnernya itu. Suka atau tidak suka Karina harus bertahan supaya video itu tidak disebarluaskan. Sebab, jika sampai video yang katanya berdurasi 47 detik itu tersebar, hancur sudah nama, derajat, dan usaha bisnis Papanya. Nama Atmaja bisa tercoreng jika sampai video itu tersebar.
"So, kamu akan selalu bersamaku, Babe Karin ... bukan hanya kenikmatan, secara materi juga akan aku berikan."
__ADS_1
Baru saja tadi Karina kesal dengan Indi dan tidak bisa melakukan perlawanan. Sekarang pun sama, Karina tidak bisa memberikan perlawanan. Dia harus mencari cara menghapus video itu terlebih dahulu, setelahnya Karina akan meninggalkan pria culas itu.