Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Bertemu Karina Lagi


__ADS_3

Sepekan kemudian saat akhir pekan tiba, Satria mengajak Indi ke supermarket untuk berbelanja bulanan. Semua itu juga karena beberapa sabun, pewangi, dan beberapa bahan lainnya di rumah habis. Sehingga, Satria mengajak Indi berbelanja ke supermarket.


"Kita berbelanja bulanan yah, Sayang ... banyak sabun dan perlengkapan rumah tangga lain yang habis," ajak Satria kepada istrinya.


"Iya, Mas ... kebetulan shampoo dan beberapa perlengkapan untuk mandi juga habis," balas Indi.


Setelah itu, keduanya menuju ke supermarket yang berada di salah satu mall terbesar di Jogjakarta. Menurut Satria, nanti usai berbelanja bisa mengajak Indi makan siang bersama sekaligus. Oleh karena itu, Satria memang sengaja berbelanja di salah satu supermarket yang ada di Mall saja.


Begitu sudah tiba di supermarket, Satria tampak mengambil trolli. Dia berjalan di belakang istrinya yang seolah memandu untuk berjalan dan memilih untuk membeli bagian apa dulu.


"Untuk pel lantai, Yang ...."


"Aku ganti aromanya ya, Mas. Yang lebih segar yah?"


"Bumil pasti enggak cocok dengan aromanya yah?" tanya Satria.


"Bukan enggak cocok, bosan saja sama aroma buah. Ganti aroma bunga boleh enggak?" tanya Indi, dia sudah membawa pembersih pel dengan aroma bunga. Mungkin saja jika mencoba aroma bunga akan lebih wangi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh saja, Sayangku. Yang penting jangan mengepel lantai loh, itu pekerjaan yang berat. Biar aku saja," balas Satria.


"Kayak Yayah banget sih, Bunda juga gak dibolehin mengepel lantai. Urusan lantai, selalu menjadi tugasnya Yayah," cerita Indi.


"Berat, Sayang ... apalagi ada Adik Bayi di rahim kamu. Biar Papa aja yang kerjakan semuanya," kata Satria.

__ADS_1


Dari memilih pembersih lantai, kemudian mereka menuju ke barang lainnya. Biasa, berbelanja bulanan pun seorang istri itu selektif dan sembari melihat-lihat entah itu edisi terbaru atau harga yang didiskon. Indi pun juga sama.


"Jadi kayak Groceries Date," kata Satria.


Mendengar apa yang disampaikan Satria, Indi melirik suaminya itu perlahan. Biasanya, orang-orang di luar negeri sering berkencan di supermarket atau groceries. Sembari berbelanja, mereka mengobrol, bergandengan tangan, atau menunjukkan bentu perhatian yang lainnya. Satria menganggap ini adalah bentuk Groceries Date dengan istrinya sendiri.


"Kayak artis-artis Korea yah Mas?" tanya Indi.


"Iya, ngedate di supermarket. Suami istri kan ngedate juga boleh," balas Satria.


Usai itu, Indi tersenyum lagi. Mumpung hanya masih berdua dengan suaminya. Nanti kalau sudah memiliki bayi, pastilah akan semakin repot untuk berbelanja bulanan. Justru bisa-bisa, hanya suaminya sendiri yang belanja bulanan nanti.


"Mumpung masih berdua, dipuasin ngedate sama Mas Satria dulu. Nanti kalau sudah ada Babies, jadi agak berkurang waktunya," kata Indi yang tiba-tiba bergelayut manja di lengan suaminya itu.


Sembari membayangkan semua itu membuat Satria bahagia. Dia ingin menikmati kehidupan rumah tangga bersama dengan Indi dan anak-anaknya saja. Sebab, semuanya adalah momen yang berharga, dan Satria tidak ingin kehilangan semua kesempatan itu.


"Siap, Mas ... dan yang kita beli jadi semakin banyak yah, perlengkapan babies juga," balas Indi.


Menyusuri Supermarket hingga akhirnya, Indi dan Satria bertemu dengan Karina lagi. Ini terbilang lama, sejak Indi dan Satria usai menggelar resepsi di Solo dulu. Indi bertemu dengan Karina dengan seorang pengusaha muda yang cukup memiliki nama, tapi sekarang Karina hanya sendiri.


"Wah, ketemu sama pasangan hits pabrik jamu," sapa Karina dengan menatap sinis Indi dan Satria.


"Wah, ketemu Mbak Karin," balas Indi.

__ADS_1


"Kenapa, Rin? Kok sendirian ... enggak ditemenin pengusaha itu?" tanya Satria.


"Apa-apaan sih, Sat ... loe ikut-ikutan istri loe?" tanya Satria.


"Lah, kan fakta. Kemarin ditemenin Mas Pengusaha. Hari ini, dianter sapa Rin?"


Satria sengaja mengatakan demikian. Sekarang, untuk Satria ketika ada pihak yang mencoba mengusik Indi, itu artinya juga mengusik dirinya. Sehingga, Satria juga siap menjadi tameng untuk istrinya sendiri.


"Gak ada," balas Karina menunjukkan sikap sewot.


"Lanjut aja yuk, Mas ... dibayar dan kita makan yah," ajak Indi kemudian.


Karina tampak menatap Indi dengan pandangan yang tidak suka. "Loe temennya pengusaha itu yah?" tanya Karina.


"Enggak tuh, kenapa? Istrinya udah tahu kalau suaminya main belakang? Cepat bertobat, Rin ... merusak pagar ayu tidak ada faedahnya. Justru berdosa loh," balas Indi.


Indi hanya sekadar mengingatkan. Selain itu, andai Karina mau memperbaiki diri itu jauh lebih baik, daripada menjadi wanita yang merusak kehidupan rumah tangga wanita yang lain. Sebab, jika Karina mau sadar dan bertobat, masih ada waktu. Pintu tobat itu akan dibukakan Allah selebar-lebarnya.


"Gak usah sok ngasih tahu," balas Karina.


"Ya, terserah aja. Aku hanya ngasih tahu kalau mau bertobat, Allah bukain pintu selebar-lebarnya kok ... gak perlu menunggu waktu. Hari ini kamu sadar dan tobat, ada pengampunan kok," balas Indi.


"Males. Urusin diri loe sendiri!"

__ADS_1


Karina memilih pergi. Dia tidak suka dengan Indi yang berusaha memberitahunya. Baginya, jalan Karina terlanjur sudah begini adanya. Toh, ada juga keuntungan ketika dia menjadi simpanan pengusaha itu.


__ADS_2