
Hari ini adalah hari yang sudah direncanakan oleh Ayah Pandu dan Bunda Ervita untuk mengajak keluarganya menikmati family Staycation bersama selama tiga hari. Kebetulan ada tanggal merah, sehingga bisa dimanfaatkan Satria juga untuk mengambil cuti cukup hanya sehari.
Sebuah hotel di area Kaliurang, dengan view Gunung Merapi yang dipilih oleh Ayah Pandu. Sebab, Ayah Pandu memahami Irene yang selama ini tinggal di kota Metropolitan membutuhkan healing. Dekat dengan alam dan juga merasakan udara sejuk di kaki gunung akan lebih bagus untuk Irene.
"Makasih ya Yah dan Nda, Irene beneran diajak healing," kata Irene yang merasa sangat senang.
"Sama-sama, Dek. Nanti kalau sudah kembali ke Jakarta pasti akan kembali ke rutinitas dengan kemacetan dan polusi udara," kata Ayah Pandu.
"Di Jakarta pekan lalu dibuat hujan buatan kok, Yah. Kondisi udaranya sudah jelek, terus ada beberapa ASN yang bekerja dari rumah, ya setidaknya langit Jakarta lebih biru," cerita Irene.
"Kalau keluar lebih baik menggunakan masker, Rene. Menjaga kesehatan, paru-paru kita juga lebih sehat," kata Bunda Ervita.
Irene kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Nda. Di sekolah selalu memakai masker. Apalagi kita pengajar harus menjadi contoh untuk anak-anak. Gurunya memberi perintah supaya anak-anak menggunakan masker, masak kita enggak memakai. Jadi, dimulai dari gurunya dulu," cerita Irene.
Memang begitulah seorang guru yang baik, mereka bukan hanya sekadar memberikan perintah, tapi juga memberikan teladan untuk murid-muridnya. Sama seperti perintah menggunakan masker, setiap guru harus memakainya terlebih dahulu. Apalagi anak-anak TK berada di tahap imitatif, mereka akan menirukan sosok atau perilaku yang sering mereka lihat sehingga banyak juga anak-anak di usia TK atau PAUD akan menirukan gurunya.
"Murid-murid memanggil kamu apa, Dek?" tanya Ayah Pandu.
"Manggilnya Miss Irene, Yah," jawabnya dengan tertawa.
Kalau di Jogjakarta mungkin para guru hanya akan dipanggil Bu Guru atau Pak Guru, tapi di tempat Irene mengajar para pengajarnya akan dipanggil Miss dan Mister. Oleh karena itu, Irene pun juga dipanggil Miss oleh murid-muridnya.
"Sekolah internasional juga, Dek. Lazim kalau dipanggil Miss. Miss Irene," kata Ayah Pandu.
Jujur ada kebanggaan dalam hati Ayah Pandu. Menjadi seorang guru atau seorang pengajar adalah profesi yang mulia, mereka mengemban tugas untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Oleh karena itu, Ayah Pandu bangga dengan pencapaian Irene.
"Ayah pasti bangga," kata Indi sekarang. Setelah cukup lama terdiam dan mendengarkan perbincangan orang tua dan adiknya.
"Yayah selalu bangga denganmu dan adikmu, Mbak Didi. Kalian berdua di mata dan hati Yayah itu sama," balas Ayah Pandu.
__ADS_1
Indi menganggukkan kepalanya. Dia sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yayahnya. Dia juga sangat yakin jika ada orang yang tulus, itu adalah Ayah Pandu.
"Tidak ingin mengambil S2, Rene?" tanya Satria sekarang.
"Pengen sih, Mas ..., cuma kayaknya enggak sekarang. Mencari pengalaman dulu supaya ilmunya mengendap dan bermanfaat dulu, Mas. Kalau mengambil S2, pengennya ya ke Jogja lagi sih," balas Irene.
"Kalau untuk jenjang profesi sebagai pengajar, lebih baik melanjutkan S2 deh, Dek. Kita tidak pernah tahu dengan masa depan, siapa tahu kamu memiliki jenjang karir yang lebih baik," kata Indi.
"Benar sih, Mbak. Cuma sekarang, aku fokus bekerja dulu saja sih," balas Irene.
"Yang dikatakan Mbak Didi benar, Dek. Untuk jenjang karir sebagai pengajar memang lebih baik melanjutkan S2. Kapan pun kamu mau, kamu siap untuk S2 bilang saja. Yayah siap untuk membiayai kamu," kata Ayah Pandu sungguh-sungguh.
Irene kemudian menganggukkan kepalanya. "Makasih, Yah. Yayah selalu mendukung Irene. Terima kasih banyak," balas Irene.
"Tuh, lanjut gih S2. Mending yah, Dek ... selesaikan pendidikan dulu, baru deh nanti menikah. Setidaknya kita sudah membekali dengan ilmu yang tinggi. Tidak salah kok ketika seorang wanita berpendidikan tinggi. Ilmu itu berguna untuk anak-anak kita juga. Cara pandang kita terhadap masalah, cara kita untuk memecahkan masalah atau menemukan problem solving akan berbeda kok," balas Indi.
"Begitu yah, Mbak?"
Irene tersenyum. Kakaknya itu selalu saja menginspirasi. Memang benar, dan melanjutkan S2 ada dalam rencana Irene, walau belum sekarang. Sebab, sekarang Irene ingin fokus mengajar terlebih dahulu.
Banyak pembicaraan yang dibahas mereka bersama. Hingga akhirnya mereka berjalan-jalan mengelilingi area hotel. Tampak Irene menggendong Nakula sekarang. Waktu liburan ini juga dimanfaatkan oleh Irene untuk bonding dengan keponakannya.
"Nanti kamu capek loh, Dek," kata Indi.
"Tidak apa-apa, Mbak. Sekarang, aku tidak bisa memiliki banyak waktu dengan Nakula dan Sadewa. Mumpung baru liburan. Kangen loh, Mbak."
"Nanti kalau adiknya Nakula dan Sadewa lahir pasti kamu gemes," balas Indi.
"Iya, dan membuat aku pengen pulang ke Jogja nanti. Semoga saja waktunya baik yah, Mbak. Kalau tidak bisa pulang, maaf banget yah, Mbak."
__ADS_1
Dengan cepat Indi menganggukkan kepalanya. "Santai saja. Sudah tidak usah dipikirkan. Yang pasti nanti kami akan menghubungi kamu," balas Indi.
"Siap, Mbak. Aku tunggu kabar baiknya nanti."
Setelah itu di taman yang sejuk dan seolah berpilarkan Gunung Merapi, Irene mengajak bermain kedua keponakannya. Selain itu, Irene memotret Nakula dan Sadewa. Dia sangat kangen dengan keponakannya. Indi sendiri memang mengurangi untuk menggendong Nakula dan Sadewa supaya perutnya tidak tertekan.
"Aktif banget sih," kata Irene dengan mengikuti keponakan kembarnya itu.
"Memang sangat aktif kok, Dek."
"Mbak Didi bisa kelelahan dong kalau kayak gini?"
"Enggak begitu. Kalau sama Mamanya di rumah, Nakula dan Sadewa lebih anteng kok," aku Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, kalau sama Mamanya lebih anteng. Kasihan Mamanya juga kalau Nakula dan Sadewa lari-larian," balas Satria.
"Mas, kamu mirip Yayah banget sih selalu memikirkan istrinya. Ya ampun, aku pengen punya suami yang pengertian gitu. Seneng kan kalau cewek diperhatikan," balas Irene tiba-tiba.
"Yayah dan Nda doakan, Rene. Semoga doamu dijabah Allah. Diberikan suami yang baik, sebaik Yayahmu," kata Bunda Ervita.
"Aamiin ... Aamiin."
Bunda Ervita mengatakan itu dengan jujur. Dia berharap putrinya pastinya juga memiliki pasangan yang baik dan pengertian nantinya. Semua ibu pastinya mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya supaya mendapatkan jodoh yang sepadan dan seimbang.
Sembari mengobrol, tiba-tiba handphone Irene berdering. Terlihat ada panggilan video di sana. Kebetulan Bunda Ervita sedang melihat layar handphone milik Irene.
"Siapa yang videocall, Rene?" tanyanya.
Irene mengambil handphonenya dan melihat siapa yang melakukan panggilan video. Sebelum menerimanya, Irene meminta izin untuk menerima panggilan video terlebih dahulu. Kemudian Irene berjalan agak menjauh.
__ADS_1
Siapa sebenarnya yang menelpon Irene sekarang? Sebab, Bunda Ervita ingin tahu siapa yang melakukan panggilan video, karena biasanya mereka yang melakukan panggilan video memiliki hubungan yang akrab.