
Selang Dua Hari Kemudian ....
Satria kini mengajak Indi untuk memeriksakan kandungannya. Menurut Satria sendiri memang lebih baik segera memeriksakan kandungan supaya mengetahui berapa usia kehamilan istrinya sekarang. Selain itu, janin juga segera diketahui kondisinya apakah berkembang sempurna. Dengan begitu, ketika terjadi tanda-tanda yang kurang baik, maka bisa segera ditangani Dokter dengan baik.
"Kamu yang mau periksa kok aku yang deg-degan yah, Sayang," kata Satria.
Jujur Satria memang begitu deg-degan. Dia takut kalau terjadi yang di luar ekspektasinya. Terlebih, Satria membaca bahwa Trimester pertama itu riskan. Janin bisa tidak berkembang, terjadi bligthed ovum dan sebagainya. Oleh karena itu, Satria merasa sangat gugup sekarang.
"Kok lucu, Mas? Aku saja yang hamil malahan lebih santai," balas Indi.
"Iya loh, aku gugup banget."
Saking gugupnya, kening Satria sangat berkeringat. Selain itu, Satria juga merasa takut saja. Sementara Indi memang bersikap sewajarnya. Satria juga sampai heran kenapa istrinya itu santai. Bahkan, Indi juga tidak menunjukkan gejala awal kehamilan. Istrinya itu sangat-sangat sehat malahan.
"Kok bisa sih kamu santai banget. Apa dulu Bunda waktu hamil juga sehat banget kali yahh? Jadi kamu gak terlihat seperti orang hamil, Sayang," tanya Satria.
"Bunda yang pas hamil aku juga mual dan muntah parah kok, Mas. Untung aja Yayah Pandu. Walau dulu, keduanya rekan berjualan batik, tapi katanya Bunda, Yayah yang sering memberikan inhaler dan minyak kayu putih gitu untuk Bunda," cerita Indi.
Setelah mengetahui cerita Bundanya waktu hamil dirinya. Ada kalanya Indi menjadi begitu terharu. Indi sendiri merasa tidak mudah untuk hamil seorang diri, tanpa adanya suami dan keluarga. Terlebih berada di Jogjakarta ini, Bunda Ervita sendiri. Seperti tengah berada di dalam pelarian. Akan tetapi, baiknya Allah yang mempertemukan Bunda dengan keluarga yang baik yaitu keluarga Hadinata. Terlebih Indi juga mendengarkan cerita bagaimana dulu Eyang Putri dan Eyang Kakungnya yang sangat membantu Bundanya.
"Kalau menceritakan Bunda, kamu kayak mau nangis deh," balas Satria.
"Tidak mudah hamil seorang diri kan Mas? Bunda masih muda banget waktu itu. Tidak ada suami, tidak ada orang tua, tidak ada keluarga. Membayangkannya saja sedih banget. Padahal kan waktu melahirkan itu seorang wanita benar-benar butuh suaminya. Akan tetapi, Bunda tidak pernah mendapatkan semuanya itu," balas Indi.
"Namun, Bunda berhasil melahirkan Roro Ayu seperti kamu. Putri yang bisa membanggakan Ayah dan Bunda. Bisa menjaga diri dengan baik," balas Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Makanya aku bersyukur waktu putus dari Yudha. Kalau tidak putus, enggak tahu apa jadinya aku, Mas."
Sekarang Indi mengatakan lagi bahwa putus dari Yudha adalah hal yang dia syukuri. Jika tidak, bisa saja nasibnya tidak akan jauh beda dari Bundanya. Bisa-bisa Indi menjadi Ibu Tunggal juga di usia belia, seperti Bunda Ervita.
"Allah menunjukkan dengan cara yang tepat, Sayang. Walau yah, melukai kamu," balas Satria.
Cukup lama keduanya mengobrol sembari menyusuri jalanan di Kota Gudeg sewaktu malam itu. Hingga, akhirnya sekarang Indi dan Satria sudah tiba di sebuah Klinik Dokter Arsy. Yah, di klinik inilah Indi dan Satria akan memeriksakan janinnya.
"Yuk, kita masuk ke dalam," ajak Satria.
__ADS_1
Satria sendiri yang mendaftarkan Indi. Pria itu benar-benar menjadi sosok suamiable yang melakukan banyak hal untuk Indi. Sekadar mendaftarkan saja, Satria yang melakukannya.
"Sayang, tolong isi dulu. Yang lainnya sudah aku isi. Ini dibagian hari pertama dan hari terakhir menstruasi," kata Satria.
Indi tersenyum melihat tulisan tangan suaminya di sana. Nama lengkap, alamat, tanggal lahir, hingga nomor handphonenya sudah Satria isikan semua. Hanya bagian itu saja yang belum diisi Satria karena Satria juga tidak tahu.
"Sebentar, aku cek kalenderku dulu, Mas," jawab Indi.
Satria memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Terlihat sekarang dia turut menengok aplikasi kalender di handphone istrinya. Rupanya ada aplikasi pencatatan masa haid yang ada di handphone Indi. Setelah itu, Satria tersenyum, dia tidak mengira ada aplikasi seperti itu juga.
"Ada yah, aplikasi begituan," kata Satria.
"Ada, Mas. Sekarang kan, The World is Apps, Mas. Semuanya hadir dalam bentuk aplikasi. Maka dari itu, konsultan milik Yayah pun ada aplikasinya," jelas Indi dengan menunjukkan sebuah aplikasi digital di handphonenya.
Wah, Satria baru tahu. Tidak menyangka bahwa penjelasan Indi ini membuka wawasannya. Membuat Satria ingin melakukan terobosan dengan Pabrik Jamu milik Ramanya.
"Mom Indira," panggil seorang perawat.
Indi pun maju dan menitipkan sling bagnya kepada suaminya. Rupanya Indi ditimbang dulu berat badannya dan juga ditensi tekanan darahnya. Setelah itu, ada beberapa pertanyaan juga dari perawat di sana.
"Halo, selamat malam. Dengan Mom Indira yahh? Perkenalkan saya Dokter Arsy," sapa ramah seorang Dokter wanita yang adalah spesialis Obgyn itu.
"Selamat malam, Dokter. Saya Indira dan ini suami saya," balas Indi.
"Yah, baik. Jadi, bagaimana Mom Indira sudah melakukan testpack sebelumnya? Positif yah? Dua garis," kata Dokter Arsy.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Hasil testpacknya memang positif, Dokter. Maka dari itu, kami ingin memeriksakan kondisi janinnya," balas Indi.
"Baiklah, Mom. Silakan naik ke brankar yah. Kita lakukan USG Transvaginal," kata Dokter Arsy.
Melihat transducer yang besar dengan panjang hingga 13 centimeter itu membuat Indi merasa ngeri. Indi tahu bahwa transducer itu yang akan dimasukkan ke dalam inti sari tubuhnya.
"Dok, saya takut tuh," balas Indi.
"Tidak apa-apa, Mom. Tidak sakit kok. Justru kalau Trimester awal disarankan karena transducer ini bisa melihat hingga ke rahim," balas Dokter Arsy.
__ADS_1
Akhirnya seorang perawat membantu Indi. Kemudian bagian transducer diberikan gell usg kemudian perlahan-lahan Dokter Arsy memberikan instruksi kepada Indi.
"Pelan-pelan saya masukkan yah, Mom. Tahan napas ... tolong jangan berpikir yang aneh-aneh," kata Dokter Arsy.
Akan tetapi, ketika transducer itu masuk rasanya sangat tidak nyaman. Sedikit sakit rasanya. Namun, bagaimana lagi kalau itu adalah instruksi dari Dokter.
"Nah, terlihat di monitor yah, ini adalah rahimnya Mom Indira. Rahim ini nanti yang akan menjadi tempat tumbuh kembang janinnya, lalu titik kecil ini embrionya. Selamat, Mom ... Benar-benar positif hamil," kata Dokter Arsy.
Mendengarkan bahwa di dalam rahimnya benar-benar sudah ada kehidupan baru membuat Indi dan Satria sangat bersyukur. Keduanya memang tak menunda kehamilan, sehingga sekarang ketika mengetahui ada embrio di dalam sana membuat keduanya benar-benar bersyukur.
"Alhamdulillah," kata Satria.
"Apa Mom Indira memiliki keturunan kembar?" tanya Dokter Arsy sekarang.
Indi menggelengkan kepalanya. Setahunya dari Bunda Ervita sendiri tidak ada yang kembar. Lalu, apa maksud pertanyaan dari Dokter Arsy itu?
"Setahu saya sih tidak ada yah, Dokter. Apakah ada masalah?" tanya Indi.
"Kalau masalah sih tidak, Mom. Hanya saja, Mom tengah hamil bukan hanya satu embrio, tapi ada dua embrio sekarang," kata Dokter Arsy.
Sekarang Indi benar-benar berlinang air matanya. Dia tak mengira bahwa Allah begitu baik padanya dengan mengaruniakan dua embrio tumbuh di dalam rahimnya.
"Bisa dilihat, ini ada dua embrio yang berenang-renang di dalam rahimnya Mom Indira. Selamat yahh."
Mengakhiri pemeriksaan dengan USG ada beberapa lembar print USG yang diberikan oleh Dokter Arsy dan ditempelkan di dalam buku konsultasi. Indi masih menangis, begitu terharu rasanya. Dia sendiri masih tidak percaya.
"Kok bisa kembar yah, Dok?" tanya Indi bingung.
"Coba ditanyakan kepada Ibundanya ada kerabat atau saudara Ibunya yang memiliki keturunan kembar tidak. Ibundanya mungkin tidak, tapi ada saudara atau kerabat yang memiliki. Biasanya ini dari genetik Ibu, Mom."
Mendengar penjelasan Dokter Arsy, saat memberitahukan kabar bahagia ini tentu Indi akan bertanya kepada Bundanya. Setelah itu, Dokter Arsy pun menuliskan resep untuk Indi.
"Embrionya masih kecil yah, Mom. Masih tujuh minggu. Oleh karena itu, saya akan resepkan bukan hanya asam folat, tapi juga penguat janin yah," kata Dokter Arsy.
Indi menganggukkan kepalanya. Menerima dengan baik saja apa yang diresepkan sang Dokter. Selain itu, dengan dua embrio di dalam rahimnya, Indi juga akan lebih berhati-hati.
__ADS_1