Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tempo Sesingkat-singkatnya


__ADS_3

Selang beberapa jam kemudian Satria mengajak Indi untuk pulang ke rumah mertuanya. Sudah waktunya memandikan anak-anaknya. Oleh karena itu, Satria mengajak Indi untuk segera pulang.


Namun, sebelum pulang ada sebuah stand yang menjual Tahu Baxo khas Ungaran. Rasanya Indi ingin membeli camilan itu, sekaligus untuk oleh-oleh Ayah dan Bundanya di rumah.


"Mas, mau beli itu dulu boleh? Mau sekalian kasih oleh-oleh buat Ayah dan Bunda," kata Indi dengan menunjuk stand yang didominasi warna hijau itu.


Satria menganggukkan kepalanya. "Boleh saja kok, Sayang. Beli aja yang banyak, sekaligus disimpan di freezer. Buat camilan kita berdua," kata Satria.


Akhirnya Indi membeli hingga lima pcs Tahu Baxo itu. Nantinya akan diberikan Bundanya dua sebagai oleh-oleh. Satria kemudian buru-buru mengeluarkan dompetnya dan membayar yang dibeli istrinya.


"Yakin itu saja cukup?" tanya Satria.


"Iya, cukup kok, Mas. Mencukupkan diri dengan apa yang ada kan jauh lebih baik," balas Indi.


"Ya sudah, ngikutin istri aja," balas Satria.


"Makasih Mas Satria. Yuk, pulang kangen sama Nang-Nang," balas Indi.


Akhirnya dari kampus, mereka segera pulang ke rumah Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Menempuh perjalanan sore, melihat orang-orang yang sepulang kerja. Sehingga beberapa ruas jalanan di Jogjakarta memang lebih ramai.


Menempuh perjalanan beberapa puluh menit, sekarang mereka sudah tiba di kediaman Ayah Pandu. Turun dari mobil, rupanya Nakula dan Sadewa justru sudah mandi. Keduanya berlari ke arah Mama dan Papanya.


"Ma, Pa ...."


"Nang-Nangnya Mama sudah mandi yah? Cakep-cakep banget sih," balas Indi.


"Tadi pup, Mbak Indi. Jadi Nda mandiin sekalian. Pup aja bisa kompakan," balas Bunda Ervita.


"Maaf yah, Nda. Malahan ngerepotin Nda banget. Sampai harus bersihin pup," balas Indi.


Memang Indi merasa sungkan kalau sudah menitipkan anak, tapi anaknya justru pup. Itu artinya Bundanya akan lebih capek karena harus membersihkan pup dan kemudian memandikan Nakula dan Sadewa.


"Gak apa-apa. Udah terbiasa, Mbak. Dulu kamu dan Irene yang mengurus juga Nda sendiri. Sana kalian mandi dulu, baru megang Nang-Nang," kata Nda Ervita.


"Gak apa-apa emangnya, Nda?"


"Ya, gak apa-apa dong. Emangnya kenapa?"

__ADS_1


"Ini oleh-oleh sedikit, Nda. Tadi ada stand yang berjualan Tahu Baxo ini. Nanti biar Indi yang goreng, Nda. Kelihatannya enak makan Tahu Baxo pakai sambel kecap gitu," kata Indi.


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. "Wah, ini kesukaan Yayah kamu. Makasih yah."


Usai menyerahkan oleh-oleh itu, kemudian Indi dan Satria menaiki anak tangga menuju ke kamar Indi yang berada di rumah orang tuanya. Sementara Nakula dan Sadewa heboh bermain dengan Ayah Pandu di Pendopo.


"Mandiinnya gantian, Mas. Enggak enak sama Nda dan Yayah," kata Indi.


"Barengan aja kenapa, biar lebih cepat?" balas Satria.


"Masih sore, Mas. Gak enak loh, anak-anak kita diasub Yayah dan Nda, malahan kita mengunci diri di dalam kamar."


Satria kemudian mengunci pintu kamar istrinya itu. "Udah, ayuk. Cuma mandi aja kok."


Mandi bersama memang bisa meningkatkan keharmonisan. Sama seperti Satria yang ingin tetap harmonis tentunya bersama istri tercinta. Oleh karena itu, Satria segera menghidupkan shower, mengajak istrinya sama-sama berdiri di bawah guyuran air shower.


Satria pun menuangkan sabun mandi cair ke atas shower puff dan membantu menyabuni istrinya, menggosok punggungnya. Ah, meleleh Indi jadinya. Suaminya itu tipe yang sweet. Indi pun membalas dengan menggosokkan punggung suaminya. Seumur-umur menjadi suami istri, baru sekarang mereka mandi bersama di rumah orang tuanya. Biasanya selalu mandi bergantian.


Menyelesaikan mandi, Indi sudah mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba Satria mendekap istrinya itu dari belakang dan mengecup bahunya beberapa kali.


"Sayang, main sebentar yuk? Tempo singkat," kata Satria dengan tiba-tiba.


"Singkat aja. Sepuluh menit bisa kok," balas Satria.


Mungkin hasrat Satria sudah benar-benar memuncak sekarang. Terlebih sensasi usai mandi, tubuh lebih fresh dan lebih segar sehingga membuat Satria menginginkan hal yang lain. Bahkan dia menginginkan permainan singkat pun tidak menjadi masalah.


"Mas kan tahu, aku gak bisa kalau cepat-cepat dan deg-degan. Gak bisa menikmati. Wanita kan butuh waktu, Mas," balas Indi.


Wanita itu sekadar memberitahukan bahwa memang pria mungkin dalam waktu singkat dan cepat bisa menggapai puncak asmara. Berbeda dengan wanita yang harus mendapatkan kenikmatan secara bertahap. Tidak bisa jika langsung meledak.


"Bisa, yuk ... aku jamin."


Seakan tak menerima penolakan, Satria segera menarik istrinya itu ke ranjang. Tanpa ba bi bu, Satria segera menindih tubuh istrinya. Bibirnya segera menjatuhkan kecupan berpadu dengan hisapan di bibir istrinya. Rasanya selalu sama yaitu manis dan hangat. Dua rasa yang tidak pernah bisa Satria tolak. Melainkan selalu membuat Satria semakin mabuk.


Lidah Satria pun menelusup masuk guna memberikan godaan di rongga mulut istrinya yang hangat. Indi benar-benar berusaha memusatkan konsentrasinya walau susah. Hingga tangan Satria mengombinasikannya dengan remasan nakal di sekitar dada. Seketika Indi tersulut.


"Mas ... hh," peliknya lirih.

__ADS_1


"Ssshhh, jangan keras-keras, Sayang. Kedengaran Nda nanti," bisik Satria di telinga Indi. Tak hanya itu lidah Satria memberikan usapan basah di telinga istrinya. Membuat istrinya seketika terengah-engah.


Tidak mau membuang waktu, dan sekarang harus dalam tempo secepat-cepatnya. Satria menyelimuti tubuh istrinya. Lantas dia menyusup masuk, mengeksplorasi tubuh istrinya dengan begitu nakalnya. Hingga akhirnya Indi terengah-engah seolah kehabisan napas. Nakal sekali suaminya itu. Namun, Satria terus-menerus melakukannya berkali-kali membuat lembah di sana basah.


Ketika Indi sudah basah dan siap, Satria kemudian meminta istrinya untuk sekadar membasahi miliknya saja.


"Basahi saja, Sayang," katanya.


Indi bergerak dan membasahi yang diminta suaminya itu. Lantas, Satria mulai menyatukan diri, memberikan hujaman begitu tajam. Melesak dengan sempurna, hingga tercipta benturan di dalam rongga yang erat dan basah itu.


"Nikmat sekali Sa ... yang!"


Satria menghujam lagi dan lagi. Luar biasa rasanya. Walau waktunya sangat terbatas, tapi hasrat Satria bisa sebegitu cepatnya memuncak. Baru Satria melakukan tusukan terdengar ketukan dari pintu kamar Indi disertai panggilan.


"Mbak, Tahu baxo nya biar Nda yang goreng yah?"


Satria memberikan isyarat agar Indi menjawab. Tangannya bergerak memberikan isyarat itu. Bayangkan saja baru terengah-engah dengan napas yang tidak stabil, Indi harus memberikan jawaban.


"Ii... iya, Nda. Indi turun nanti, masih an ... tri mandi," balasnya.


Ya Tuhan, ini benar-benar hal yang gila. Baru kali ini bercinta dengan suasana yang tak kondusif sama sekali. Sementara Satria tersenyum, pria itu lantas mengangkat ibu jarinya.


"Good, Sayang. Oh, dahsyatnya."


Satria meracau dengan menghujam begitu dalam. Dia melakukan hentakan lagi. Hingga Satria benar-benar berpeluh. Baru sesaat tubuh yang fresh usai mandi dirasakan, sekarang sensasi yang dirasakan benar-benar berbeda.


Terdengar ketukan lagi di pintu dan suara Bunda Ervita lagi.


"Mbak, Nda sekalian buat sambal kecapnya yah. Kamu nanti kalau sudah turun yah."


"Hm, ya ... ya, Nda. Sebentar lagi."


Sungguh ini benar-benar gila, sementara Satria justru kian nakal di atasnya. Hujaman dan lesakannya kian menjadi-jadi. Indi sampai kesusahan mengarahkan konsentrasinya lagi.


Sekarang, Satria memacu dengan cepat, semakin cepat, dan tambah cepat. Hingga akhirnya, Satria benar-benar meledak sekarang. Tak ada lagi yang Satria tunggu dan tahan. Sensasinya memacu adrenalin. Hingga akhirnya pria itu rubuh dan memeluk istrinya dengan tubuh yang bergetar hebat.


Dahsyat.

__ADS_1


Mantap.


Itulah yang Satria rasakan sekarang. Indah, seindah kilauan di Swargaloka yang penuh dengan kemilau cahaya.


__ADS_2