Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Sensasinya Tiada Dua


__ADS_3

Tidak langsung untuk mandi, baik Indi dan Satria masih berusaha mendinginkan suhu tubuh keduanya dengan masih saling memeluk. Sementara Satria tersenyum puas beberapa kali. Dia sangat senang dengan keberanian yang Indi tunjukkan barusan.


"Luar biasa sekali, Sayang ... dahsyat," kata Satria.


Indi tersenyum malu, di pelukan Satria dengan selimut putih yang mengcover tubuh polos keduanya. Dia merasa sangat malu mana kala Satria berbicara seperti itu. Toh, Indi hanya berusaha berusaha menyenangkan suaminya saja.


"Aku tadi berterima kasih, beberapa pekan yang lalu kamu sudah merawatku sendiri sampai aku sembuh," kata Indi dengan suara yang sedikit serak karena tenggorokannya terasa kering.


"Aku tulus merawat kamu kok, Sayang. Nanti kalau mau hamil dan melahirkan, aku yang akan merawat kamu juga," kata Satria.


Indi mengurai dekapannya sesaat, dia menatap wajah suaminya yang tampan itu. Benarkah Satria mau merawatnya juga usai melahirkan nanti. Indi sampai menerka-nerka.


"Yakin, Mas? Walau nanti akan sangat lama memberikan jatah batin untuk kamu," balas Indi.


"Iya, yakin. Kita buktikan yah nanti. Aku yang akan merawat kamu. Gak perlu menunda kehamilan kan, Sayang? Sedikasihnya Allah saja kan?" tanya Satria sekarang.


Tampak Indi menganggukkan kepalanya. "Iya, boleh. Sedikasihnya Allah saja, Mas," jawab Indi.


"Penting kita berdua kerja keras dulu. Kamu mau menikmati bulan madu ke mana? Seperti yang kamu katakan dulu katanya kamu mau bulan madu setelah Oemah Jamu selesai. Sekarang kan sudah selesai semua. Jadi enggak bulan madu?" tanya Satria.


Indi barulah ingat bahwa dulu dia sempat berbicara demikian. Akan tetapi, bukankah keduanya sudah banyak mengambil cuti. Terutama kala Indi masih sakit mereka sudah mengambil cuti satu minggu sendiri.


"Anggap saja cuti sepekan ini sebagai bulan madu, Mas. Kan kita juga masih bekerja juga. Jadi, kita bulan madunya di Solo aja," kata Indi.

__ADS_1


Bukan marah, Satria justru tertawa. Sebab, istrinya berpikir terlalu sederhana. Hanya meminta bulan madu selama di Solo saja. Padahal, jika Indi menginginkan bulan madu ke tempat yang jauh pun tidak masalah untuk Satria. Ke mana tempat yang ingin Indi tuju, Satria siap mewujudkannya.


"Yakin, cuma pengen di Solo aja?" tanya Satria.


Pikir Satria agenda bulan madu biasanya jalan-jalan, wisata kuliner, dan yang tidak boleh dilewatkan adalah bercinta. Jika, Eyangnya Indi berasal dari Solo, itu artinya beberapa tempat pariwisata di kota ini sudah familiar untuk Indi. Begitu juga dengan kulinernya, pastilah tidak asing untuk Indi. Seketika, Satria berpikir kalau hanya di Solo, itu bulan madu, hanya liburan biasa saja.


"Jangan di Solo, Sayang. Kamu kan asli Solo. Aku ingin membawamu ke tempat-tempat yang indah," balas Satria.


"Kan enggak bulan madu gak apa-apa, Mas," kata Indi sekarang.


Satria mengangguk perlahan. "Yq sudah, kita di Solo tiga hari. Sisanya kembali ke Jogja saja. Di rumah kita sendiri. Namun, aku akan mengurungmu," balas Satria.


Mendengar kata dikurung membuat Indi bergidik ngeri membayangkannya. Indi kemudian bertanya lagi kepada suaminya. "Serem banget sih, dikurung mau ngapain Mas? Takut loh jadinya," balas Indi.


"Ih, takut deh," balas Indi.


"Mau yah ... kan kita juga mengambil cuti sepekan. Habis, kamu gak mau kemana-mana. Besok aja sudah cek out, Mas. Jadi, enggak nginep di rumah Rama dan Ibu semalam?" tanya Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Jadi, cuma kalau di rumah Ibu biasakan mencium aroma jamu yah, Sayang. Rumahnya kan dekat pabrik jamu. Selain itu, di rumah setiap hari pasti ada jamu juga," kata Satria.


Dari sini Indi memahami memang keluarga suaminya adalah pengusaha jamu, sehingga rumahnya juga sering beraroma aneka rempah untuk membuat jamu. Indi langsung membayangkan mungkin saja rumah suaminya itu dari Joglo, rumah adat khas Jawa, dan juga banyak aneka rempah di sekitaran rumah.


"Gak apa-apa. Kan pengen tahu rumah aslinya suamiku," balas Indi.

__ADS_1


"Boleh, cuma gak boleh kaget aja, Sayang," balas Satria.


Indi tersenyum, tentu dia tidak akan kaget. Justru akan menjadi pengalaman yang menyenangkan untuknya ketika bisa melihat rumah keluarga suaminya. Sama seperti suaminya yang dulu juga beradaptasi seminggu untuk tinggal di rumah keluarganya usai akad.


"Udah ah, diskusinya. Mau peluk lagi," kata Satria.


Usai itu Satria memeluk Indi dengan erat. Tangannya pun mengusapi lengan istrinya yang memang tak tercover apa pun. Bukan hanya lengan, tapi tubuh keduanya sama-sama dalam kepolosan mutlak. Hanya selimut putih saja yang mengcover tubuh keduanya.


Bahkan Satria kadang bertindak nakal karena tangannya mulai menjelajah ke sana ke mari.


"Mas, geli ... jangan," kata Indi.


"Duh, kayak gini sama kamu gak nahan, Sayang ... minta lagi yah? Nuansanya kayak malam pertama," balas Satria.


Indi seketika membelalakkan kedua matanya. Benar-benar tidak menyangka dengan permintaan suaminya itu. Baru setengah jam jeda, suaminya sudah meminta lagi.


Lebih dari itu, Satria membawa satu tangan Indi dan menyentuhkannya ke pusakanya yang sudah menegang. "Sudah bangun lagi dia ... mau lagi," kata Satria.


"Kok bisa sih? Kan baru selesai," tanya Indi dengan bingung.


"Ya, bisa ... kan dekat sama yang punya."


Lanjut? Atau Skip? 😅

__ADS_1


__ADS_2