
Seperti biasa, usai bercinta dan mereguk semua rasa yang indah, keduanya tak ingin cepat-cepat berlalu begitu saja. Satria sedikit mengurai pelukannya, dia rapikan rambut istrinya hingga memperlihatkan kening istrinya dengan buliran keringat yang menghiasi area kening itu. Lantas Satria mendaratkan kecupan di kening Indi.
"Luar biasa, Sayang. Seperti baru kali pertama," kata Satria.
Ucapan Satria itu membuat Indi malu. Masak Indi sendiri belum lama selesai bersalin, tapi suaminya mengatakan seperti baru pertama. Apakah tidak ada perubahan usai bersalin yang Satria rasakan?
"Apa iya, Mas?" tanya Indi lirih.
"Iya, kayak pertama kali kok. Cuma, ini lebih besar aja," kata Satria sekarang dengan membelai sejenak area dada istrinya. Tentu saja bagian dada itu lebih besar dan berisi, alasannya tentu karena ada kalenjar payu-dara yang menghasilkan laktosa dan menghasilkan ASI.
"Katanya usai memberikan ASI, bagian ini nanti bisa kempes dan tidak kencang lagi. Gak apa-apa kan Mas?" tanya Indi.
"Gak apa-apa, apa pun yang kamu miliki, aku selalu suka kok," balas Satria.
Indi tersenyum, wanita itu juga membelai sesaat rambut suaminya yang sedikit basah. Pelan-pelan Indi memajukan wajahnya dan mengecup bibir suaminya.
"Makasih, Mas," katanya.
"Untuk apa, Sayang?"
"Makasih sudah membesarkan hatiku, membuatku percaya diri. Tidak mudah bagi wanita yang usai bersalin kembali ke tubuh idealnya. Lipatan lemak di mana-mana, perubahan di area dada, dan sebagainya, tapi kamu menerimaku apa adanya. Jangan pernah mencari kenikmatan di luar rumah ya, Mas. Selalu jadikan aku ladang pahala untukmu," kata Indi.
Satria menganggukkan kepalanya, kemudian dia peluk tubuh Indi yang masih berada di pangkuannya itu. Satria berjanji dalam hatinya, tak akan pernah mencari kesenangan atau kenikmatan di luar rumah. Istrinya saja sudah terlalu pandai dan selalu bisa membuatnya terbang ke awan-awan walaupun tak bersayap.
"Mandi yuk?" ajak Satria kemudian.
__ADS_1
"Iya, mau sendiri-sendiri atau barengan?" tanya Indi.
"Barengan aja. Sudah lama. Empat bulan, sesekali."
"Agak cepat yah, Mas. Jaga-jaga kalau Nang-Nang kebangun," balas Indi.
Lucunya Satria, dia malahan berusaha berdiri dengan mempertahankan Indi dalam pangkuannya. Walau Indi meminta turun, tapi Satria tak menurunkan istrinya itu. Satria justru mengambil langkah dengan mantap memasuki kamar mandi. Kini, keduanya sama-sama mandi bersama. Berdiri di bawah shower box. Satria tersenyum cerah, akhirnya perpaduan yang indah membuat keduanya benar-benar mengunjungi Swargaloka yang indah dan penuh dengan cahaya.
Lebih dari lima belas menit keduanya menyelesaikan mandinya. Satria segera merapikan kamarnya, memunguti pakaian dan menaruhnya di tempat pakaian kotor. Sementara Indi mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Sebenarnya terasa dingin karena hujan masih begitu deras. Belum rambut Indi sepenuhnya kering, kedua bayinya sudah terbangun dan sama-sama menangis.
Satria sigap segera menggendongnya. "Kalian pinter banget sih, Mama dan Papa baru selesai baru bangun."
Akan tetapi, Nakula dan Sadewa masih menangis kencang-kencang. Akhirnya Satria menyerahkan kedua bayinya kepada istrinya.
"Mama, ada yang mau ASI ini, Ma," kata Satria.
Mendapatkan ASI, tangisan Nakula dan Sadewa pun langsung sirna. Keduanya seilah berlomba menghisap ASI untuk membasahi tenggorokannya dan juga mengisi lambungnya. Banyak terdengar suara menghisap ASI di tenggorokan kedua bayi itu.
"Pelan-pelan minumnya, Nang," kata Indi.
Satria sampai tertawa dan geleng-geleng kepala mengamati kedua bayinya yang sedang mendapatkan makanan pertamanya itu. Seakan Nakula dan Sadewa benar-benar berlomba untuk mendapatkan ASI. Hingga, Satria berceletuk.
"Untung tadi Papa gak ikut-ikutan loh," kata Satria.
"Sengaja Papa hindari yah tadi?" tanya Indi sekarang.
__ADS_1
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Kan pesannya Dokter dulu gak boleh di area dada. Nanti ASI bisa keluar kemana-mana, Sayang. Kerasa yah tadi?"
"Iya, sengaja. Kayak sengaja dihindari kok," balas Indi.
"Maaf Mama Indira ... nanti kalau aku terlalu nakal, ASI nya bisa menyembur ke mana-mana nanti. Bisa terjadi, Sayang."
Indi menganggukkan kepalanya, memang dia belum pengalaman karena belum tahu. Akan tetapi, Indi percaya dengan perkataan suaminya. Sebab, pasti Satria sudah membaca-baca dulu sebelumnya.
"Waktunya tepat banget yah. Pas kita selesai dan sudah mandi besar, baru Nang-Nangnya bangun," kata Satria lagi.
"Nakula dan Sadewa pinter yah? Timingnya tepat banget."
Indi membalas demikian. Kalau tadi mereka masih berada di Swargaloka dan belum selesai pastilah akan deg-degan dan panik. Selain itu ada perubahan mood juga. Untunglah Nakula dan Sadewa bisa kooperatif dengan orang tuanya.
Setelah itu hampir setengah jam Nakula dan Sadewa meminum ASI. Kemudian Satria menggendong salah satu di antaranya. Mengajak bermain dulu, sembari mengusap perlahan bagian punggung bayinya supaya tidak ada yang gumoh atau muntah ASI.
"Papa mau dibuatkan sesuatu enggak?" tanya Indi.
"Tadi sebenarnya usai mandi mau buat bikin mie instan yang rasa ayam bawang sih, Sayang. Namun, Nakula dan Sadewa udah bangun. Jadinya ya udah, gagal deh," balas Satria.
"Aku buatin ya, Papa," tawar Indi.
"Beneran mau?"
"Ya, mau dong. Untuk Papa Satria apa aja juga mau."
__ADS_1
Satria tersenyum. Tadi memang dia berencana me time dulu. Terlebih masih hujan. Waktunya menikmati makanan berkuah dan masih hangat. Namun, setidaknya Satria sudah merasa lega. Waktunya memang tepat, ketika menyelesaikan hubungan yang penuh padu padan, sudah selesai mandi dan waktunya untuk kembali mengasuh Nakula dan Sadewa.