
Beberapa Tahun yang Lalu ....
Di salah satu universitas negeri di kota Gudeg, terjadi romansa antara seorang mahasiswa dan mahasiswi. Keduanya memang berbeda fakultas. Jika sang mahasiswi mengambil jurusan Seni Rupa dan Desain, khususnya Desain Interior. Sementara yang mahasiswa mengambil jurusan Ekonomi dan Bisnis.
Layaknya mahasiswa dan mahasiswi yang berpacaran, keduanya hanya sering kali ke kantin bersama. Atau mengerjakan tugas bersama. Hingga akhirnya, menginjak bulan kelima hubungan keduanya. Si cowok berkata kepada si gadis yang terbiasa dia panggil Dira.
"Dira, main ke kostku mau enggak?" ajak cowok yang bernama Yudha itu.
"Enggak, ah ... ngapain juga aku main ke kost cowok," balas Dira.
"Kan teman-teman yang lain biasanya bawa pacarnya ke kost juga tidak apa-apa kok. Kostku aman," kata Yudha.
Yudha merasa teman-temannya juga sering mengajak ceweknya bermain ke kost. Entah hanya sekadar bermain atau memang melakukan kegiatan yang lainnya. Sebab, biasanya masa mahasiswa, masih masa coba-coba, berpacaran di kost pun menjadi hal yang lazim di kalangan mahasiswa. Untuk itu, Yudha juga menginginkan untuk mengajak Dista main ke kostnya.
Dalam benak Yudha, masak iya statusnya memiliki pacar tapi berpacaran dengan Dira rasanya tidak asyik sama sekali. Sebab, pacarnya itu terlalu kaku, anak Mama Papa. Selalu pulang ketika jam kuliah usai. Susah diajak hang out. Bersentuhan sekadar kontak fisik pun susah sekali.
Yang bisa Yudha lakukan adalah mengajak pacarnya itu makan siang di kantin saat pergantian jam mata kuliah. Selain itu, nugas bersama, mengerjakan tugas di perpustakaan. Oleh karena itu, Yudha terbersit untuk mengajak pacarnya itu main ke kostnya.
"Enggak ah ... aku mau ke perpustakaan. Ada paper yang harus aku selesaikan," jawab Dira.
Gagal sudah niat Yudha untuk mengajak pacarnya ke kost. Akan tetapi, Yudha tidak kekurangan akal. Kali ini dia masih sabar. Hingga nanti suatu saat tiba, Yudha akan membawa pacarnya yang cantik dan berambut panjang itu main ke kostnya.
***
__ADS_1
Selang Beberapa Waktu kemudian ....
"Dira, abis ini kuliah lagi enggak?" tanya Yudha.
Cowok berkulit putih itu tersenyum dan menemui pacarnya yang berada di luar fakultasnya. Dira yang saat itu sedang duduk bersama sahabatnya pun menatap Yudha yang baru saja datang.
"Aku baru nemenin Satria ngerjain tugas nih," jawabnya.
Ya, faktanya memang Indira sedang menemani sahabatnya sendiri yang tak lain adalah Satria untuk mengerjakan tugasnya. Satria sendiri juga adalah mahasiswa jurusan Bisnis. Akan tetapi, ada beberapa hal yang Satria diskusikan bersama dengan Indi. Mereka sudah berkenalan lama, sahabatan malahan sejak Makrab Mahasiswa.
"Aku ajak mengambil buku sebentar yuk?" ajak Yudha kemudian.
Pikir Yudha, masak seorang pacar akan lebih memilih sahabatnya dibandingkan dengan pacarnya sendiri. Yudha berniat untuk mengajak Indi mengambil buku ke kostnya sebentar saja. Satu jam di kost juga sudah cukup mengajak cewek itu untuk pacaran.
"Gimana, Sat?" tanya Indira.
"Ah, Sat ... otak loe kan encer, masak enggak bisa sih ngerjain sendiri. Masak iya, cowoknya Dira harus ngalah sama sahabatnya," balas Yudha.
Satria memilih diam dan cuek saja. Sebab, Satria merasa tidak suka dengan perangai Yudha. Entah, firasatnya mengatakan bahwa Yudha bukan cowok baik-baik. Beberapa kali juga Satria melihat Yudha memboncengkan mahasiswi cewek lainnya. Kalau hanya sekadar berboncengan sih wajar, tapi cewek-cewek yang yang diboncengkan Yudha kebanyakan berpegangan dan tubuhnya menempel dengan Yudha. Untuk Satria, yang memang dari kalangan Ningrat dan diajar dengan banyak hal, yang dilakukan itu tidak benar.
"Kan Indi baru bantuin gue," balas Satria.
"Yuk, Dira ... sebentar saja kok," ajak Yudha.
__ADS_1
"Sat ...."
Indira tidak bisa menolak. Terlebih Yudha sudah memegang tangannya dan mengajaknya untuk berdiri. Satria merasa panas hatinya melihat Yudha menggenggam tangan Indira di sana. Satria menghela napas beberapa kali, dan kemudian dia memilih mensetel laptopnya dalam mode sleep, kemudian menutupnya.
"Aku tunggu, In," balas Satria.
Yudha pun merasa senang bisa membawa Indira ke kostnya. Kost yang tidak jauh dari kampus itu memang sudah biasa dijadikan tempat pacaran oleh para mahasiswa. Banyak cewek-cewek juga yang ada di sana.
"Kalau diboncengin pegangan dong," kata Yudha.
"Gak usah," balas Indi.
Yudha sudah makin sebal saja. Pacarnya itu dinilainya terlampau kaku tidak mengikuti perkembangan zaman. Toh, kalau hanya sekadar pegangan saat berboncengan sebagai pacar kan tidak ada salahnya.
Di kost itu, Yudha memaksa mengajak Indi masuk. Kemudian, bukan mengambil buku. Yudha justru melepaskan jumper yang dia pakai. Dia berusaha memeluk dan mencium Indi di sana. Tidak menerima begitu saja, Indi meronta. Indira bisa mengetahui kemana arah Yudha sekarang. Indi pun berusaha lepas dari kungkungan pacarnya sendiri. Hingga, Indi menendang Yudha dan mengenai pangkal pahanya. Setelah itu, Indi membuka pintu kost yang dikunci itu. Dia berusaha lari sekarang. Lebih baik segera pergi, daripada dimangsa predator sebagai cowoknya itu.
Keluar dari pintu gerbang kost itu, rupanya ada Satria yang diam-diam membuntuti Indi. Satria turun dari motor dan menatap Indi. Bisa Satria lihat Indi yang nyaris menangis.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
"Ya, boleh minta tolong boncengin aku, Sat?" tanya Indi.
"Pasti."
__ADS_1
Satria pun memboncengkan Indira. Indi merasa lega. Dia tidak akan memberikan kesempatan lagi untuk Yudha. Di dalam hatinya dia mantap untuk putus dari Yudha. Indi setidaknya bersyukur tidak terlena dan tidak terbuai, lebih dari itu dia bisa melepaskan diri.
Di saat fase putus cinta dan menyembuhkan luka karena takut itulah ada Satria yang berdiri sebagai sahabatnya. Perlahan-lahan dua sahabat itu menyembuhkan luka. Hingga persahabatan pun berubah menjadi cinta.