
Semalam dilewati Satria dan Indi di Rumah Sakit. Walau tidak bisa tidur, tapi Indi berusaha tidur walau bangun pagi Indi merasa semua badannya sakit. Mungkin efek dari kejatuhan berbagai benda berat itu baru terasa sakit ini. Tangan yang sukar digerakkan, dan kaki kiri yang benar-benar sakit. Sehingga, Indi terbangun dalam kondisi menangis.
Mendengar isakan tangis Indi, perlahan Satria terbangun. Ya, suaminya itu memang hanya tidur di sofa yang ada di sisi brankar Indi. Seketika terbangun dan mengecek kondisi Indi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Satria.
"Badanku sakit semua ... kayak susah digerakin," balas Indi.
Satria mengangguk perlahan. Dia tahu itu pasti nyeri di tulang dan sendi karena badan usai tertimpa beban berat. Biasanya memang dampak jatuh atau tertimpa itu, baru terasa paginya.
"Sabar yah ... nanti aku mintakan obat pereda nyeri," balas Satria.
Satria memilih masuk ke dalam kamar mandi, dan kemudian mulai mengambil air hangat dalam wadah kecil dan handuk kecil, setelah menyeka wajah, tangan, dan kaki Indi. Setidaknya air hangat bisa mengurangi rasa nyeri di badan. Walau reaksinya hanya sedikit, Satria berharap bisa Indi bisa sedikit lebih baik.
Dengan telaten dan sangat hati-hati, Satria merawat Indi. Walau nanti ada perawat juga yang membantu Indi. Namun, Satria melakukan itu terlebih dahulu supaya badan istrinya tidak terlalu sakit.
"Sudah agak enakan?" tanya Satria.
"Iya, sudah, Mas," balas Indi.
Satria sudah panik pagi-pagi dan mengira terjadi kenapa-napa dengan Indi. Ternyata memang istrinya itu baru sekarang mengalami seluruh badannya sakit, nyeri, terutama di beberapa badan yang tertimpa panel kayu. Setelah Indi tenang, Satria meminta izin kepada Indi untuk menelpon Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Setidaknya orang tua Indi juga harus diberitahu.
Dengan hati-hati Satria menjelaskan semua melalui telepon, setidaknya supaya Ayah Pandu dan Bunda Ervita tidak panik. Setelah itu, barulah Satria meminta tolong dibawakan pakaian ganti untuk dia dan Indi juga, karena sejak kemarin Satria juga belum mengganti pakaiannya. Untung Ayah Pandu dan Bunda Ervita baik, sehingga mau membantu Satria.
__ADS_1
Selang satu jam kemudian, Ayah Pandu dan Bunda Ervita datang ketika Satria sedang menyuapi Indi sarapan pagi. Untung saja Indi tidak terlalu rewel, walau badan sakit semuanya, seakan remuk redam. Akan tetapi, Indi masih mau makan.
"Mbak Indi," sapa Bunda Ervita begitu memasuki kamar perawatan putrinya yang memang tidak ditutup rapat pintunya karena sudah ada petugas kebersihan yang membersihkan kamar perawatan yang ditempati Indi.
Seketika air mata Bunda Ervita berlinang melihat Indi dengan wajahnya lebam dan memar itu. Belum dengan selang infus yang ada di tangannya. Hati seorang ibu pastilah sangat sedih melihat putrinya sakit seperti ini.
"Nda ..., Yayah," kata Indi. Dia kembali menangis kala melihat Yayah dan Bundanya datang.
"Sakit banget pasti?" tanya Ayah Pandu. Sang Ayah pun berusaha menangis, wajahnya hingga memerah melihat putrinya yang sakit sampai separah itu.
"Tidak kok, Yah," jawab Indi.
Di hadapan Ayah dan Bundanya Indi tidak mengaku sakit. Dia hanya tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Kalau pun dia mengeluh, cukup kepada Satria saja.
"Kamu mandi dulu, Satria ... ini Bunda bawakan pakaian ganti untuk kalian berdua," kata Bunda Ervita.
"Sini, biar Bunda yang lanjutkan. Kamu mandi saja ... bersih-bersih dulu," kata Bunda Ervita.
Mengikuti saran dari Bunda Ervita, akhirnya Satria berpamitan sebentar untuk mandi dan bersih-bersih dulu. Sementara Bunda Ervita yang menyuapi Indi. Walau Indi mengatakan bahwa sakit, dari semua lebam yang membiru itu sudah pasti bahwa sakitnya sangat terasa.
Hampir lima belas menit, Satria berada di dalam kamar mandi. Pria itu sudah keluar dengan celana dan kaos yang lebih nyaman. Sebab, dari semalam Satria mengenakan celana bahan dan kemeja. Baru keluar dari kamar mandi, rupanya ada Rama Bima dan Bu Galuh yang datang.
Seketika kamar perawatan Indi menjadi penuh, dan ini menjadi pertemuan pertama Rama Bima dengan Ayah Pandu setelah beberapa bulan lamanya.
__ADS_1
"Bapak Bima," sapa Ayah Pandu.
"Ya, Bapak Pandu Hadinata ... kami datang untuk menjenguk Mbak Indi," kata Rama Bima.
Setelah sama-sama diam, akhirnya Rama Bima menetapkan hatinya dan memulai mengurai kata demi kata kepada Ayah Pandu. Bagaimana pun, dia juga harus meminta maaf kepada kedua orang tuanya Indi. Kejadian ini seharusnya bukan menimpa Indi.
"Bapak Pandu, saya secara pribadi meminta maaf. Semua ini terjadi karena Mbak Indi yang justru menolong saya, mengorbankan dirinya sendiri untuk menolong pria tua ini," kata Rama Bima.
Tak ingin sekadar beralibi, Rama Bima menunjukkan video rekaman CCTV itu kepada Ayah Pandu. Tidak mencari pembenaran juga. Namun, jauh dari pada itu, Rama Bima hanya tidak ingin ada praduga yang bukan-bukan.
Melihat video itu, Bunda Ervita merasa ngeri. Sementara Ayah Pandu memuji dalam hati bahwa putrinya itu hebat. Mau mengorbankan dirinya sendiri untuk orang lain. Sikap ksatria yang mau berkorban.
"Tidak apa-apa Pak Bima ... ini kecelakaan kerja," balas Ayah Pandu berusaha lapang.
"Sekaligus, saya menyampaikan maaf sedalam-dalamnya. Di kesempatan ini pula, saya memberikan restu untuk Satria dan Mbak Indi. Saya sudah melihat sendiri bahwa Mbak Indi adalah sosok yang baik, sikapnya juga terpuji, dan layak mendampingi Satria. Maafkan kekerasan hati saya dulu," kata Rama Bima dengan perasaan menyesal.
Ayah Pandu dan Bunda Ervita juga tidak mengira bahwa Rama Bima akhirnya memberikan restunya untuk Indi dan Satria. Tentu ini adalah hal yang bagus. Hal yang sudah Satria dan Indi tunggu bersama.
"Apakah benar Pak Bima Negara?" tanya Ayah Pandu menegaskan.
"Ya, benar ... maafkan saya yah Pak Pandu. Nanti setelah Indi sembuh dan pulih sepenuhnya bolehkah saya meminta untuk mengadakan resepsi untuk Indi dan Satria. Akad sudah terlampaui, dan kita lanjutkan dengan resepsi saja. Biar semua orang tahu menantu keluarga Negara," kata Rama Bima.
"Bagaimana Satria?" tanya Ayah Pandu kepada menantunya.
__ADS_1
"Biar Indi sembuh dulu, Ayah dan Rama."
Usai itu Rama Bima mendatangi Ayah Pandu. Dua pria paruh baya itu saling memeluk satu sama lain. Begitu juga Bunda Ervita dan Bu Galuh yang menangis dan saling berpelukan. Rembugan atau dalam bahasa Indonesia adalah percakapan kedua orang tua ini sekarang menemukan jalannya. Dulu, cinta Indi dan Satria terbentur restu. Akan tetapi, sekarang restu sudah didapat. Lebih dari itu, ada wacana menggelar resepsi ketika Indi sudah sembuh nanti.