Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Setelah makan siang, barulah Indi diperbolehkan pulang. Eyang Galuh dan Eyang Ervita yang menggendongkan Nakula dan Sadewa, sementara Satria menggenggam tangan istrinya dan membantunya berjalan. Satria masih takut kalau-kalau bekas jahitan di sana masih sakit untuk berjalan.


"Buat jalan sakit, Yang? Kan baru kemarin melahirkannya," tanya Satria.


"Lumayan, Mas. Perih gitu aja sih," balas Indi.


Mendengar jawaban Indi, Satria memperlambat langkah kakinya. Kasihan kalau istrinya kembali merasakan sakit, lagipula baru kemarin siang Indi melahirkan sehingga sekarang rasanya masih sakit. Indi malahan tersenyum melihat suaminya itu.


"Aku tidak apa-apa. Nanti pastilah sembuh kok," katanya.


"Segera sembuh yah, Sayangku."


Begitu sudah di dalam mobil, masih terlihat para Eyang Putri yang menggendong cucu-cucunya, sehingga Indi pun duduk di depan bersama dengan Satria. Sembari mendengarkan kisah dari Bu Galuh.


"Dulu itu Mbak Indi, Ibu pulang dari Rumah Sakit. Setelah melahirkan Satria, harus memakai jarik. Perut ini dipasangi stagen. Harus nurut pokoknya sama Eyangnya Satria. Duduk kaki tidak boleh menggantung," cerita Bu Galuh.


Stagen adalah kain yang biasa untuk mengencangkan bagian perut. Sehingga perut usai wanita melahirkan itu tidak turun, bahkan pada masa kuno, wanita harus mengenakan Stagen sampai 40 hari setelah bersalin. Indi dan Bunda Ervita yang mendengarkannya pun tertawa.


"Kalau tidak nurut, bagaimana Bu?" tanya Indi.


"Ya, harus nurut. Zaman dulu, menantu harus patuh, Mbak Indi. Pakemnya apa ya harus dijalani," balas Bu Galuh.


Indi menganggukkan kepala, rupanya memang banyak aturan yang harus dijalani. Terutama dalam tradisi Jawa, di mana wanita masih harus mengenakan Kain Jarik dan Stagen untuk mengencangkan perut. Lalu, masih ada beberapa ramuan jamu tradisional yang harus diminum. Kala duduk pun, wanita tidak boleh menggantung kakinya. Juga, tidak boleh mencuci baju, katanya ketika wanita mencuci baju dengan menguceknya bisa membuat jahitan tidak akan kering. Tentu semua itu dikaitkan dengan mitos. Sebab, sekarang ilmu pengetahuan sudah berkembang dengan pesat. Hal-hal yang dulu dianggap tradisi, bisa dibuktikan kebenarannya secara keilmuan.


"Indi juga nurut kok, Ibu," balasnya dengan terkekeh geli.


"Iya, Mbak. Sekarang orang tua juga harus mengetahui zaman sudah berubah. Asal tetap dihati-hati. Ibu buatkan jamu juga diminum yah, biar rapat dan wangi lagi. Jadi wanita gak mudah, Mbak Indi. Jangan pernah ceroboh, harus mempertahankan suami di rumah," kata Bu Galuh.

__ADS_1


Lagi-lagi semuanya tertawa, terlebih di dalam mobil itu pria dewasa hanya Satria. Sementara Rama Bima dan Ayah Pandu berbeda mobil. Satria bak terintimidasi sekarang.


"Mas Satria kalau nakal, Indi jewer yah, Bu," balasnya.


Jewer adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk menarik telinga. Biasanya anak-anak yang tidak taat dan nakal, akan ditarik telinganya oleh orang tuanya. Begitu juga dengan Indi, walau tentu dia hanya sekadar bercanda.


"Iya, Ibu kasih izin. Anak laki-laki ketika dia sudah menikah kan milik istrinya, Mbak," balas Bu Galuh.


"Satria tidak akan macam-macam, Bu. Sudah melihat sendiri bagaimana perjuangan seorang istri melahirkan. Semua juga karena Satria, untuk memberikan pewaris untuk keluarga kita. Gak akan macam-macam," sahut Satria.


"Janji loh, Sat. Pria pun kalau macam-macam juga berdosa. Istri memang milik suaminya, tapi ketika suami berlaku tidak benar, tetap saja dia berdosa," balas Bu Galuh.


Bunda Ervita yang mendengarkan nasihat Bu Galuh untuk Satria hanya senyam-senyum. Nasihat itu hampir sama dengan nasihat Eyang Hadinata dulu kala menasihati Ayah Pandu. Syukurlah, Ayah Pandu adalah pria yang baik dan selalu menyayangi istri dan anak-anaknya.


Begitu sudah sampai di rumah, semuanya berkumpul di ruang tamu. Tiga pasangan dengan dua anggota baru dan terkecil yaitu Nakula dan Sadewa.


"Nakula Hadi Negara dan Sadewa Nata Negara," jawab Satria.


Satria memang sengaja memisah dua kata yang merangkai nama mertuanya yaitu Hadinata. Nama Hadi dia sematkan untuk Nakula, dan nama Nata disematkan untuk Sadewa. Mendengar nama itu, Ayah Pandu tertawa.


"Tetap saja menjadi Hadinata, hanya kamu pisah, Sat," sahut Ayah Pandu.


"Heheh, iya benar, Yah. Boleh kan Yah?"


"Kalau Ayah sih boleh, bagaimana dengan Pak Negara?" tanya Ayah Pandu kepada besannya.


Rama Bima kemudian mengangguk dan tersenyum. "Boleh saja. Nama kan adalah doa. Yang penting kalian tidak sembarangan memberikan nama untuk anak-anak kalian, Rama setuju."

__ADS_1


Satria tersenyum. Ide memisah nama Hadinata ini juga karena kata Hadi dan Nata memiliki nama yang juga indah. Nama Hadi berasal dari Nama Allah Al Hadi yang artinya memberi petunjuk, pemimpin, dan membawa ke jalan yang benar. Itu juga yang Satria inginkan untuk Nakula sebagai Sulung, bisa menjadi pemimpin untuk adik-adiknya nanti, bisa menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah.


Sementara nama Nata memiliki arti pelindung dalam bahasa Sanskerta. Sehingga ketika nama-nama disematkan untuk putra kembarnya terasa sangat cocok.


"Kalau dipikir-pikir, nama kita kayak nama tokoh pewayangan yah," kata Rama Bima.


Semua yang ada di sana kemudian mengalihkan pandangannya kepada Rama Bima. Menunggu apa yang hendak dikatakan Rama Bima selanjutnya.


"Bima, Pandu, Nakula, dan Sadewa," kata Rama Bima.


Barulah mereka ngeh bahwa nama-nama itu adalah para tokoh dalam Epos Mahabarata. Seketika semuanya tertawa. Semoga nanti bahwa nama indah yang tersemat di dua keluarga itu.


"Belum lengkap yah, Rama. Harusnya ada Puntadewa dan Arjuna juga," balas Satria.


"Kalau kamu memiliki anak lagi, semoga cewek ya, Sat. Biar lengkap dan komplit," balas Rama Bima.


Cukup lama para orang tua berada di rumah Indi dan Satria. Selain itu, Bunda Ervita yang memang pengertian juga membawakan makanan untuk Indi dan Satria, sehingga saat malam nanti mereka tidak perlu membeli makanan di luar. Sudah ada nasi, sayuran, dan lauk-pauk.


Menjelang sore dan membantu Indi memandikan bayi Nakula dan Sadewa barulah kedua orang tua berpamitan pulang. Walau begitu, keesokan harinya mereka akan datang lagi. Masih ingin membantu Indi untuk mengasuh Nakula dan Sadewa.


"Sudah pulang semua Eyangnya. Tinggal kita berempat," kata Satria.


"Iya, Mas. Eyang Kakung dan Eyang Uthi seneng terima cucu langsung dua," balas Indi.


"Kehadiran bayi benar-benar memberikan kebahagiaan yah, Sayang. Bukan hanya untuk kita berdua, melainkan untuk kedua orang tua kita. Banyak bersyukur kepada Allah," balas Satria.


"Benar, Mas. Selamat datang di dunia Baru untuk kita berdua. Jam begadang dan sebagainya, semoga bisa beradaptasi yah, Mas," balas Indi.

__ADS_1


Selain itu, Indi juga mengatakan demikian kepada suaminya bahwa mereka juga akan memasuki dunia baru. Masih perlu beradaptasi lagi. Walau awalnya tertatih, mereka percaya bisa beradaptasi dan melewati semuanya bersama.


__ADS_2