Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Senja di Pematang Sawah


__ADS_3

Sore itu, Indi agaknya benar-benar tertarik dengan pesona senja di pematang sawah. Sampai Indi ingin menatapnya, menikmati surya yang kembali ke peraduannya di ufuk Barat itu. Senja di Solo sore itu terlihat benar-benar indah.


"Senja di pelataran rumah kamu memang seindah ini, Mas?" tanya Indi.


"Iya, memang. Lihat, Sayang ... Gunung Merapi dan Merbabu di sisi Barat membingkai indah senja. Sangat indah bukan?"


Indi menganggukkan kepalanya. Di sisi barat memang berdiri dengan begitu agung dua gunung yang nyaris sama besarnya, dua gunung itu adalah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang terlihat di kota tepi Bengawan itu. Semburat jingga di langit, berpadu dengan dua gunung yang berdiri kokoh, dan hamparan sawah menjadi pesona senja yang sangat indah.


"Di sebelah Timur, matahari terbit dari balik Gunung Lawu. Dari sini, ada tiga gunung yang bisa kita lihat keagungannya dari kejauhan. Indah kan?" tanya Satria sekarang.


Rasanya Indi benar-benar kagum jadinya. Beberapa kali ke rumah mertuanya baru sekarang Indi mengetahui bahwa ada tiga gunung yang seolah menjadi pagar kokoh Kota Bengawan ini. Pemandangan yang tak pernah Indi sadari sebelumnya.


"Indah banget, apalagi anginnya sepoi-sepoi seperti ini. Padinya seolah menari-nari," kata Indi yang seolah mempersonifikasikan tanaman dengan nama latin Oryza Sativa itu.


Satria lantas tersenyum mendengarnya. Dia kemudian mengajak Indi duduk bersama di bangku kayu yang menghadap ke Barat. Menikmati surya yang kembali ke peraduannya. Tidak banyak yang keduanya bicarakan, tapi Satria menggenggam tangan istrinya itu.


"Senja itu indah dan pasti, seindah dan sepasti cintaku kepadamu," kata Satria lirih. Walau angin berembus dengan gemerisik padi dan beberapa tanaman di sana, tapi suara Satria terdengar begitu lembut di indera pendengaran Indi.


"Puitis banget sih, Mas," balas Indi.


"Tiba-tiba saja, Sayang ... spontanitas."


Indi lagi-lagi tersenyum. Dia sangat senang, jika boleh diresapi maknanya yang dikatakan oleh Satria memang ada benarnya. Pria itu selalu memiliki perasaan yang tulus dan pasti untuk Indi. Cintanya begitu besar dan penuh makna.


"Mas, apa benar dulu pematang sawah itu tempat yang konotasinya negatif yahh?" tanya Indi sekarang kepada suaminya.


Tidak langsung menjawab, tapi Satria seperti berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab. Hingga akhirnya, Satria menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku sih kurang tahu, Sayang. Mungkin kamu keingat lagu tahun 90an yang melakukan tindakan tak senonoh di pematang sawah yah?" tanya Satria.


Indi tertawa kecil, terkekeh geli jadinya. Memang pernah dia mendengar lagu hits anak 90an yang menceritakan kisah pasangan muda-mudi yang melakukan tindakan tak semestinya di pematang sawah. Mungkin itu lagu hits di masa orang tua mereka masih muda.


"Hehehe, itu lagunya ikonik banget sih. Makanya aku bertanya ke Mas Satria yang rumahnya dekat sawah. Mungkinkah terjadi seperti itu," tanya Indi.


Satria lantas tertawa. "Aku anak baik-baik, Sayang. Tidak tahu hal begituan," balas Satria.


Keduanya lantas tertawa bersama. Begitulah pasangan, ada kalanya selalu saja ada hal absurd yang ditanyakan satu sama lain. Seperti Indi yang menanyakan saja apa yang terlintas di pikirannya.


"Seneng, Yang?" tanya Satria sekarang.


"Ya, senang ... bahagia, sekali-kali lihat senja yang seindah ini," balas Indi.


"Bahagia tidak perlu jauh-jauh yah, Sayang. Cukup di pelataran rumah dan melihat senja dan sawah," balas Satria.


Andai bisa menyelami keindahan, sumber kebahagiaan itu sebenarnya tidak begitu jauh dari sekitar kita. Melihat senja, melihat persawahan yang menghijau, atau melihat gunung yang berdiri kokoh. Selain itu, kebahagiaan juga didapatkan ketika kita bersama dengan orang yang kita kasihi, bercengkerama, dan berbagi tawa bersama. Sama seperti yang dilakukan Indi dan Satria sekarang ini.


Satria lantas menganggukkan kepalanya. "Ayo, Sayang. Besok kita memiliki kesempatan lagi untuk melihat arunika dan senja," kata Satria.


"Arunika?" tanya Indi.


"Benar, Arunika, kata ganti dalam sastra untuk menyebut matahari terbit. Sama seperti senja atau Sambekala dalam bahasa Jawa untuk menyebut matahari terbenam," jelas Satria.


"Bagus yah, Mas. Aku baru mendengarnya," balas Indi.


"Sambekala belum pernah mendengar sebelumnya?" tanya Satria.

__ADS_1


Indi kemudian menggelengkan kepalanya karena memang dia belum pernah mendengarnya. "Belum," jawabnya.


"Dalam masyarakat Jawa matahari terbenam selalu diibaratkan dengan petang atau gelap yang datang. Gelap itu adalah musibah untuk orang Jawa. Oleh karena itu adalah pepatah begini. Kalis ing Rubeda, Nir ing Sambekala artinya Semoga selamat dijauhkan dari segala rintangan, halangan, musibah, dan marabahaya."


Satria menjelaskan semua itu dengan pelan-pelan kepada istrinya. Sebagai dari keturunan ningrat, sebenarnya Satria dekat dengan berbagai literatur Jawa Klasik. Oleh karena itu, memang ada beberapa hal yang Satria ketahui.


"Dipinang Putra Ningrat emang beda. Pengetahuannya luas. Nanti, ajarkan ilmu dan ajaran yang baik itu ke Nakula dan Sadewa juga ya, Mas," pinta Indi.


"Iya, Mama Indira. Nanti kita ajarin bersama-sama. Biar Nakula dan Sadewa tak kehilangan budaya dan jatidirinya," balas Satria.


Sekali lagi budaya bisa tergerus dengan modernisasi yang terus berkembang. Oleh karena itu, orang tua harus mengenalkan budaya mereka ke anak cucu, supaya generasi yang akan datang tetap tidak kehilangan budayanya. Sama seperti Satria yang tetap belajar, walau tidak lagi dengan pikiran yang terkungkung dalam adat dan tradisi.


Usai itu, Satria dan Indi meninggalkan pelataran yang menghadap ke sawah dengan pemandangan langsung ke Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu. Keduanya berjalan untuk masuk ke dalam rumah.


"Sudah nonton senjanya?" tanya Bu Galuh.


"Iya, sudah Ibu. Sudah mulai petang juga. Terima kasih sudah gendongin Nakula dan Sadewa, Indi bisa melihat senja yang benar-benar indah," kata Indi.


Bu Galuh tersenyum. "Sembari mendengar irama keroncong atau langgam Jawa, Mbak Indi. Pasti lebih indah," katanya.


"Ditemani angin sepoi-sepoi saja udah bahagia banget, Ibu. Healing loh ini," balas Indi dengan terkekeh perlahan.


Mendengar yang Indi sampaikan keluarga Negara tertawa. Juga Sitha yang merasa kakak iparnya itu sangat sederhana, sekadar melihat senja di pelataran rumah saja sudah terlihat senang.


"Kalau pagi, matahari terbit indah juga, Mbak ... dari Timur sana. Dari balik Gunung Lawu," kata Sitha.


"Mumpung di Solo, aku harus melihatnya deh, Dik. Kapan lagi, kalau enggak ke sini, tidak akan bisa melihatnya kan?"

__ADS_1


"Benar, Mbak. Mumpung di Solo. Cukup di pelataran rumah, gak usah jauh-jauh juga kok, Mbak," kata Sitha lagi.


Indi menganggukkan kepalanya, memang mumpung di Solo dan pemandangan di depan rumah mertuanya sangat indah harus dimanfaatkan. Bukan sekadar kumpul keluarga mertua, tapi sekaligus menikmati panorama yang indah.


__ADS_2