Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
After Session


__ADS_3

Dengan napas yang terengah-engah, Indi sekarang masuk di pelukan suaminya. Sungguh, ini adalah nuansa dan sensasi yang sangat indah. Tubuh yang semula dingin pun sekarang menjadi hangat, justru berkeringat setelahnya. Sementara Satria masih memejamkan matanya. Dia merasakan ledakan dhasyat. Dia seketika hancur berkeping-keping. Sudah lama tidak melakukannya, sekarang begitu merasakan kembali seolah baru kali pertama merasakan peraduan seindah ini.


"Indah banget, Sayang ... apa karena sudah puasa lama yah. Sensasinya luar biasa banget," aku Satria dengan jujur.


Mendengarkan ucapan suaminya. Indi kemudian tersenyum. Dia kian masuk di pelukan suaminya. Wajah yang dekat dengan dada suaminya, hingga Indi bisa merasakan detak jantung suaminya yang memang sekarang berdetak lebih cepat dari biasanya. Tak hanya itu, Indi masih memejamkan matanya. Seolah Indi ingin merasakan kehangatan yang membuat ribuan kembang api terlihat di matanya yang terpejam.


"Iya, Mas ... badanku sampai gemeteran," aku Indi sekarang.


Satria tertawa kecil. Dia kian mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya itu. Saat-saat seperti ini rasanya tidak ingin berlalu. Namun, Satria tahu bahwa itu adalah sesuatu yang tadi turut dia rasakan sebelum dia benar-benar meledak dan pecah.


"Berani mandi enggak, Yang? Aku takut kamu kedinginan kayak tadi," kata Satria sekarang.


"Berani kok, Mas. Kalau enggak mandi kan justru berdosa. Mandi bebek, yang cepet-cepet aja. Biar enggak kedinginan," balas Indi.


Lagi-lagi Satria tertawa kecil. Dia geli dengan istilah yang sekarang Indi sebutkan. Namun, Satria tahu memang tidak perlu mandi berlama-lama, yang penting membersihkan diri terlebih dahulu.


"Abis mandi nanti aku peluk lagi," kata Satria.


"Iya, Mas ...."


"Mau mandi sekarang, sebelum nanti kedinginan?"


"Sekarang aja, Mas ...."


Akhirnya, Satria mengurai pelukannya terlebih dahulu. Dia menuju kamar mandi dan menunggu sampai air di kamar mandi menjadi hangat. Seusainya Satria mengajak Indi menuju ke dalam kamar mandi. Lebih baik mandi berdua. Jika, Indi kedinginan pun, ada Satria yang siap memeluk dan menawarkan berjuta kehangatan untuk istrinya itu.


"Barengan aja, Sayang. Aku takut kamu kedinginan," kata Satria sekarang.


"Malu, Mas," kata Indi dengan jujur. Memang ini bukan yang pertama, tapi Indi merasa malu. Terlebih sekarang, Indi mengalami lonjakan berat badan, ada beberapa lipatan lemak di badannya.

__ADS_1


"Gak usah malu. Yuk, Cintaku ...."


Tak mau menerima penolakan, Satria menggandeng tangan Indi memasuki kamar mandi. Satria memberikan waktu untuk Indi mencuci muka dan lain sebagainya. Setelahnya keduanya sama-sama berdiri di bawah shower. Airnya hangat, seharusnya memang Indi tidak lagi kedinginan.


"Dingin enggak, Sayang?" tanya Satria.


"Kalau begini enggak sih. Hangat kok airnya. Semoga gak keinginan setelah ini," kata Indi.


Satria tersenyum, lagipula kalau Indi kedinginan dia siap memberikan kehangatan lagi untuk istrinya. Pikir Satria momen ini harus dimanfaatkan terlebih dahulu. Kesempatan seperti ini juga tidak datang kedua kali sehingga Satria ingin benar-benar memanfaatkannya.


"Sini, aku yang gosokin punggungnya," kata Satria.


"Sweet banget sih," balas Indi dengan menyerahkan shower puff kepada suaminya.


Sekarang Satria dengan lembut dan telaten menggosok pinggung istrinya. Indi pun melakukan yang sama, dia juga menggosok perlahan tengkuk hingga punggung suaminya. Usai menggosok punggung, keduanya tertawa sendiri. Rasanya romantis sekaligus lucu di saat bersamaan.


"Perutnya udah menyembul banget yah," kata Satria dengan mengusap perut istrinya.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. Dia sekarang memeluk Indi sesaat, masih dengan membiarkan air shower membasahi tubuh keduanya. After bercinta yang tetap manis dan hangat. Memang disarankan tidak langsung tidur usai bercinta, tapi menyalurkan bentuk kasih sayang dengan mandi bersama, cuddling time, atau mengobrol. Dengan begitu ada perasaan yang tetap terjalin. Tidak membiarkan nuansa hangat dan penuh cinta itu hilang atau terhenti begitu saja.


"Aneh, pelukan di bawah shower kayak gini," kata Indi.


"Biar hangat. Air nya hangat, pelukanku juga hangat. Jadi, kamu bisa merasakan kehangatan yang berlipat-lipat," balas Satria.


Indi terkekeh geli di pelukan suaminya. Setelah itu, Satria mematikan air shower. Dia mengambilkan bath robe untuk Indi dan mengeringkan rambut istrinya itu dengan handuk kecil. Terlihat jelas telatennya seorang Satria kala melayani Indi.


"Kamu benar-benar sweet banget loh, Mas. Klepek-klepek kamu perlakukan semanis ini," kata Indi dengan jujur.


"Harus diperlakukan dengan manis lah. Masak iya memperistri wanita justru hanya disakiti. Berdosa. Wanita itu ingin dimengerti, dan aku akan berusaha mengerti kamu," balas Satria.

__ADS_1


Sekarang keduanya keluar dari kamar mandi. Satria mematikan AC di dalam kamar hotel terlebih dahulu. Pikirnya supaya Indi tidak kedinginan. Indi memilih mengenakan skincare terlebih dahulu di wajahnya. Setelahnya, dia mencolokkan water heater untuk membuat air panas.


"Ngeteh mau, Mas? Ada kopi juga," tawar Indi.


"Teh saja, Sayangku," sahut Satria.


Indi kemudian membuat dua gelas teh. Sementara Satria membuka tirai jendela yang mengarah ke balkon dan pemandangan di luar. Terlihat hujan masih turun begitu derasnya, kabut pun turut turun. Sungguh, ini adalah suasana yang benar-benar romantis. Suasananya menstimulasi orang untuk mencari kehangatan.


"Silakan tehnya," kata Indi.


"Makasih Sayangku. Masih hujan di luar. Pas banget deh, masih hujan, dingin-dingin usai mandi dan sekarang minum teh buatan istri," balas Satria.


Indi kemudian duduk di sisi suaminya itu. Menikmati teh dan memandang panorama di luar yang memang indah.


"Tadi menekan perut kamu enggak, Yang?" tanya Satria sekarang.


Dengan cepat Indi menggelengkan kepalanya. "Babies baik-baik saja kok. Nih, malahan dia bergerak. Nendang-nendang," balas Indi. Bahkan sekarang Indi sedikit menghela napas merasakan pergerakan dua janinnya.


Satria segera membawa tangannya menyentuh perut istrinya. Dia juga ingin merasakan pergerakan bayinya. Satria senang merasakan denyutan itu dengan telapak tangannya.


"Halo, boys ... tadi udah ketemu Papa. Dikunjungi Papa kalian tidak pusing kan?" tanya Satria.


"Kalau enggak sering-sering sih enggak pusing kok, Papa," balas Indi menirukan suara anak kecil.


"Syukurlah, Papa takut kalau menyakiti kalian dan bikin kalian pusing. Nanti kalau kalian berdua sudah lahir, Papa akan gendong kalian berdua yah. Main bola sama Papa yah," kata Satria.


Indi tersenyum menatap suaminya itu. "Duh, dua babies jadi temannya Papa yah. Kalau mereka berdua udah agak besar, mau baby satu lagi ya, Papa. Semoga cewek, biar Mama punya temen nanti," balas Indi.


"Boleh, asalkan kamu sudah siap saja. Jangan tertekan. Seorang wanita juga butuh waktu untuk dirinya sendiri. Kalau sudah siap aja, program anak ketiga," kata Satria.

__ADS_1


Indi menganggukkan kepalanya perlahan. Dia merasa tenang dan nyaman mendengar perkataan suaminya. Seorang suami yang selalu mengerti dirinya dan selalu menemaninya. After session yang indah untuk Indi dan Satria.


__ADS_2