
Pulang dari belanja sayur, Bunda Ervita segera menuju ke dapur. Dia hanya mengingat bahwa nanti Indi dan kedua cucunya akan datang ke rumah. Oleh karena itu, Bunda Ervita berniat membuat ayam bacem kesukaan Nakula dan Sadewa. Bunda Ervita ingat jika disuapi dengan Ayam Bacem, kedua cucunya itu makan dengan begitu lahap.
Memasak dan menyibukkan diri di dapur seperti ini juga menjadi pengalihan pikiran untuk Bunda Ervita. Sebab, jika hanya diam dan duduk merenung, yang ada justru semakin sedih, dan selalu memikirkan Irene. Sehingga, Bunda Ervita mengalihkan pikirannya dengan memasak.
"Biar Yayah bantuin, Nda," kata Ayah Pandu pagi itu.
Bantu-membantu dan berkecimpung di dapur bukan hal baru untuk Ayah Pandu. Sejak muda, Ayah Pandu tak segan membantu istrinya itu memasak. Bahkan sering kali ketika Bunda Ervita selesai memasak, Ayah Pandu yang akan mencuci semua piring kotornya.
"Masih pagi, Yah. Yayah enggak santai dulu?" balas Bunda Ervita.
"Mau ngapain lagi, Nda. Sekarang yang bisa diganggu cuma Nda aja. Sini, Yayah bantuin aja."
Akhirnya kegiatan memasak pagi itu dilakukan berdua. Walau ada ART di rumah, tapi urusan memasak sering kali Bunda Ervita lebih senang melakukannya sendiri. Sehingga ART bisa mengerjakan yang lain seperti mengepel dan bersih-bersih rumah, atau menjemur dan menyetrika baju.
"Yah, minta tolong kupasin Bawang Merah yah," pinta Bunda Ervita sekarang.
"Siap, Nda. Berapa biji?"
Bunda Ervita mengambilkan beberapa biji Bawang Merah dan memberikannya kepada suaminya. Kalau urus kupas-mengupas bumbu dapur, Ayah Pandu juga bisa diandalkan. Mengiris Bawang Merah, Bawang Putih, hingga Cabai juga halus. Padahal Ayah Pandu adalah pria, tapi dia sangat bisa diandalkan.
"Di masa muda dulu, aku sudah membayangkan masa tua kita akan seperti ini," kata Ayah Pandu sembari mengupas kulit Bawang Merah.
"Hm, kenapa Yah? memasak berdua kayak gini?" tanya Bunda Ervita.
"Ya, semua pekerjaan rumah kita lakukan bersama, Nda. Apa pun itu, kita kerjakan bersama-sama. Ketika anak-anak sudah besar, sudah menjadi istri orang, dan di rumah kita hanya berdua. Menjadi tempat berlabuh untuk satu sama lain," kata Ayah Pandu.
Bunda Ervita yang sedang membuat bumbu Bacem pun tersenyum dan melirik suaminya itu. Benar sekali yang Ayah Pandu katakan bahwa mereka akan menjadi tempat berlabuh untuk satu sama lain.
__ADS_1
"Menjadi orang tua juga ada dinamikanya, Yah. Dulu, rumah kita ramai dengan Indi dan Irene yang masih kecil. Perlahan-lahan, bertambah tahun, mereka semakin besar dan dewasa. Hingga sekarang, seperti ini adanya. Semua proses mendewasakan kita juga, Yah. Menua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan," balas Bunda Ervita.
"Benar, Nda. Yayah setuju banget. Hh, rasanya Yayah masih kepikiran dengan Irene. Putrinya Yayah itu bagaimana di Jakarta sana? Apa benar kabarnya seperti itu?" tanya Yayah Pandu kemudian.
Bunda Ervita mendekat ke suaminya dan mengusap lengan Yayah Pandu sejenak. "Nanti kita telepon ke Irene sama-sama ya, Yah."
Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. Pasangan paruh baya itu menyelesaikan memasak berdua, mencuci piring juga berdua. Kemudian sarapan pagi berdua. Berusaha saling bersandar dan saling mengisi satu sama lain. Hingga akhirnya, usai sarapan Indi datang bersama Nakula dan Sadewa. Satria yang menurunkan istri dan anak-anak saja. Kemudian berpamitan kepada kedua mertuanya.
"Ayah dan Bunda, Satria pamit berangkat kerja dulu yah ... nitip istri dan anak-anak," katanya dengan setengah tertawa.
"Aman, Satria. Makasih yah ... Bunda jadi punya teman ngobrol dan main seharian," balas Bunda Ervita.
Setelah Satria berangkat bekerja, Nakula dan Sadewa heboh bermain dengan Eyang Pandu. Hari ini memang Eyang Pandu memilih bekerja dari rumah. Pikirannya masih berat, sehingga Ayah Pandu memilih berada di rumah dulu.
"Yayah enggak kerja?" tanya Indi.
Indi mengerti bahwa pikiran kedua orang tuanya tidak tenang. Namun, keduanya bisa menyingkapi kabar kurang baik ini dengan lebih baik. Kemarin mungkin masih terlalu emosi, tapi sekarang sudah bisa mengendapkan pikiran.
"Kalau kita menelpon Irene bagaimana, Yah dan Nda?"
"Sekarang, Mbak?" tanya Bunda Ervita.
"Iya, biar Indi yang telepon. Kalau ditunda nanti Yayah dan Nda semakin kepikiran. Namun, pesannya Mas Satria kemarin jangan menuduh, kita tanyain baik-baik," kata Indi.
Ayah Pandu dan Bunda Ervita kemudian menganggukkan kepalanya. Tanda setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Indi. Setelah itu, Indi mengambil handphonenya dan menelpon Irene. Beberapa beberapa saat, akhirnya panggilan itu terhubung.
"Assalamualaikum, Rene," sapa Indi melalui pembicaraan yang dia loud speaker supaya kedua orang tuanya bisa turut mendengar.
__ADS_1
"Ya, waalaikumsalam, Mbak Didi. Tumben, menelpon jam segini mbak?"
"Iya, kangen nih sama kamu. Gimana kabarnya di Jakarta?" Sampai detik ini, Indi berusaha tenang. Nada bicaranya saat menelpon juga terbilang biasa dan santai seperti biasanya.
"Alhamdulillah, baik, Mbak. Nanti liburan semester, aku pulang ke Jogjakarta, Mbak. Ada liburan dua pekan," kata Irene.
Indi terdengar senang saat Irene mengatakan bahwa liburan semester nanti akan pulang ke Jogjakarta. Artinya bisa bertemu dan melepas rindu dengan adiknya itu.
"Wah, ditunggu yah nanti kedatangannya di Jogjakarta. Nanti kami jemput mau di bandara atau stasiun boleh. Oh, iya ... Rene, boleh Mbak bertanya sesuatu?" tanya Indi.
"Tentu saja boleh, Mbak. Kenapa?"
"Begini Rene, kemarin ada tetangga Yayah yang baru saja dari Jakarta. Katanya bertemu kamu, dan mengatakan kabar yang kurang enak mengenai kamu. Apa benar kamu dekat dengan pria di sana?" tanya Indi dengan pelan-pelan.
"Pasti ada fotoku bersama pria dan anak kecil kan Mbak? anak perempuan itu muridku di sekolah kok, Mbak. Terus yang cowok itu Papanya. Kami kebetulan bertemu dan menyapa. Bukan terjadi apa-apa kok, Mbak," klarifikasi dari Irene.
Ayah Pandu dan Bunda Ervita saling pandang. Semoga ucapan Irene benar adanya.
"Dik, ini ada Yayah dan Nda kita yang turut mendengarkan. Semoga benar yah. Yayah dan Nda mau berbicara?" tanya Indi.
Akhirnya Ayah Pandu mengangguk, dia ingin berbicara kepada putrinya itu. "Rene, ini Yayah. Benar, semalam ada omongan sumbang tentang kamu. Kamu dinilai tidak baik oleh seorang tetangga. Kalau klarifikasi darimu benar adanya, Yayah lega. Jaga diri baik-baik, Nak. Kami jauh darimu, sementara pergaulan di Jakarta tentu berbeda dengan di Jogjakarta. Tolong, jaga nama baik keluarga yah, Nak."
"Yah, selama ini Irene benar-benar menjaga hidupnya Irene. Itu muridnya Irene dan Papanya. Anak itu memang dekat dengan Irene. Kadang sembari menunggu dijemput, dia main sama Irene. Walau Yayah dan Nda jauh, Irene beranggapan Yayah dan Nda ada di sini bersama dengan Irene," balas Irene.
"Yayah percaya kepadamu, Dik."
"Nda juga percaya kepadamu, Rene."
__ADS_1
Sekarang semuanya sudah jelas. Orang tua memilih mempercayai anaknya. Walau memang jauh dan tidak bisa mengawasi secara langsung. Akan tetapi, Ayah Pandu dan Bunda Ervita menaruh kepercayaan kepada Irene. Semoga Irene benar-benar bisa menjaga kepercayaan dari kedua orang tuanya itu.