
Selang beberapa hari kemudian, Satria merasa dirinya jauh lebih baik. Bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Walau begitu, Satria juga mengkhawatirkan kondisi Indi. Sebab, dalam pemikiran Satria, Indi yang mengalami semuanya. Sakit yang kian bertambah setiap waktunya, merasakan pembukaan jelang persalinan, hingga melahirkan yang pastinya seluruh rasa sakit itu ditimpakan.
Oleh karena itu, sekarang Satria berusaha untuk menanyai kondisi istrinya. Jangan sampai ketika ada traumatis pasca bersalin yang dihadapi Indi, dan Satria sebagai seorang suami justru tidak tahu-menahu sama sekali. Oleh karena itu, Satria juga ingin tahu bagaimana kondisi mental istrinya.
"Sayang, dulu melahirkan sakit kan?" tanya Satria sekarang.
"Iya, sakit ... sakit banget malahan," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya perlahan. Sebenarnya tanpa Indi menjawab pun, Satria juga sudah tahu bahwa rasa sakitnya teramat sangat. Tangisan, air mata, dan raut wajah Indi bisa mengatakan semuanya itu.
"Kenapa Mas?" tanya Indi sekarang.
"Ehm, enggak sih. Aku cuma mau tanya, itu hanya aku yang trauma atau kamu bisa? Soalnya aku baca-baca para wanita usai melahirkan juga bisa mengalami trauma," jelas Satria.
"Dulu sih awal melahirkan dan rasa sakit itu masih ada, ya takut aja. Namun, maha dashyat Allah, ketika bayi-bayi itu lahir, rasa sakit itu perlahan berkurang, menjadi bahagia banget. Makanya rasa sakit terasa lagi usai penjahitan itu sih," jelas Indi.
Sebab, memang biasa para ibu yang kesakitan dan merasa trauma. Dampak jangka panjangnya ada beberapa wanita yang hanya mau memiliki seorang anak saja. Tidak ingin melahirkan lagi karena sakitnya memang begitu luar biasa. Ketika ditelisik dan dicari akar masalah rupanya karena dampak dari post-natal traumatis sindrom.
"Jadi, kamu baik-baik saja kan? Jangan sampai kamu juga merasakan takut itu dan tidak memberitahu aku sama sekali," kata Satria.
Dengan cepat Indi menggelengkan kepalanya. "Enggak lah, aku kan selalu berbicara apa pun dengan Mas. Terbuka sama Mas juga. Kita kan udah berjanji akan menjadi teman berbagi cerita sepanjang usia," kata Indi.
Satria lega, hingga pria itu menganggukkan kepalanya perlahan. Sangat bersyukur rasanya ketika bisa menjalani berbagai fase yang menyapa dalam kehidupan rumah tangganya. Menjadikan partner sebagai teman untuk berbagi cerita.
"Mas sendiri udah lebih baik belum?" tanya Indi.
"Sudah, kamu pinter banget. Menerapkan dukungan dari orang terdekat. Orang terdekatku adalah kamu, Sayang," balas Satria.
__ADS_1
Apa yang Satria katakan sangat benar karena dukungan dari orang terdekat, dari orang tercinta akan memberikan energi positif. Beberapa hari ini Satria sudah merasakannya. Sejak Indi menyentuhnya beberapa hari ini, Satria merasa lebih baik.
"Kayaknya aku udah beneran membaik deh, Sayang," kata Satria sekarang.
"Syukurlah, aku ikut seneng mendengarnya. Baru sekali, Mas udah membaik," balas Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya lagi. "Ya, karena kamu yang memberikan dukungan. Kamu juga sabar ke aku. Hasilnya sudah terasa kok," balas Satria.
Indi senang sekali mendengarnya. Inilah kehidupan rumah tangga yang bisa dan saling mengisi satu sama lain. Ada kala permasalahan dalam rumah tangga itu kecil-kecil, tapi masalah yang kecil pun juga harus diselesaikan. Dicari jalan keluarnya, sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru.
"Bagus dong. Masak ya Mas akan takut terus sampai anak-anak TK," balas Indi menggoda.
"Ya enggak juga. Mana bisa menahan sampai bertahun-tahun. Kamu ini juga ada-ada aja deh," balas Satria.
Baru Satria membelai perlahan sisi wajah istrinya dan ingin mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya, Sadewa terbangun dan menangis. Papa muda itu tertawa.
"Duh, Dewa nangis di saat yang tidak tepat sih," gumam Satria.
"Sabar, Papa ... aku tolong Sadewa dulu," kata Indi.
"Kamu duduk saja, Sayang. Biar aku yang menggendong Sadewa," balas Satria.
Akhirnya, Satria yang berdiri, dia segera menuju ke box bayi dan segera menggendong Sadewa. Di bagian pantatnya diberikan usapan perlahan untuk menenangkan bayinya itu.
"Sudah malam, Nang ... ayo, bobok. Papa baru mau mencium widodari (dalam bahasa Indonesia adalah Bidadari) loh. Gagal deh," kata Satria.
Sementara Sadewa yang sekarang ditimang Papanya justru berbicara dengan bahasa bayinya yang khas. Bibirnya sampai maju beberapa centimeter seolah mengajak Papanya berbicara.
__ADS_1
"Itu Sadewa mau ngobrol sama Papa tuh," kata Indi.
"Lah iya, malam-malam mau ngobrol sama Papa deh. Besok kalau besar temanin Papa nonton sepakbola yah," kata Satria.
Lebih dari setengah jam Sadewa terjaga. Hingga akhirnya Indi meminta putranya itu, dan memberikan ASI untuk Sadewa terlebih dahulu. Tidak begitu lama, Sadewa kembali tertidur.
"Sudah bobok?" tanya Satria lirih.
"Iya, sudah Papa. Sadewa pengennya main itu sama Papa," balas Indi.
"Iya, besok main-main sama Papa. Papa mengawal Nakula, Sadewa, dan Mama."
Indi terkekeh-kekeh mendengar jawaban suaminya itu. Hingga akhirnya, Satria kembali menaiki ranjang di sisi istrinya. "Lagi enggak, Yang?"
"Mas Satria mau?" tanya Indi.
"Bukan aku, kita. Kan tempo hari aku sudah. Kita juga membutuhkan waktu rileks bersama," balas Satria.
Indi kemudian jam analog di handphonenya sebentar. Jam sudah cukup malam ternyata. Kemudian Indi memberikan jawaban.
"Mas, bukannya aku menolak, tapi ini sudah terlalu malam. Bobok saja yuk. Besok malam kalau Nakula dan Sadewa udah bobok. Bagaimana?" tanya Indi.
Satria justru tersenyum sekarang. "Nah, ucapanmu teduh banget. Aku gak merasa tertolak. Makasih, Sayang. Nyatanya kamu dewasa banget. Iya, besok yah."
Satria segera membuka tangannya, mengisyaratkan Indi untuk masuk ke dalam pelukannya. Jujur, kata-kata Indi dan juga cara wanita itu menuturkannya sangat teduh. Membuat Satria tersenyum malahan. Sementara untuk Indi sendiri dia tahu ketika menolak suami itu dosa, tapi ketika disampaikan dengan baik, diungkapkan alasannya hubungan suami istri juga dinegosiasikan bersama.
"Makasih Mas Satria ... selalu menjadi sosok yang sangat pengertian," kata Indi.
__ADS_1
"Makasih juga, kamu selalu menjadi istri yang bertutur kata baik. Love u, Sayang."
Indi tersenyum, dia memeluk suaminya itu. Sekaligus mempelajari bahwa memang banyak hal di dalam kehidupan berumahtangga yang harus dikomunikasikan bersama. Mencari jalan tengah, tidak marah ketika mendengar sesuatu. Alih-alih marah, lebih baik berusaha menerapkan seni dalam berkomunikasi. Sama seperti Indi dan Satria, istri berusaha berbicara dengan lembut, sementara suami berusaha mengerti dan memahami. Dengan begitu, kehidupan rumah tangga juga jauh dari percekcokan dan juga adu mulut yang kerap terjadi di antara pasangan.