Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Nasib yang Ironis


__ADS_3

Sementara itu dalam sebulan belakangan, Karina benar-benar diawasi oleh Papanya. Bahkan Papa Atmaja seolah menyewa babysitter untuk Karina. Dia mau putrinya itu selalu diawasi. Semua langkah ini Papa Atmaja ambil untuk melindungi Karina. Selain itu, Papanya juga tidak ingin jika anak perempuan jatuh dalam dunia yang kelam dan mendapatkan kenikmatan dari banyak pria.


Ada hari-hari di mana Karina baik-baik saja. Akan tetapi, ada kalanya Karina menangis-nangis dan ingin keluar rumah. Sungguh, Karina benar-benar diperlakukan layaknya tahanan rumah oleh Papanya sendiri.


"Pa, sampai kapan Karina ditahan seperti ini? Karina bukan narapidana, Pa ..., tapi Papa membuatku dan memperlakukanku layaknya seorang narapidana."


Karina berteriak-teriak sekarang. Wanita itu merasa kebebasannya sudah direnggut oleh Papanya sendiri. Selain itu, jujur Karina merindukan jamahan dan sentuhan. Tidak ada pria yang memuaskannya membuat Karina benar-benar gila.


"Biarkan Karin pergi, Pa. Karin mau bebas. Karin tidak mau ditahan seperti ini."


Karina benar-benar merengek seperti anak kecil. Kalau bisa keluar rumah itu jauh lebih baik, tapi Karina tidak diperkenankan keluar rumah. Seluruh aktivitas dipindahkan di dalam rumah. Terbiasa bebas, bisa jalan dengan para cowok, mendapatkan kenikmatan dan sekarang terkungkung di rumah membuat Karina kehilangan sisi dirinya sendiri.


Papa Atmaja prihatin rasanya putrinya itu memiliki perasaan yang seperti ketagihan obat terlarang dengan suasana hati yang berubah-ubah karenanya. Kadang menangis histeris, kadang tertawa sendiri.


"Non Karin, istirahat dan olahraga supaya lebih bugar," kata asisten khusus yang ditempatkan untuk mengawasi Karina.


"Aku gak mau ... aku butuh pria," balas Karina.


Dalam dua minggu pertama, Karina seolah benar-benar ketagihan. Tidak ada sentuhan, tidak ada yang menyegarkan hasratnya. Pernah Karina hingga melakukan sendiri dengan alat yang dia beli waktu berada di Belanda. Alat untuk memuaskan diri sendiri yang berbentuk laksana pusaka pria itu.


Namun, setelahnya ada luka pula di lipatan bibir sensitif miliknya. Selain itu, ruam merah di pangkal paha naik hingga area sensitif miliknya. Semula tidak berasa sakitnya, tapi lama-lama menjadi gatal dan Karina menjadi demam.


Panik dengan kondisi Karina, maka Papa Atmaja membawa Karina berobat. Barulah di sana terdapat diagnosa yang membuat Papa Atmaja benar-benar sedih.


"Sakit apa yang diderita anak saya, Dokter?" tanya Papa Atmaja.


"Apa putrinya Bapak memiliki aktivitas seksualitas yang tidak wajar?"

__ADS_1


Itu sebenarnya adalah pertanyaan yang sangat sensitif. Kalau dijawab malu, kalau tidak dijawab juga dalam memeriksakan diri kepada Dokter kulit dan kelamin memang harus ada kejujuran dari pasien kepada Dokternya.


"Kurang lebih," jawab Papa Atmaja.


Dokter itu menganggukkan kepalanya. Kemudian menunjukkan file foto sebagai contoh.


"Ruam-ruam merah di pangkal paha hingga ke bagian sensitif ini adalah virus dan bakteri. Biasanya terjadi karena memiliki aktivitas yang tidak sehat. Melakukannya dengan lebih dari satu pasangan. Lantaran bakterinya sudah menyebar membuat pasien demam, kerontokan rambut, dan lainnya. Jadi, pasien terkena Sifilis Laten."


Papa Atmaja terperanjat mendengarnya."Apa wanita bisa terkena penyakit itu?" tanya Papa Atmaja.


"Sangat bisa. Bahkan ruam ini bisa hingga ke bibir dan bagian dalam mulut jika memang sering melakukan o-ral ke beberapa pasangan yang berbeda. Syukurlah Bapak segera membawanya ke rumah sakit. Pengobatan ini membutuhkan waktu satu hingga dua tahun, karena sudah sampai taraf Laten," jelas sang Dokter.


"Maksudnya bagaimana itu?" tanya Papa Atmaja.


"Jika tidak diobati, pasien bisa terjangkit Human Immunodeficiency Virus dan belum ada obatnya hingga sekarang."


"Kita akan pantau satu tahun ini. Semoga virus dan bakterinya bisa diobati sebelum berubah menjadi HIV. Untuk menjaga emosi pasien, saya sarankan melakukan terapi juga," kata Dokternya.


Usai dari Rumah Sakit, Karina menangis sepanjang hari. Bayang-bayang terkena Human Immunodeficiency Virus membuatnya takut. Sebab, ketika sudah terjangkit virus ini tidak akan bisa disembuhkan. Akan selamanya mengidapnya, sampai imun dan daya tahan tubuhnya melemah dan akhirnya meninggal.


"Sudah Karin ... kita jalani bersama. Jadikan ini pelajaran," kata Papa Atmaja.


"Apa Karin akan sembuh, Pa?" tanyanya.


"Kita usahakan. Satu tahun ini kita melakukan pengobatan dulu. Kalau tidak ada perkembangan, kita akan berobat ke luar negeri. Jadikan pelajaran. Jangan berhubungan secara liar, jangan main bertiga. Papa sangat sedih mendengar semua itu. Papa tertampar ketika putri Papa melakukan semua itu," kata Papa Atmaja.


Ya, Papa Atmaja sangat sedih ketika Anthony mengungkapkan semuanya. Papa Atmaja pikir bahwa Anthony kala itu mau bertanggung jawab dan menikahi Karina, ternyata tidak sama sekali. Anthony terang-terangan menolak untuk menikahi Karina.

__ADS_1


"Karina takut kalau virus itu berubah menjadi HIV, Pa ...."


Diagnosa dari Dokter masih terngiang-ngiang di telinga Karina. Ada ketakutan jika sampai virus itu semakin parah. Papa Atmaja juga sedih sekali.


"Perbaiki diri kamu, Karin. Masih ada waktu untuk bertobat dan memperbaiki diri."


Papa Atmaja menganggap ini memang karma yang putrinya lakukan. Dulu, hidup hanya bersenang-senang dan mencari kenikmatan, sekarang baru tahu bahwa nikmat kadang membawa bencana setelahnya.


...🍀🍀🍀...


Sementara itu di Kediaman Viona ....


"Aku benar-benar minta maaf, Vio. Dulu aku yang berengsek dan salah. Aku yang bersalah dalam rumah tangga kita," kata Anthony.


"Sudah, Thony. Lupakan saja. Sekarang fokus ke dirimu dan pengobatannya. Berapa lama harus berobat?" tanya Viona.


"Satu hingga dua bulan. Luka dan nanah yang keluar harus bersih dulu. Allah maha adil, hanya sebulan dan aku mengidap sakit ini," kata Anthony.


"Aku tidak menyalahkan, tapi di kemudian hari berhati-hati. Bukankah lebih baik dengan pasangan yang halal, beroleh pahala. Kalau seperti ini kenikmatan sesaat benar-benar menjadi musibah. Di kemudian hari kalau bertindak ingatlah ada Arbe. Jangan sampai apa yang ditabur orang tua akan dituai oleh anak-anak kelak," kata Viona.


Anthony menganggukkan kepalanya. Luka yang dia rasakan bukan sekadar ruam, luka, dan nanah yang terjadi di puncak pusakanya. Namun, juga sakit di hati karena menyesal. Dulu saat bertindak tidak memikirkan dampak atau risiko jangka panjangnya.


"Aku benar-benar meminta maaf kepadamu dan Arbe," kata Anthony.


"Kami memaafkanmu, Thony. Jangan diulangi lagi. Setidaknya pertanggungjawabkan perbuatanmu sendiri."


Anthony menganggukkan kepalanya. Dia akan lebih berhati-hati. Ini adalah kasus nyata untuk pentingnya menjaga aktivitas seksualitas hanya dengan pasangan. Tidak berganti-ganti pasangan. Pernikahan adalah ibadah terpanjang, tersulit, dan sekaligus terindah. Terpanjang karena berlangsung sepanjang usia. Tersulit karena banyak cobaan yang mendewasakan kedua pasangan. Terindah karena ganjaran pahala yang Allah berikan untuk pasangan suami istri hingga jannah nanti.

__ADS_1


__ADS_2