
Anthony banyak terdiam sembari dia mengamati Arbe yang tengah meminum susu formula dengan tempat minumnya. Jika memandang binar mata putrinya, Anthony sering kali merasa bersalah. Seharusnya putrinya itu mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Akan tetapi, Arbe sudah kehilangan kasih sayang secara utuh dan penuh. Kebersamaan dengan Mama dan Papanya juga tidak bisa setiap hari.
"Sudah, jangan pikirkan. Lain kali kamu juga akan terbiasa juga kok," kata Viona yang melihat perubahan raut muka suaminya.
"Realita pasangan yang sudah bercerai seperti ini yah, Vio. Jauh lebih menyesakkan," kata Anthony sekarang.
Bagi Anthony justru perasaan ini terasa lebih menyesakkan. Ingin melakukan lebih, ingin menunjukkan perhatian, tapi terganjal status sebagai mantan pasangan. Mungkin kalau mantan pacar rasanya tidak seberapa, sedangkan kalau mantan suami atau istri rasanya lebih tidak enak di dalam hati.
Seperti ada tembok tinggi yang dibangun di antara dia dan Viona. Menyesal? Tentu saja, tapi semuanya tidak bisa diputar lagi.
"Inilah jalan yang sudah kita ambil dan sepakati bersama, Thony. Harus komitmen untuk menjalaninya," balas Viona.
"Jujur, aku menyesali semuanya," kata Anthony sekarang.
Viona tersenyum tipis. Benar orang berkata penyesalan selalu datang terlambat. Sementara Viona sendiri sudah tidak menyesali semuanya. Viona lebih ingin menerima realita yang ada. Menjadi pasangan yang sudah bercerai pun bisa bekerja sama dan kooperatif untuk Arbella. Pandai-pandai menjalin komunikasi, menyesuaikan diri, dan tentunya menempatkan diri juga.
"Kita bisa menerapkan Co-Parenting bersama-sama, Thony," balas Viona.
Ya, Co-Parenting adalah pola pengasuhan bersama yang dilakukan oleh pasangan yang sudah bercerai. Sebab, walaupun sudah bercerai dan tidak bersama-sama lagi dalam membina biduk rumah tangga, tetapi keduanya harus bersama-sama berusaha memberikan pengasuhan yang terbaik untuk anak, memenuhi kebutuhan anak, dan menjaga kedekatan hubungan antara anak dengan orang tuanya.
__ADS_1
"Apa melakukannya tanpa melibatkan perasaan?" tanya Anthony dengan lirih.
"Tentu saja bisa. Bersikaplah profesional," balas Viona.
"Mudah untuk berbicara, Vio, tapi kenyataannya untuk melakukan semua itu sangatlah tidak mudah," aku Anthony.
Viona melirik Anthony sejenak. "Ikhlaskan masa lalu. Ikhlaskan juga rumah tangga kita yang hancur. Sudah tidak ada yang perlu ditangisi dan disesali. Sekarang, waktunya fokus dengan apa yang di depan mata sembari menjadi Mama dan Papa untuk Arbella. Toh, kita bisa berbicara berdua seperti ini hanya untuk Arbe bukan?"
Lagi-lagi ucapan Viona itu seperti cubitan di hatinya. Alih-alih melibatkan perasaan, lebih baik untuk bersikap profesional. Mereka dekat sekarang hanya karena Arbella saja. Menjaga dan menjalin komunikasi semata-mata untuk anak semata wayangnya saja.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah sembuh?" tanya Viona sekarang.
"Dua hingga tiga kali pengobatan lagi. Sudah tidak ada luka, ruam, dan nanah. Walau begitu, aku masih takut," balas Anthony.
Ya, memang sudah tidak ada luka, ruam, atau nanah yang sebelumnya keluar di puncak pusakanya. Walau demikian, Anthony mengaku masih takut. Sementara Viona mencoba mendengarkannya.
"Hm, sekarang aku berbicara dengan menempatkan diriku sebagai sahabatmu, Thony. Ketika sembuh nanti, lebih menjaga dirilah. Jangan hanya mengejar kenikmatan semata. Ingat wajah Arbe, dia juga membutuhkan figur Papa yang baik. Kadang kita bersikap baik, hidup tidak pernah menyerong ke kanan atau ke kiri, tapi kelak ada karma yang tidak baik. Jadi, hati-hatilah," kata Viona.
Sebatas memberikan nasihat dan memberi tahu saja bahwa sejatinya manusia hidup itu hanya menuai apa yang dia tabur sebelumnya. Ada yang hidupnya lurus, tapi keturunannya menuai apa yang tidak baik. Ngunduh Wohing Pakarti itu benar-benar terjadi. Tergantung bagaimana kita menyingkapinya. Hanya saja sebagai sahabat kini, Viona mengatakan supaya Anthony kala bertindak dan berperilaku mengingat Arbe. Biarkan tindakan dan perilaku baik orang tua, nanti juga akan mendatangkan kebaikan untuk Arbella saat dewasa nanti.
__ADS_1
"Aku akan lebih berhati-hati, Vio. Makasih untuk nasihatmu. Walau masih berat bagiku untuk menganggapmu sebagai seorang teman atau sahabat. Aku masih berharap ada kesempatan kedua," kata Anthony.
Sementara, Viona tersenyum. Jujur dia merasakan trauma. Semula Viona juga tidak menyangka bahwa dirinya mulai hilang kepercayaan dengan makhluk yang bernama pria. Takut ditinggalkan dan diselingkuhi.
Apa yang dirasakan Viona pun sangat wajar. Dia ditinggal suaminya selingkuh saat usai melahirkan dan tahap awal menyusui. Ada rasa sakit pasca bersalin di mana tubuh masih sakit dan gejolak hormonal yang berpengaruh ke emosi. Akan tetapi, di saat dirinya berada di titik rendah, Viona harus diperhadapkan dengan realita bahwa ada wanita yang datang ke rumah dan mengakui sebagai teman ranjang suaminya.
Dunia Viona seketika hancur. Kala itu, bahkan sampai beberapa hari produksi ASI-nya berkurang drastis. Pikiran berat yang memicu stress berlebih akhirnya membuat ASI berkurang produksinya. Untung ada orang tua Viona yang selalu mensupport dan juga Viona sendiri membeli ASI booster untuk memperbaiki produksi kelenjar laktosa hingga produksi ASI-nya bisa kembali meningkat.
"Sebaiknya kita memang begini adanya, Thony. Kita pernah tidak cocok kala menjadi pasangan suami istri. Rumah tangga kita gagal dan berantakan, tapi kita bisa bekerja sama bukan untuk Arbe? Gagal menjadi suami atau istri, tapi tidak gagal kala menjadi orang tua untuk Arbe," kata Viona dengan mengangguk beberapa kali.
"Lebih ironis, aku yang menggagalkan rumah tangga kita sendiri," kata Anthony dengan begitu lirih.
Viona kemudian tersenyum kecut. Dia kadang ingin menertawakan saja apa yang sebelumnya pernah dia lewati. Semua yang sudah berantakan, Viona ingin membiarkan semua itu. Hatinya pun sudah tertutup untuk pria mana pun. Prioritas Viona adalah membesarkan Arbe saja.
Arbe yang usai meminum susu akhirnya, menatap Mama dan Papanya. Usai itu, dia mengajak Papanya bermain lagi. Akhirnya Anthony berdiri dan bermain dengan Arbe lagi. Sementara Viona membereskan tempat minum Arbe dan menutup kembali tas milik Arbe. Sembari duduk dia mengamati Anthony dan Arbe yang sedang bermain bersama.
"Dulu, tidak pernah kamu berpikir untuk turut mengasuh Arbe. Bahkan lebih dari seminggu kamu tidak pulang. Apakah bayimu sehat, sudah lepas tali pusar atau belum, kamu tidak tahu ... semua itu masih membekas di hatiku, Thony. Rasanya aku tidak akan bisa membuka hati untuk pria lagi. Aku lebih bahagia seperti ini, yang pasti aksesmu untuk menemui Arbe tidak akan tertutup."
Viona bergumam seperti itu di dalam hatinya. Bagi Viona memang lebih baik seperti ini adanya. Keduanya tak bisa bersatu menjadi orang tua untuk Arbe, ada keretakan yang terjadi. Akan tetapi, bagi Viona semua ini sudah lebih baik. Selain itu, Viona merasa lebih bahagia. Yang pasti tidak akan menutup akses untuk Anthony bertemu dengan Arbella.
__ADS_1
Inilah realita pasangan yang sudah bercerai. Mungkin salah satu pihak masih menggunakan perasaan atau terbawa dengan kenangan masa lalu. Diperlukan sikap profesionalitas, diperlukan komitmen untuk tidak mencampurkan perasaan dan realita yang ada. Lebih baik untuk tetap berjalan di koridor yang sudah tersedia. Gagal menjadi pasangan hidup, tapi tidak akan gagal menjadi partner dan orang tua untuk Arbella.