
Bagi Karina, Indi hanya anak penjual batik. Tidak ada yang bisa dibanggakan sama sekali dari wanita itu. Jujur, Erina terheran-heran bagaimana mungkin seorang Satria jatuh hati kepada Indi.
Karina bertambah kesal ketika Indi ternyata tidak lemah. Indi justru berani membalasnya. Padahal dari wajahnya dan perangai Indi yang halus dan santun, rasanya tak mungkin Indi membalas. Namun, Karina salah karena Indi ternyata tidak terintimidasi sama sekali.
Dia pikir mengatai Indi sebagai anak penjual batik akan membuat Indi rendah diri, ternyata tidak, Indi mengakui justru bangga menjadi anak penjual batik. Hingga akhirnya, kala bekerja beberapa pekerjaan mengobrol tentang cinta beda kasta. Di sana, Karina turut menyahut.
"Sekarang sih cinta beda kasta udah wajar, cuma mending cari yang sekasta saja. Biar enggak diremehin," kata Karina.
Sengaja wanita itu mengatakan itu dengan melirik Indi. Sebab, di mata Karina sejujurnya Indi dianggap remeh oleh keluarga Negara, termasuk Rama Bima yang sampai sekarang belum memberikan restu.
"Udah cinta, mbak Karin ... asal pasangannya gak nyebut-nyebut tentang harta dan kasta sih gak apa-apa," balas Tedja yang juga pengerja di situ.
"Orang biasanya berpikirnya begitu, nanti kalau udah mau nikah, gak dapat restu karena beda kastanya ... nangis," balas Karina.
Lantas Tedja bertanya kepada Indi, "Mbak Indi sudah menikah belum sih? Seminggu ini kok diantar MasE," tanya Tedja.
Indi yang semula diam pun berbicara. "Sudah, sudah menikah," balas Indi lembut.
"Wah, selamat loh Mbak Indi. Gak undang-undang sih?" tanya Tedja lagi.
Indi menggelengkan kepalanya. "Nikah gak perlu disebarkan, intinya doanya saja semoga SaMaWa," balas Indi.
"Amin ...."
Tedja dan beberapa staf yang lain mengaminkan. Namun, mereka melihat Indi dan sosok suaminya adalah pasangan yang serasi. Indi yang cantik dan lembut, pun Satria yang tampan. Keduanya laksana Kumajaya dan Kumaratih yang sebenarnya.
__ADS_1
Dalam Pewayangan Jawa, sosok Kumajaya dan Kumaratih adalah simbol cinta abadi. Keduanya adalah dewa dan dewi yang menyebarkan cinta. Tak ayal, Kumajaya dan Kumaratih menghiasi beberapa undangan pernikahan yang mengusung konsep Jawa.
Setelah beberapa staf mengambil kerjaan mereka masing-masing. Masih ada Karina di sana. Lagi-lagi wanita itu mencibir Indi.
"Gak usah jumawa, toh kamu dan Satria berbeda kasta," cibir Karina.
Indi tersenyum, lagi-lagi dia menunjukkan tidak akan semudah itu mengintimidasinya. Jika itu hanya cercaan saja tidak akan meruntuhkan Indi. Toh, dia sudah kebal, bagaimana pun Karina hanya mencibir saja.
"Ibarat kata kamu kan dari Sudra," kata Karina lagi.
Dalam tatanan kelas sosial dalam masyarakat, Sudra adalah kasta terendah. Dengan percaya diri dan tanpa rasa bersalah, Karina terus-menerus mencibir Indi.
"Iya, tidak apa-apa. Cinta bisa melawan kasta, aku dan Mas Satria akan membuktikan itu," balas Indi.
"Uh, sombongnya," balas Karina.
Indi berdiri dan meninggalkan Karina. Suatu pemikiran yang merasa bahwa cinta sebaiknya satu kasta. Tidak bisa berpikir bahwa cinta bisa memangkas jarak, cinta bisa menjembatani dua perbedaan. Sayang sekali, hanya mengungkung pikiran adalah sebuah pandangan sempit.
Rupanya perbincangan itu terdengar oleh Rama Bima, ketika Indi beranjak pergi tepat di depan ruangannya, Rama Bima memanggil Indi.
"Bisa kita berbicara sebentar?" tanya Rama Bima.
Indi menganggukkan kepalanya, dia mengikuti Rama Bima ke ruangannya. Hanya berbicara empat mata dengan Indi.
"Tadi saya mendengar kamu berbicara dengan Karina, jadi kamu merasa cintamu dan Satria yang berbeda kasta dan strata itu lazim?" tanya Rama Bima.
__ADS_1
Indi menghela napas panjang. Lelah rasanya harus beradu pendapat dengan banyak orang. Terlebih dengan mereka yang tidak mau membebaskan pikirannya, menerima suatu perubahan.
"Segala sesuatu di dunia ini relatif, Bapak. Ada perbedaan antara saya dan Mas Satria, saya kira semua pasangan yang lain juga memiliki kekurangannya sendiri-sendiri. Akan tetapi, saya ingat bahwa sebenarnya Bapak itu melarang beda kasta di antara kami. Sebab, saya ingat dulu Bapak datang ke rumah kami, rumah penjual batik untuk menjadi pasangan Mas Satria."
Walau sopan, perkataan Indi tampak menekankan pada beberapa hal. Termasuk pada awalnya, keluarga Negara tidak mempermasalahkan keluarga Hadinata yang notabene adalah pengrajin dan penjual batik sejak bertahun-tahun lamanya.
"Namun, kamu dan Satria memang berbeda," balas Rama Bima.
"Jelas berbeda Bapak. Namun, maha kuasanya Allah menyatukan mereka yang berbeda. Dengan semua kurangnya saya, saya bisa menerima, Pak. Saya berdamai dengan masa lalu dan latar belakang saya. Bahkan saya berdamai dengan ayah biologis saya. Tidak ada hal yang lebih indah selain berdamai. Menerima perbedaan bukan sebagai penghalang, tapi memperindah hubungan," jelas Indi.
Bukan tanpa maksud, Indi hanya menjelaskan bahwa awal mulanya keluarga Negara memang datang ke rumahnya. Ingin menjalin silaturahmi. Perbedaan kasta bisa diterima, yang mereka tolak adalah ketidaknasaban Indi. Akan tetapi, Indi juga memberikan penjelasan bahwa dia sudah bertemu dengan ayah biologisnya dan mau memaafkan.
Rama Bima seolah terhenyak mendengar ucapan Indi. Jujur, dia mengira bahwa Indi akan sedih dan tidak mengakui ayah biologisnya, lebih dari itu, Indi justru memberikan maaf.
"Apa benar?" tanya Rama Bima.
"Ya, saya memaafkan Bapak Kandung saya. Ayah saya berkata, meminta maaf tidak menjadikan kita lebih tinggi atau lebih rendah, tapi menunjukkan kebesaran hati kita, keberanian kita untuk berdamai dengan masa lalu. Tuturan Ayah dan Bunda yang saya lakukan," balas Indi.
"Apa semudah itu memberi maaf?"
"Ya, apakah dengan terus membenci dan mendendam semuanya bisa beres begitu saja? Tidak. Saya lebih memilih memaafkan."
Usai menjawab semuanya dengan panjang lebar, Indi memilih undur diri. Sudah selesai dia menyampaikan pendapatnya yang memang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Indi menerima perbedaan dia dan Satria. Namun, Indi juga bersyukur kepada Allah, karena Allah yang menyatukan setiap pasangan yang berbeda dalam satu biduk rumah tangga.
"Baiklah, permisi Bapak ... saya kembali bekerja," balas Indi.
__ADS_1
Sekarang, Rama Bima tak bisa berbicara apa pun. Sedikit banyak, ucapan Indi mengusik dirinya. Ya, Rama Bima menyadari dulu, dia dan keluarga datang untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga Hadinata. Namun, begitu tahu bahwa Indi adalah seorang anak tanpa nasab, barulah keluarga Negara memilih memutuskan silaturahmi. Sehingga, Indi mengatakan yang sebenarnya bahwa awal mulanya keluarga Negara bisa menerima dirinya yang notabene hanya anak penjual batik.