
Beberapa bulan sudah berlalu, kini Nakula dan Sadewa sudah berusia dua tahun. Kedua anak kembar itu tumbuh dengan sangat baik. Walau untuk berbicara belum lancar dan hanya menguasai beberapa kosakata saja, tapi Nakula dan Sadewa sangat aktif. Terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas fisik seperti berlarian, keduanya sangat aktif.
"Nang-Nang sudah dua tahun loh, Mama. Enggak waktunya bagi mereka berdua untuk lepas ASI?" tanya Satria.
Lepas ASI atau menyapih adalah proses dan usaha menghentikan pemberian ASI untuk bayi. Pemberian ASI eksklusif diberikan ketika bayi berusia 0 bulan hingga berusia 2 tahun. Sekarang, bocah kembar itu sudah berusia 2 tahun, sudah waktunya untuk lepas ASI.
"Iya ya, Mas. Nang-Nang kita sudah dua tahun. Gak terasa banget. Kayaknya baru kemarin dilahirkan, sekarang sudah dua tahun aja sih. Aku akan sounding dulu ke Nang-Nang biar enggak kaget," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Apa pun nanti dia hanya ingin menyapih pun dilakukan dengan cinta. Satria paham di masa transisi ini ibu, ayah, dan anak akan bekerja sama satu sama lain. Supaya berhasil tentunya. Selain itu, anak yang sudah berusia dua tahun juga kebutuhan gizinya semakin berkembang, mereka juga mulai dikenalkan dengan berbagai makanan padat dengan gizi seimbang tentunya.
Baru saja membicarakan Nang-Nang, sekarang Nakula dan Sadewa sudah mendekat dengan Mamanya. Keduanya kompak meminta ASI.
"Nen ... Num ...."
Nakula dan Sadewa meminta minum. Minum yang dimaksud pun juga adalah minum ASI. Indi memberikan ASI dulu untuk kedua putranya itu. Sebenarnya Indi beruntung karena sering diberitahu Nakula dan Sadewa juga baik kalau meminum ASI. Tidak menggigit layaknya baby shark. Dulu memang iya, sampai lecet dan berdarah. Namun, setelahnya tidak lagi. Akan tetapi, sekarang anak-anak sudah dua tahun, sudah saatnya untuk lepas ASI.
"Nakula dan Sadewa, besok mulai enggak Nen yahh ... kalau mau minum susu di gelas atau dot yah. Nang-Nang sudah semakin besar sekarang. ASI-nya Mama juga lama-lama kurang untuk kalian berdua."
Dua anak kembar itu tampak memperhatikan wajah Mamanya. Sesaat kemudian Sadewa melepas ASI yang semula dia minum, dia kemudian berjalan dan mengambil dodot ASIP miliknya dan menyerahkannya kepada Mamanya.
"Num ... ini," katanya lucu dengan menunjuk-nunjuk.
"Iya, mulai besok, kalian minumnya memakai dodot atau gelas yah. Kalian berdua belajar lepas ASI, Mama juga belajar," kata Indi.
Melihat saudara kembarnya mengambil dodot, kemudian Nakula juga menyudahi meminum ASI-nya. Dia juga berlari dan mengambil dodot ASIP miliknya.
__ADS_1
"Nen ... num num," katanya dengan berteriak.
Entah keduanya memang benar-benar tahu ucapan yang baru saja disampaikan oleh Indi atau hanya tindakan reflektif saja. Indi dan Satria tertawa sendiri. Kemudian, keempatnya saling memeluk satu sama lain.
"Pinter yah, Nang ... Papa nanti belikan susu formula yang kandungan gizinya seimbang buat kalian. Sehat selalu yah, Nang-Nangnya Papa," kata Satria.
Walau tidak begitu banyak drama, selang beberapa jam kemudian Nakula dan Sadewa yang mengantuk setelah bermain hingga siang hari mulai menangis. Keduanya kompak meminta minum ASI.
"Punya Mama sakit itu, Sayang. Yuk, kita membuat susu yuk. Pa, bantuin bikin susu yuk untuk Nang-Nang," kata Indi kepada suaminya.
Si Papa yang sedang enak-enak melihat highlights pertandingan sepakbola di Youtube yang terkoneksi dengan tv pun segera menjedanya sesaatnya. Satria segera berdiri dan menggendong kedua putranya.
"Yuk, sini gendong Papa," kata Satria.
Akhirnya mereka menuju ke dapur, Indi membuatkan susu formula untuk Nakula dan Sadewa. Satu anak dibuatkan di satu dodot. Sedikit hangat memang. Mencoba susu formula untuk kali pertama, lidah mereka keluar. Seakan menerka rasa susu yang berbeda dengan ASI.
"Cu ... Ma," pinta Nakula. Yang dimaksudkan oleh Nakula mau susu milik Mamanya. Susu ASI. Untuk bayi yang sudah terbiasa ASI, ketika diganti dengan susu formula mereka juga akan beradaptasi dengan rasanya. Nakula dan Sadewa juga seperti itu, di dagunya sampai terkena susu.
"Kenalan dulu sama rasanya yah. Ini juga enak kok. Bikin Nang-Nang sehat," balas Indi.
Satria kemudian mengambil tissue dan membersihkan dagu putranya. Tersenyum saja si Papa Satria. Walau sesungguhnya Satria kasihan juga melihat anak-anak yang mulai mengantuk dan menangis.
"Lepas ASI pun berat yah, Pa? Kadang gak tega melihat mereka menangis," kata Indi.
"Harus tega, Sayang. Ini kan bagian dari proses belajar juga. Anak-anak belajar, kita juga belajar. Aku dampingi kalian bertiga," kata Satria.
__ADS_1
Sesungguhnya Indi sudah nyaris menangis. Dia lebih merasa tidak tega dengan Nakula dan Sadewa yang belum cocok dengan susu formula. Selain itu, tangisan kedua anaknya juga begitu kenceng. Seluruh wajahnya basah karena air mata yang terus mengalir. Satu tangisan bayi saja membuat rumah penuh, sekarang dua bayi benar-benar sama-sama menangis.
"Yuk, sama Papa yuk," ajak Satria.
Akhirnya Satria menggendong Nakula dan Sadewa, mengajaknya di kamar. Di sana Satria mengalihkan perhatian dari Nakula dan Sadewa, tetap membawa dodot yang berisikan susu formula.
"Sini main sama Papa. Papa bacakan buku untuk Nakula dan Sadewa, untuk Nang-Nangnya Papa," kata Satria.
Mulailah Satria mengambil buku Dinosaurus, ada jenis dinosaurus pemakan tumbuhan yang memiliki leher yang panjang yang bernama Diplodocus atau Brontosaurus.
"Ini namanya Brontosaurus, Nang. Lehernya panjang sekali. Kenapa Tuhan menciptakan Brontosaurus dengan leher yang sangat panjang? Supaya Brontosaurus bisa memakan dedaunan dari pohon-pohon yang menjulang tinggi."
Mendengar suara Papanya membacakan cerita, tangisan keduanya reda. Hingga Sadewa seolah bertanya walau belum jelas. "Ni, num cu?" tanyanya.
Bocah berusia dua tahun bertanya dengan menunjukkan gambar Brontosaurus itu, apa dia minum susu? Satria kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Brontosaurus tidak minum susu, dia minum air putih. Sama seperti Nang-Nang kalau abis disuapin Mama makan, minumnya air putih. Air putih juga sehat, susu juga sehat. Susu ini juga sehat. Minum yah, bobok siang dulu. Papa bacakan nanti Tiranosaurus dan jenis Dino lainnya yah, kesukaannya Nang-Nang."
Akhirnya setelah Satria berhasil mengalihkan perhatian kedua putranya, mulailah Nakula dan Sadewa mau meminum susu dari dot. Susu formula, bukan lagi ASI. Dibacakan cerita Dinosaurus hingga akhirnya Nakula dan Sadewa terlelap.
Satria menghela napas lega dan tersenyum melihat kedua putranya yang tidur dengan memegangi dodot susunya. "Bobok yah, istirahat dulu. Sehat-sehat Nang-Nangnya, Papa. Tanpa ASI, kalian juga akan tumbuh dan sehat. Waktunya lepas ASI, kebutuhan nutrisi kalian kian bertambah, Nang."
Satria mengucapkan semua itu dengan lirih. Kunci lepas ASI sukses bukan hanya di ibu, tapi di sosok ayah juga. Ketika ibu lelah dan kadang tidak tega, Ayah bisa mengambil peran. Sama seperti Satria, yang berusaha mengalihkan perhatian anak-anaknya dan memberikan pengertian dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak-anak.
Happy Parentingđź’•
__ADS_1