Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Membagi Kabar Baik Keluarga di Solo


__ADS_3

Akhir pekan tiba. Sekarang, Indi dan Satria menuju ke Solo. Sengaja mereka berangkat masih begitu pagi dari Jogjakarta, tujuannya memang untuk memiliki cukup banyak waktu di Solo. Terlebih biasanya sedikit siang saja arus lalu lintas dari Jogja ke Solo begitu ramai dan di beberapa titik juga macet.


"Mau mampir enggak, Sayangku?" tanya Satria kepada istrinya.


Hanya perjalanan dengan menggunakan mobil dari Jogja ke Solo saja, Satria menaruh bantal yang bisa dipakai di punggung Indi. Dengan begitu, istrinya bisa duduk di mobil dengan lebih nyaman. Ada snack sehat dan susu juga yang Satria buat untuk Indi. Terlihat dengan jelas bagaimana Satria meratukan istrinya.


"Kok banyak Salak Madu yah Mas," balas Indi.


Memang kala melintas sepanjang perjalanan menuju ke arah Sleman ada penjual Salak Madu. Indi tampak mengamati beberapa penjual dengan mobil pick up yang berjualan Salak Madu.


"Mau, biar aku menepi dulu aku beliin. Mau Salak Pondoh atau Salak Madu?" tanya Satria.


"Beneran gak apa-apa, Mas?"


"Gak apa-apa, Sayang. Mau berapa satu kilo?" tanya Satria lagi.


"Sedikit saja, Mas. Setengah kilo aja kali. Gak habis nanti," balas Indi.


Akhirnya Satria menepikan mobilnya. Dia sendiri yang turun dari mobil dan membelikan Salak Madu untuk istrinya. Menuruti permintaan Ibu hamil membuat Satria merasa bahagia. Istri bahagia, suami juga bahagia.


Setelah itu, Satria kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa kantong plastik berisi setengah kilogram Salak Madu dan memberikannya kepada istrinya.


"Ini, Sayangku. Aku mintakan kantong plastik kecil biar bisa buat menaruh kulit dan bijinya," kata Satria.


"Baik banget sih, Mas. Calon Papa perhatiannya luar biasa deh," balas Indi.


"Harus dong, melayani Istri yang hamil kan perhatiannya sampai ke Babies juga. Ya kan, Nak ... kalian bisa merasakan kasih sayang dan perhatiannya Papa kan?" tanya Satria dengan mengusap perut istrinya perlahan.


Sungguh Indi merasa sangat senang. Dia juga yakin bahwa kedua bayinya juga akan bisa merasakan kasih sayang dan perhatiannya Papanya. Bahkan Indi merasa suaminya itu memberikan rasa aman dan juga membuatnya memiliki mood yang baik selama hamil.


Satria melanjutkan mengemudikan mobilnya sementara Indi duduk manis sembari menikmati Salak Madu yang dibelikan suaminya. Akan tetapi, untuk Salak pertama, dia kupas kulitnya dan bersihkan kulit arinya. Kemudian Indi memberikan untuk suaminya terlebih dahulu.


"First, buat Papa," katanya.

__ADS_1


"Aciih, Sayang," balas Satria.


Sembari menyetir, Satria juga memakan Salak yang tinggal dikunyah itu. Sembari mengobrol dan menikmati perjalanan pagi dari Jogjakarta menuju ke Solo. Di sepanjang Sleman rupanya ada beberapa penjual buah tidak hanya Salak, tapi juga Jeruk Keprok, Rambutan, hingga Duku. Indi sampai bertanya-tanya apakah sedang musim buah-buahan di Jogjakarta sampai banyak penjual buah di tepian jalan.


"Mau buah apa lagi? Kalau Bumil makannya buah kan sehat," kata Satria.


"Enggak, cuma pengen Salak Madu ini tadi. Manis banget yah, Mas," kata Indi sekarang.


"Manisan kamu, Sayang," balas Satria.


Blush!


Kedua pipi Indi seketika merona-rona mendengarkan balasan dari suaminya itu. Ucapan manis Satria berhasil membuat Bumil itu tersipu malu. Hingga Indi mencubiti paha suaminya.


"Awas, jangan cubit-cubit nanti aku enggak konsentrasi nyupirnya loh," balas Satria.


"Habis, mulut kamu manis banget. Penuh Glukosa yah, Pa?" balas Indi.


"Hm, iya. Penuh Glukosa biar gula darah kamu naik, penting jangan sampai kena diabetes yah," balas Satria.


"Solo Safari jadi ramai banget yah, Mas?" tanya Indi ketika melintasi Solo Safari.


Kebun binatang yang dulunya bernama Taman Satwa Taru Jurug ini sekarang sepenuhnya direnovasi dan direbranding, hasil kerja sama dengan Taman Safari Indonesia hingga sekarang bernama Solo Safari. Terlihat banyaknya pengunjung dari jumlah mobil bahkan bus yang terparkir di depan Taman Satwa.


"Iya, masih baru dan usai rebranding. Jadi, pengunjungnya lebih banyak, Sayang," balas Satria. "Mau ke Solo Safari?" tanya Satria lagi.


Dengan cepat Indi menggelengkan kepalanya. "Enggak, nanti kalau Babies sudah lahir saja, kita akan ke Solo Safari yah. Sekalian ke rumah Eyang Rama nanti," balas Indi.


"Siap, Sayangku," balas Satria.


Sekarang mereka sudah tiba di kediaman Satria. Sama seperti dulu, aroma Jamu yang dibyat dari berbagai rempah-rempah menyapa indera penciuman mereka. Kemudian, keduanya turun dari mobil dan mengucapkan salam kepada orang tua Satria.


"Assalamualaikum," sapa Satria dan Indi bersamaan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," balas Rama Bima yang sedang duduk di Pendopo dan ada Bu Galuh juga di sana.


"Wah, masuk-masuk. Akhirnya anak-anak datang juga dari Jogjakarta. Beberapa pekan lalu ada kerusuhan kan di Jogjakarta? Pas malam minggu," kata Bu Galuh.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Waktu itu kami berada di rumah Ayah dan Bunda, Bu ... jadinya kami menginap karena arah Taman Siswa sudah rusuh, Bu," balas Indi.


"Iya, sampai masuk di pemberitaan," balas Bu Galuh.


"Rama baru mau ke Jogjakarta minggu depan loh. Justru kalian yang ke sini lebih dulu," balas Rama Bima.


Satria kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Kami datang ingin membagikan kabar baik, Rama," kata Satria.


Mendengarkan kabar baik, Rama Bima dan Bu Galuh kemudian senam-senyum berdua. Keduanya siap mendengarkan kabar baik dari Satria dan Indi.


"Rama dan Ibu, kami datang ke Solo selain ingin menjenguk Rama dan Ibu, juga ingin menyampaikan kabar baik. Alhamdulillah, Indi tengah hamil sekarang," kata Satria.


Rama Bima dan Bu Galuh pun tersenyum. Keduanya sangat bahagia. Ini adalah kabar yang benar-benar baik dan dinantikan oleh Rama Bima dan Bu Galuh.


"Alhamdulillah, Rama dan Ibu senang mendengarnya," balas Rama Bima.


"Sudah periksa belum Mbak Indi?" tanya Bu Galuh sekarang.


"Sampun, Ibu. Sudah periksa. Hanya saja, kami ke Solonya menunggu akhir pekan. Pas sudah libur," jawab Indi.


Bu Galuh mengangguk dan memahami. Bagaimana pun Indi dan Satria masih sama-sama bekerja. Sehingga memang saat ingin ke Solo harus menunggu akhir pekan.


"Masih ada kabar baik lagi, Ibu," kata Satria.


Sekarang perhatian Rama Bima dan Bu Galuh teralihkan kepada Satria lagi. Siap menunggu kabar baik selanjutnya dari Satria.


"Apa lagi, Sat?" tanya Bu Galuh.


"Indi hamil kembar, Bu. Luar biasa, ketika kami mengharapkan memiliki keturunan, Allah justru memberikan dua sekaligus," kata Satria.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Alhamdulillah ...."


Pasangan paruh baya itu sangat bahagia. Mereka akan menjadi Eyang dari kedua cucu kembar. Sangat senang ketika mendengarkan bahwa Indi sekarang tengah hamil kembar. Kebahagiaan berlipat untuk keluarga Negara.


__ADS_2