Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kehamilan itu Berharga


__ADS_3

Dengan panjang lebar, Satria mengomeli Yudha. Menurut Satria, apa yang Yudha katakan sangat ironis. Bahkan seorang pria terlahir dari rahim seorang wanita, tapi bisa-bisanya Yudha justru merendahkan dan merundung fisik seorang wanita hamil.


Wanita cantik yang semula nyaman di gandengan Yudha, sekarang mulai mengurai tangannya dari lengan Yudha. Sungguh, wanita itu tidak menyangka bahwa Yudha bisa merendahkan fisik seorang ibu hamil dengan sedemikian rupa.


"Vita," kata Yudha ketika wanita yang diketahui bernama Vita itu mulai mengurai tangannya dari lengan Yudha.


"Kamu keterlaluan, Yud ... kamu ada masalah apa sama dia? Hingga kamu merendahkan seorang ibu hamil?" tanya Vita dengan menatap tajam kepada Yudha.


Satria yang masih berada di sana. Kemudian berbicara lagi. "Kamu pun lahir dari rahim perempuan, Yud. Masa lalumu seperti apa, aku sangat tahu. Akan tetapi, aku tidak akan membuka kedokmu. Sikapi semuanya dengan bijak. Di lain hari jangan pernah merendahkan fisik seorang," balas Satria.


Satria mengatakan semuanya itu dengan serius, selain itu sebagai seorang suami, tentu Satria juga tidak akan membiarkan istrinya direndahkan. Dia yang akan menangani semuanya. Tak akan membiarkan mental istrinya yang sedang hamil terganggu hanya karena ucapan Yudha.


"Vita..., tunggu Vit."


Wanita cantik yang semula bersama dengan Yudha pada akhirnya memilih untuk pergi. Sudah tidak ada lagi adu argumentasi antara Satria dan Yudha karena Yudha segera berlari mengejar Vita.


Ketika mereka sudah pergi, Satria menoleh ke istrinya yang sejak tadi memilih untuk diam. Satria kemudian berbicara kepada istrinya itu.


"Kamu tidak kenapa-napa, Sayang?"


Indi justru tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Satria pikir istrinya itu akan bersedih karena mendengar ucapan Yudha. Akan tetapi, Indi terlihat baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa kok, Mas. Kan sudah ada kamu yang belain," balas Indi.

__ADS_1


"Dia sudah main fisik, Sayang. Cowok kok bibirnya kayak gitu. Harusnya dia lebih bisa menghargai wanita," balas Satria.


"Biarkan saja. Aku gak butuh juga dihargai dia. Yang penting kamu selalu menghargai aku," balas Indi.


Indi mengatakan semuanya dengan jujur. Alih-alih memasukkan ucapan Yudha dalam hati, Indi lebih memilih jika suaminya itu selalu menghargainya. Bagi Indi itu melebihi apa pun.


"Yuk, kita cari makan dan duduk dulu," ajak Satria.


Akhirnya mereka menuju ke food court, Satria membelikan minuman untuk istrinya terlebih dahulu. Sembari duduk, menenangkan diri, dan juga menunggu usai ini Indi ingin membeli apa.


"Diminum dulu. Aku tadi beneran kesel, jangan sampai kamu jadi bad mood," kata Satria.


Lagi-lagi Indi malahan tersenyum, dia meminum minuman yang baru saja dibelikan oleh suaminya. Kemudian, Indi berbicara.


Mungkin karena sudah sering mendengar cibiran atau perundungan sehingga telinga Indi seolah sudah terbiasa mendengar semuanya. Bagi Indi semua itu tidak masalah, asalkan suaminya akan tetap memperlakukannya dengan baik.


"Walau dia main fisik?"


"Biarkan saja, Mas."


Satria menghela napas, kemudian dia menatap Indi yang duduk di hadapannya. "Kehamilan itu berharga, Sayang. Di zaman yang semakin modern ini tidak banyak wanita yang ingin mengandung dan melahirkan. Mereka merasa lebih baik tak memiliki anak, alasannya tentu macam-macam. Makanya aku sebel banget saat dia sudah mulai main fisik. Dia tak merasakan bagaimana wanita mengalami semua perubahan saat hamil."


Indi tersenyum lagi, sementara Satria justru terlihat sangat serius."Tidak semua pria kayak kamu, Mas. Papa Satria emang best kok. Mama aja dijagain, dibelain, apalagi nanti dua putri kecilnya pasti akan dijagain dan dibelain," balas Indi.

__ADS_1


Mendengar ucapan Indi sekarang barulah Satria bisa merasa lebih tenang. Emosinya menurun, kemudian Satria juga meminum minumannya terlebih dahulu.


"Kalau putriku sendiri yang dirundung, wah, aku bakalan maju. Enak aja merundung anak orang."


"Tuh, dah kelihatan kan. Cuma ya yang sabar. Dilihat duduk perkaranya dulu. Namun, aku seneng aja, aku sudah bisa membayangkan kamu tidak jauh berbeda dengan Ayah Pandu. Yang selalu menjadikan keluarganya prioritas utama. Aku yakin," balas Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya."Untuk keluargaku sendiri, aku akan melindungi kamu dan anak-anak. Tenang saja. Yang, walau kamu berkata ucapan Yudha itu tidak apa-apa, tapi aku mau supaya kamu tidak memasukkannya ke dalam hati. Kehamilanmu ini sangat berharga. Kamu pun sangat berharga untukku. Membahagiakan kamu, itu yang aku mau. Jangan dengarkan ucapan orang yang menyakiti hatimu yah ...."


Beruntungnya Indi karena Satria adalah suami yang sungguh-sungguh baik. Tipe pria yang sangat bisa menenangkan. Rasanya Indi begitu benar-benar bersyukur rasanya memiliki Satria dalam hidupnya.


"Ya sudah, kamu jadinya pengen beli apa? Aku ingin beliin sesuatu gitu buat kamu. Kamu yang pilih," kata Satria.


"Apa Mas? Aku juga gak butuh apa-apa. Baju masih banyak, tas juga ada, sepatu ya ada. Lagipula sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Kalau beli-beli rasanya sayang deh," balas Indi.


"Ya membahagiakan diri sendiri tidak masalah. Suami itu seneng ketika bisa membelikan sesuatu untuk istrinya," balas Satria.


Indi tertawa kecil. Dia merasa tak butuh apa-apa. Sebab, semua kebutuhan rumah dan dapur memang sudah dipenuhi suaminya. Sementara untuk barang-barang yang lain, Indi merasa belum butuh.


"Perhiasan mau?" tawar Satria lagi.


"Wah, serasa jadi istri sultan. Jalan-jalan terus ditawarin suaminya perhiasan. Luar biasa sekali," balas Indi.


"Untuk membahagiakan istri sendiri tak perlu menjadi sultan kok, Sayang."

__ADS_1


Satria berkata demikian. Baginya tak perlu menjadi sultan untuk membahagiakan istrinya. Selagi dia bisa, Satria pastilah akan membahagiakan istrinya itu.


__ADS_2