Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Mengikhlaskan Seorang Anak


__ADS_3

Dengan menitikkan air matanya, Bu Karti memegangi dadanya sendiri yang terasa begitu sakit. Menurut Bu Karti sendiri rasa sakit ini justru lebih sakit daripada dulu dia diambil mahkotanya lalu menjalani hari-hari sebagai ibu tunggal di desa. Walau tidak dicerca kiri-kanan, tapi Bu Karti sering kali menangis melihat bayinya yang tidak memiliki bapak.


Secara fisik memang bayi yang kala itu dia lahirkan tidak seperti dirinya. Jika Bu Karti memiliki kulit cokelat gelap, bayi itu berkulit putih bersih. Wajahnya juga begitu tampan. Sampai orang tua Bu Karti bertanya-tanya seperti apa wajah pria yang sudah menghamili Bu Karti muda saat itu. Kenapa putranya bias begitu tampan. Membesarkan Yudha kecil sembari menanam padi dan jagung pun dilakukan Bu Karti asalkan putranya itu bisa makan.


Hingga suatu hari, keluarga dari kota datang dan berniat bertanggung jawab. Kala itu, kedua orang tua Bu Karti berpikir bahwa putrinya akan bahagia. Ternyata tidak, itu adalah awal dari penderitaan Bu Karti. Di mana pernikahan terjadi hanya seumur jagung dan juga anaknya yang diambil paksa hak asuhnya. Semua rasa sakit seolah ditimpakan kala itu. Namun, yang dialami Bu Karti sekarang jauh lebih sakit.


"Jangan menangis lagi, Ibu ...."


Indi berkata dengan suaranya yang bergetar. Hatinya tersentuh melihat Bu Karti menangis pilu seperti ini. Bahkan Indi memberikan pelukan untuk seorang ibu yang tengah patah hati itu.


"Dosa apa Ibu di masa lalu, sampai anak yang Ibu lahirkan sendiri tidak mau mengakui Ibu?"


Di pelukan Indi, Bu Karti menangis dengan terisak-isak. Ini momen yang begitu emosional untuk Indi dan Satria. Mereka yang sekiranya hanya menolong saja merasakan sedihnya menjadi Bu Karti.


"Jangan-jangan Yudha malu dengan Ibu. Dengan kejamnya dia mengatai Ibu ini wanita desa dan petani miskin," ucap Bu Karti lagi dengan terisak-isak.


"Sabar yah, Ibu ...."


Bu Karti menangis sesegukan dan akhirnya setelah beberapa saat, Bu Karti bisa lebih tenang. Indi kemudian membukakan botol air mineral itu dan meminta Bu Karti untuk minum terlebih dahulu. Wanita paruh baya itu kemudian menengguk minumannya sebentar kemudian menyeka sisa-sisa air mata di wajahnya.


"Ibu mencari Yudha itu bukan untuk meminta hartanya. Walah hanya petani miskin dan tinggal di desa, saya ini bisa makan hanya dengan nasi dan garam. Namun, setelah belasan tahun berlalu, saya rindu dengan anak kandung sendiri. Saya gak pernah tahu umur manusia berapa lamanya, saya hanya pengen melihat Yudha sekarang. Setelah dia dewasa."

__ADS_1


Lagi bulir bening air mata mengalir di wajahnya. Hanya sedikit terisak Bu Karti mengatakan semuanya itu.


"Dulu Den, saya datang ke kota dengan tujuan untuk menemui Yudha, tapi gerbang rumah sama sekali tidak dibukakan. Mungkin saya dianggap seperti pengemis. Anak saya diambil dan saya gak boleh bertemu dengannya," cerita Bu Karti.


Indi benar-benar terenyuh hatinya mendengarkan cerita Bu Karti. Seolah Indi mengambil kesimpulan sendiri kenapa pihak keluarga papanya Yudha itu sangat kejam. Yudha diasuh, tapi wanita yang melahirkannya ditelantarkan begitu saja.


"Ya sudahlah Den ... Ibu ikhlas. Lebih baik Ibu mengikhlaskan Yudha. Tidak akan lagi Ibu mengemis-emis seperti ini. Sakit hatinya Ibu."


Ini adalah keputusan Bu Karti. Rasanya hatinya begitu sakit. Ketika dia hanya ingin bertemu Yudha, tapi putranya itu memperlakukan dia dengan sangat tidak layak. Menyakiti hatinya dengan amat sangat.


"Jangan begitu, Ibu," kata Satria.


"Tidak apa-apa, Den. Ibu ini memang hina. Banyak salah di masa lalu. Sampai anaknya Ibu sendiri memperlakukan Ibu seperti ini."


"Ibu sehabis ini pulang ke mana? Biar Satria antar pulang yah," katanya.


"Merepotkan Den Satria enggak?" tanya Bu Karti.


Satria menggelengkan kepalanya. "Tidak repot sama sekali, Bu."


Akhirnya Bu Karti mau diantar oleh Satria. Bu Karti meminta Satria mengantarkannya ke Stasiun. Ada kereta api menuju Stasiun Cilacap, melalui rute Selatan. Satria dan Indi mengantarkan Bu Karti ke stasiun, bahkan Satria yang membelikan tiket untuk Bu Karti.

__ADS_1


"Ibu ini tiketnya, dan ada sedikit untuk Ibu yah," kata Satria.


"Tidak usah, Den ... Ibu jadi merepotkan Den Satria dan Mbak Indi," kata Bu Karti.


Indi juga menggelengkan kepalanya. "Tidak merepotkan sama sekali kok, Ibu. Ini adq nomor handphonenya Mas Satria juga, sering kabarin kami, Ibu."


"Makasih banget, Mbak. Ibu kehilangan anak, tapi menemukan anak yang lain. Terima kasih banyak," kata Bu Karti dengan meneteskan air matanya.


Satria dan Indi kemudian bergantian memeluk Bu Karti. Sedih juga rasanya andai berada di posisi Bu Karti. Akan tetapi, semuanya terjadi seperti ini adanya. Ketika kereta api yang ditumpangi Bu Karti berangkat, barulah Satria dan Indi keluar dari stasiun.


Menaiki mobil, Satria tak segera melajukan mobilnya. "Maaf yah, Yang ... aku tadi memukul orang di hadapanmu," kata Satria.


"Tidak apa-apa. Yudha pantas mendapatkannya. Semua orang yang mendengar ucapan Yudha pasti marah kok, Mas. Aku justru kasihan ke Bu Karti. Beliau sampai bilang mengikhlaskan anaknya satu-satunya. Tak terbayang bagaimana pedih hatinya Bu Karti," kata Indi.


Satria menganggukkan kepalanya, dia seakan bisa turut merasakan apa yang dirasakan oleh Bu Karti. Selain itu, Satria juga meminta maaf ke istrinya. Harusnya dia bisa menahan emosi, tapi bagaimana lagi kalau dirinya sudah terlanjur emosi.


"Kita doakan Ibu selamat sampai di rumah. Kapan-kapan kalau ada pesan atau telepon dari Bu Karti kabarin yah, Mas," kata Indi.


"Iya, Sayang. Kalau anaknya yaitu Yudha tak bisa memberikan perhatian untuk Bu Karti, kita tolong dan berikan perhatian yah, Sayang," kata Satria.


Indi menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Iya, Mas. Tidak apa-apa. Jangan jemu-jemu untuk menolong orang lain."

__ADS_1


"Makasih, Sayang."


Setelah itu, barulah Satria melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah Bunda Ervita dan menjemput Nakula dan Sadewa. Hari ini memang penuh emosi, tapi sekaligus keduanya belajar tentang menghargai orang lain. Tidak membedakan orang berdasarkan kastanya.


__ADS_2