
Beranjak Sejenak ke Kota Solo ....
Setelah sebelumnya pernah digelar persidangan mediasi antara Viona dan Anthony, sekarang akan kembali digelar persidangan. Bedanya, persidangan kali ini hanya untuk membacakan putusan pengadilan. Viona yang sudah berbulat hati, datang dengan tenang dan siap mendengarkan apa pun putusan pengadilan kali ini.
Sementara, sebelum berangkat ke pengadilan, rupanya ada sebuah mobil putih yang berhenti di depan rumah Viona. Mobil putih yang tidak asing untuk Viona karena sudah beberapa kali mobil itu berhenti di depan rumahnya.
Bagaimana tidak hafal jika mobil putih itu adalah milik wanita yang sudah berhasil memporak-porandakan rumah tangganya bersama Anthony. Walau begitu, Viona tak sepenuhnya mempersalahkan Karina. Sebab, baik Karina dan Anthony sama-sama bersalah dalam hal ini. Suaminya yang tidak bisa menahan diri, dan Karina yang akhirnya datang dengan berbagai godaannya. Sehingga, kedua belah pihak sama-sama bersalah dalam hal ini.
"Hari ini akan menjadi hari kehancuranmu, Viona," kata Karina dengan menatap penuh ejekan kepada Viona.
Wanita yang sejatinya berdarah ningrat itu tertawa penuh kemenangan sekarang. Merasa berhasil membuat Anthony meninggalkan istrinya dan memilih menemani malam-malamnya. Ambisi untuk memiliki Anthony benar-benar berhasil.
"Bukan hari kehancuran, melainkan hari kebebasanku, Rin ... hari di mana aku akan dijauhkan dari pelakor sepertimu," balas Viona.
Dulu, awal mulanya Viona merasa tidak bisa menerima ketika Anthony nyatanya berselingkuh. Bahkan kala itu anaknya Arbe masih begitu kecil. Masa nifas yang panjang, membuat Anthony mencari kesenangan di luar rumah. Sungguh ironis, tapi itulah kenyataannya. Akan tetapi, sekarang Viona berusaha untuk melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Berpisah dengan Anthony bukanlah sebuah hari kehancurannya, melainkan hari kebebasannya.
"Terlalu percaya diri ... apa yang bisa kamu lakukan tanpa Anthony," kata Karina dengan memincingkan matanya.
"Banyak yang bisa kulakukan tanpa Anthony. Bahkan di kala sibuk mencari kesenangan sendiri denganmu, apa membesarkan anakku sendiri. Belum tentu nanti kalau Anthony meninggalkanmu dengan seorang bayi, kamu bisa mengurus bayimu sendiri," balas Viona.
Ketika tubuh sepenuhnya belum pulih, mentalnya sering kali down, tapi Viona selalu memprioritaskan Arbella. Tidak pernah menelantarkan putri semata wayangnya. Justru, Viona yang menutup celah yang mungkin saja ditinggalkan oleh Anthony untuk memberikan kasih sayang yang utuh dan penuh untuk Arbella.
"Sialan kamu!"
__ADS_1
Karina berbicara kasar dan benar-benar sebal dengan Viona. Toh, anak tidak pernah ada dalam kamus hidup Karina. Memiliki anak adalah hal yang menyebalkan, membuatnya kehilangan kebebasan. Karina lebih menganut paham child free.
"Apa, kamu nampar aku? Jangan harap kamu bahagia dengan Thony. Apa yang kamu dapatkan dengan menghancurkan rumah tangga orang lain tidak akan berlangsung kekal," dalam Viona.
Karina yang sangat kesal akhirnya memilih pergi. Dia akan mendahului Viona menuju ke pengadilan. Sementara Viona tersenyum saja. Takdir pernikahannya dengan Anthony memang cukup hanya di sini. Namun, Viona tidak mau jika harus direndahkan oleh Karina.
Akhirnya, Viona dengan mengendarai mobilnya sendiri menuju ke pengadilan. Melintasi jalanan di kota Solo, sampai akhirnya Viona sudah tiba di ruang persidangan. Tampak Anthony sudah datang terlebih dahulu. Pria yang berprofesi sebagai pengusaha itu tampak tegang. Sementara ada Karina yang duduk mendampingi Anthony. Sementara Viona hanya datang seorang diri.
Menunggu untuk beberapa saat akhirnya Majelis Hakim dan petugas mulai memasuki ruangan persidangan. Ada berita acara yang dibacakan terlebih dahulu. Setelahnya, Majelis Hakim menunjuk kursi yang ada di depan, sebuah isyarat supaya Tergugat dan Penggugat sama-sama menempati dua kursi yang berada di hadapan Majelis Hakim.
"Selamat siang semuanya ... mengingat dan menimbang sidang gugatan cerai yang dilayangkan oleh penggugat atas nama Saudari Viona terhadap tergugat yaitu Saudara Anthony, serta keputusan dari kedua belah pihak yang menolak adanya mediasi untuk mencari jalan tengah atau solusi dari permasalahan rumah tangga yang kini dijalani, maka:
Pertama, Pengadilan agama negeri kota Surakarta memutuskan bahwa perceraian dari Saudari Viona dan Saudara Anthony sebagaimana yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, maka perceraian ini pun dikabulkan. Sah!
Dilanjutkan dengan tiga kali ketokan palu oleh Hakim yang menjadi tanda bahwa pernikahan keduanya telah resmi berakhir. Rumah tangga Anthony dan Viona benar-benar terkoyak, tidak akan pernah bisa diselamatkan. Perceraianlah yang pada akhirnya dipilih oleh keduanya.
Tidak dipungkiri dada Viona terasa sesak. Dulu, pernikahannya dengan Anthony penuh kebahagiaan. Bisa Viona ingat bahwa Anthony sangat bahagia, bahkan ketika Viona hamil, Anthony juga sangat bahagia. Namun, lambat laun semuanya berubah. Ketika Anthony mulai mengenal Karina, dan lebih menyukai menikmati malam panjang dengan Karina. Posisi Viona di dalam hidup Anthony sudah teralihkan. Arbella pun kerap tak mendapatkan perhatian dari Papanya.
Sementara Anthony wajahnya memerah. Pria itu semula pernah datang dan meminta Viona untuk rujuk dengannya. Akan tetapi, Viona sudah tegak lurus dengan keputusannya. Perceraian adalah hal yang dianggap Viona sebagai hal yang tepat.
Usai persidangan selesai, Anthony dan Viona sama-sama berdiri. Lantas Anthony mengulurkan tangannya guna menjabat tangan Viona di sana.
"Vio," sapanya dengan mengulurkan tangannya. "Akhirnya, apa yang kamu inginkan sudah dikabulkan pengadilan. Kita telah usai," kata Anthony lagi.
__ADS_1
"Ini yang terbaik untuk aku, kamu, dan Arbella," balas Viona.
Menggenggam tangan Viona di dalam genggaman tangannya, Anthony menghela napas panjang. Pria itu mengangkat wajahnya perlahan dan kemudian menatap wajah Viona.
"Maaf untuk semua salahku, Vio ... sampaikan maafku kepada Arbe juga," katanya.
"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf kepadaku, Thony. Sekarang, kamu sudah bebas. Kamu bisa menikahi wanita itu. Jangan puas hanya berselingkuh, Thony," kata Viona lagi.
Anthony terdiam. Dia tidak bersuara apa pun. Hingga Karina datang mendekat. Wanita itu dengan santainya mulai mengapit lengan Anthony dan berbicara. "Ayo, Babe ... kita pulang," ajak Karina.
"Vi, boleh aku memeluk untuk kali terakhir?" tanya Anthony sekarang.
Mendengar pertanyaan Anthony itu, Karina membolakan kedua matanya. Lantas wanita itu menarik lengan Anthony. Tentu Karina tidak suka mendengarkannya.
"Tidak perlu, Thony. Silakan dilanjutkan," balas Viona.
Akhirnya, Viona tersenyum menatap Anthony dan Karina yang jaraknya hanya beberapa meter saja di hadapannya. Bagaimana pun ini adalah keputusan yang terbaik. Berharap tiga belah pihak akan bahagia. Walau bercerai, Viona juga pada keputusannya tidak menutup pintu komunikasi bagi Anthony dan Arbella. Hanya dia dan Anthony yang berpisah, tapi tidak dengan Arbella dan sosok papanya.
Sebaik apa pun keputusan perceraian ini, tetap saja ada atmosfer kesedihan yang dirasakan Viona dan Anthony. Melangkahkan kakinya menuju tempat parkiran, Viona memejamkan matanya dengan dramatis untuk beberapa detik dengan menatap kutipan akta perceraian.
Menyatakan putusnya perkawinan karena perceraian antara Viona dan Anthony.
"Ini yang terbaik untuk Mama dan Arbella. Kita bisa bahagia bersama-sama, Arbe Sayang ...."
__ADS_1
Viona bergumam dalam hati dan terus berjalan. Walau sesekali tertunduk, Viona menguatkan hatinya sendiri bahwa ini adalah jalan tengah yang terbaik untuk mereka berdua.