Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tak Bisa Kembali Pulang


__ADS_3

Membeli minuman boba yang ada di mini market ini menjadi nostalgia tersendiri untuk Indi dan Irene. Dulu, sebelum Indi menikah, sering kali keduanya membeli boba di tempat ini. Kadang kala juga membeli Cimol, Tela-Tela, atau Pentol yang dijual di depan mini market itu. Sehingga kalau keduanya membutuhkan camilan, pastilah kakak beradik ini akan membeli jajanan di sini.


"Kamu beli rasa apa, Rene?" tanya Indi.


"Brown sugar Boba yah, Mbak," pinta Irene dengan tersenyum lebar.


"Mbak, Brown sugar Boba 2 dan yang rasa Stroberi satu," pesan Indi.


"Yang Stroberi untuk siapa Mbak?" tanya Irene.


"Mas Satria sukanya rasa Stroberi kok," jawab Indi.


Mendengar jawaban kakaknya, Irene kemudian tertawa. "Biasanya cowok gak suka Stroberi loh, Mbak. Kok Mas Satria malahan suka Stroberi," balas Irene.


Tidak hanya membeli minuman, keduanya juga membeli beberapa camilan lainnya. Indi yang membayar semua jajanan mereka dengan uang dari dompet suaminya yang sekarang dia bawa.


"Mas Satria setipe sama Yayah yah, Mbak. Inget enggak Mbak? Kalau di Mall pas bayar-bayar kan Yayah pasti berikan dompetnya ke Nda. Nda yang bayarin semua pake uangnya Yayah. Suaminya Mbak Indi mirip Yayah," kata Irene.


Rupanya Irene pun seolah bisa menemukan persamaan antara kakak iparnya dengan Ayahnya. Sama-sama memberikan dompet ke istrinya untuk membayar. Irene sampai terkekeh geli.


"Iya yah, aku baru sadar," balas Indi.


"Ah, Mbak Indi enggak peka. Harusnya kan tahu. Masak aku yang bisa tahu," balas Irene.


Indi kemudian tertawa. "Aku dan Mas Satria jarang belanja, Rene. Kan habis menikah aku jatuh itu, praktis yang belanja-belanja kan Mas Satria. Baru menyadarinya sekarang," balas Indi.


"Setidaknya impian Mbak untuk memiliki suami seperti Yayah udah terkabul, Mbak. Mas Satria ku lihat juga sabar seperti Yayah kok," kata Irene.


"Emang kamu tahu? Ih, adikku ini sok tahu deh," balas Indi dengan tertawa.


Irene kemudian juga tertawa sembari menganggukkan kepalanya. "Aku kan belajar psikologi di kampus, Mbak. Kelihatan kok mana orang yang sabar dan mana yang enggak. Nah, Mas Satria itu sabar banget."

__ADS_1


Indi sampai tertawa mendengar ucapan adiknya. Akan tetapi, Indi sendiri menyadari bahwa memang suaminya itu sangat sabar. Terlebih kala Indi sakit dulu, terlihat jelas bagaimana Satria sangat sabar merawat Indi.


"Tuh, Mbak Indi sekarang senyam-senyum kan? Artinya ucapanku benar," kata Irene lagi.


"Iya, Mas Satria memang sangat sabar," balas Indi.


Keduanya masih mengobrol bersama hingga kembali pulang ke rumah. Indi segera memberikan Boba dengan rasa Stroberi untuk suaminya, tidak lupa memberikan dompet dan mengucapkan terima kasih.


"Makasih, Mas. Tadi aku jajan ini dan Irene," kata Indi.


"Makasih Mas Satria. Lain kali belikan jajanan lagi yah," kata Irene sekarang.


Satria pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Dik. KKN nanti mau ke mana? Kabarin yah," balas Satria.


"Dikasih uang saku kan Mas?" tanya Irene dengan tertawa.


"Awas, Satria. Adikmu itu Kang Palak," balas Bunda Ervita.


Semua yang ada di sana pun tertawa. Termasuk Irene yang tertawa terbahak-bahak ketika Bundanya membuka kartu as nya sebagai Kang Palak. Malu juga kepada Mas Iparnya.


"Yah, nanti biar dikasih Mbak Indi yah," balas Satria.


Irene kemudian tertawa. "Enaknya jadi adik dan kakaknya udah bekerja. Makasih Mas Satria dan Mbak Indi."


Cukup lama mereka berada di sana, banyak obrolan juga antara Satria dan Ayah Pandu. Hingga akhirnya, Indi dan Satria sekarang beristirahat siang dulu di kamar milik Indi yang ada di kediaman Ayah Pandu.


"Kamu tadi makannya lahap banget, Yang. Aku juga mengiranya kamu hamil loh, Sayang. Gak biasanya," kata Satria.


Indi pun terkekeh perlahan. "Tahu deh, kalau beneran ada baby junior gimana Mas?" tanya Indi.


"Ya, bagus lah ... kan itu juga yang kita harapkan bersama. Biar segera ada Satria atau Indira Junior di sini," kata Satria dengan mengusapi perut istrinya itu.

__ADS_1


"Kamunya semangat banget sih, Mas. Jadi, gak perlu bulan madu, sudah positif deh," balas Indi kepada suaminya itu.


Sebab, tidak memungkiri bahwa akhir-akhir ini Satria sangat rajin untuk bercocok tanam di ladangnya. Ada saja alasan yang dipakai Satria untuk terus menyemai di ladang. Untung saja, Indi tak pernah menolak suaminya itu. Sehingga, Satria pastinya tambah senang karena istrinya itu tipe penurut.


"Namanya juga pengantin baru, Sayang. Awal-awal juga banyak masalah, banyak bersabar. Setelah semuanya berjalan dengan baik adanya. Aku jadi lebih bersemangat."


Satria mengakui sendiri bahwa dia memang sangat bersemangat. Terlebih ketika restu dari dua keluarga sudah didapat, rasanya Satria tidak memiliki beban sama sekali. Kini fokus dan prioritas Satria teralihkan pada Indi dan juga keinginan untuk memiliki buah hati.


"Aku habis makan banyak banget yah, Mas ... dari makan siang, Boba, camilan tadi ... penuh banget perutku," kata Indi.


"Kamu banyak makan, juga kurus kok, Sayang. Tetap saja cantik," balas Satria.


"Kalau aku jadi gemuk gimana? Kan cewek bisa banget tuh gemuk kalau hamil, menyusui, atau selebihnya. Mas Satria ilfeel enggak?" tanya Indi.


Dengan cepat Satria menggelengkan kepalanya. "Enggak lah. Aku terima kamu apa adanya, Sayang. Janji," kata Satria.


"Janji? Kalau naik 15 kilogram gak ilfeel?"


"Iya, janji Sayangku. Lihat saja nanti, aku gak ada berbeda kok. Tambah cinta dan gemes itu malahan ada," balas Satria.


Sembari mengobrol dan rebahan di ranjang, hingga akhirnya hari tidak terasa sudah menjadi petang. Bunda Ervita meminta kepada Indi dan Satria untuk makan malam di sana terlebih dahulu. Kalau pulang, hanya tinggal tidur saja di rumah. Akhirnya, keduanya menyetujuinya.


Akan tetapi, usai makan malam di malam minggu itu ada broadcast pesan dan juga twitter yang mengatakan ada kerusuhan di kota Gudeg. Sehingga, sekarang Satria dan Indi terjebak tidak bisa pulang.


"Sayang, kayaknya kita tidak bisa pulang deh? Arah pulang kita melewati Taman Siswa tuh," kata Satria.


"Kenapa Sat?" tanya Ayah Pandu.


"Ini Ayah, ada bentrokan di area ini. Seram banget Ayah. Apalagi kami melewati area ini, jadi kalau pulang kayaknya gak aman."


Satria menunjukkan beberapa video yang beredar dan diunggah di laman Twitter itu. Faktanya memang terjadi bentrokan pada malam minggu itu. Sepanjang jalan dijaga pihak berwajib. Sampai di jalanan masuk ke Jogjakarta juga dijaga mulai dari arah Prambanan dan menuju beberapa titik lainnya.

__ADS_1


"Nginap di sini saja, Sat ...."


Ayah Pandu meminta Satria dan Indi untuk menginap saja. Alasannya tentu keamanan, karena bentrokan itu sangat anarkis, dan pengguna jalan bisa terkena batunya juga. Indi jujur saja deg-degan. Biasanya kota tempatnya tinggal sangat aman, tapi sekarang terjadi bentrokan yang cukup besar, sehingga memang lebih baik untuk menginap saja di kediaman Ayah dan Bundanya.


__ADS_2