
Beralih Sejenak ke Solo ....
Esok hari di Solo akan digelar Pasar Kangen di halaman Pura Mangkunegaran, Solo. Dalam pasar ini adalah UMKM yang akan menjual produk mereka. Untuk itu, Rama Bima sebagai pelaku bisnis juga menjual produk jamunya di event ini. Selain itu, ada berbagai pergelaran seni batik, seni tari, dan puncaknya akan ditutup dengan pagelaran theatre Sudamala. Untuk berpartisipasi dalam event ini, Rama Bima tentu memberikan instruksi kepada pegawainya yang akan menjaga stand dan sebagainya.
Selain itu, Rama Bima juga berniat mengajak Bu Galuh untuk melihat event itu. Lagipula, esok adalah akhir pekan. Sehingga, bisa dinikmati berdua untuk menghadiri kegiatan seni.
"Besok kita melihat pagelaran seni ya, Bu," ajak Rama Bima.
"Di mana, Rama?" tanya Bu Galuh.
"Di halaman Pura Mangkunegaran. Weekend bersama. Ada Seni Batik, Seni Tari, bahkan Dinner dengan konsep Royal Heritage," kata Rama Bima.
"Wah, menyenangkan kalau Satria, Indi, dan Besan bisa ke Solo, Rama. Kapan lagi ada event seperti ini. Bisa mengenalkan budaya Solo ini ke anak, menantu, dan besan," balas Bu Galuh.
"Apa Rama menelpon Satria aja yah, Bu?" tanya Rama Bima.
Bu Galuh kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh, Rama. Kangen juga sama cucu-cucu. Nang-Nang ganteng. Biar Indi dan Satria ikut acara budaya dan seni juga," balas Bu Galuh.
Tidak menunggu waktu lama akhirnya Rama Bima menelpon Satria. Sang Rama memberitahukan apa event seni dan budaya di Solo, serta meminta Satria dan keluarga di Jogjakarta untuk datang. Sebab, ketika membaca ada Seni Batik, Rama Bima juga teringat dengan besannya yang memang menjadi Juragan Batik sekarang. Sudah pasti Besannya sangat tahu seni dan ragam batik. Akan tetapi, memperkaya wawasan tidak ada salahnya.
Untung saja undangan dadakan ini berhasil. Esok Satria dan keluarga Hadinata akan pergi ke Solo. Mereka akan langsung menuju ke Mangkunegaran, Solo.
...🍀🍀🍀...
Keesokan Harinya ....
Kurang lebih jam 10.00 pagi keluarga Satria dan keluarga Hadinata sudah tiba di Solo. Kali yang datang ke Solo justru keluarga besar Hadinata, di mana ada Eyang Hadinata dan keluarga Bude Pertiwi dan Pakde Damar turut ke Solo.
"Kulanuwun, keluarga besar ikut ke Solo ini, Pak Bima," sapa Ayah Pandu dengan bersalaman dengan besannya itu.
"Wah, malahan saestu bingah (benar-benar bahagia, dalam bahasa Indonesia), Pak Pandu. Sugeng rawuh (selamat datang, dalam bahasa Indonesia)."
Rama Bima dan Bu Galuh memberi salam untuk keluarga besar Hadinata yang datang dari Jogjakarta. Justru merasa senang ketika yang datang bukan hanya Ayah Pandu dan Bunda Ervita, melainkan keluarga besar Hadinata juga hadir. Undangan yang Rama Bima berikan terbilang mendadak, tapi keluarga Hadinata bisa hadir semuanya rasanya sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Sini Nakula dan Sadewa ikut Eyang yah. Mama dan Papanya biar jalan-jalan," kata Rama Bima.
"Sambil gendong Nang-Nang tidak apa-apa kok, Ibu," balas Bu Galuh.
"Gak apa-apa, Mbak Indi. Ibu dan Rama kangen juga sama cucu-cucu. Mana makin ganteng gini," balas Bu Galuh.
Akhirnya Nakula dan Sadewa sekarang digendong Bu Galuh dan Rama Bima. Tak lupa Bu Galuh dan Rama Bima mengajak keluarga besar Hadinata ke stand jamu yang dibuka oleh para pegawai Rama Bima.
"Ngunjuk jamu rumiyin," kata Rama Bima mempersilakan keluarga besar Hadinata untuk meminum jamu terlebih dahulu.
Ada Jamu Kunyit, Beras Kencur, Daun Pepaya, Sirih, Asam, dan jamu dalam kemasan instans yang diperjualbelikan. Masyarakat pun banyak juga yang membeli jamu yang adalah minuman tradisional itu
"Pak Pandu mau jamu apa? Jamu sehat kuat, saya ada resepnya," tanya Rama Bima dengan tertawa.
Ayah Pandu juga tertawa. Sebab, apa yang dimaksud oleh Besannya itu Ayah Pandu juga sangat tahu. Ada jenis tumbuhan untuk jamu supaya pria menjadi sehat dan kuat. Itu adalah Pasak Bumi namanya. Dicampurkan dengan Ginseng Merah yang dipercaya bisa menjaga kesehatan pria.
"Ada jamu seperti itu ya, Pak Bima?" tanya Pakde Damar.
Pakde Damar pun tertawa. Jujur dia baru tahu ada sejenis jamu untuk kesehatan pria. Bude Pertiwi juga tertawa.
"Sehat pria, sehat wanita, bahkan jamu untuk menambah selera makan anak-anak ada semua Pak Damar. Semuanya herbal dan sudah uji klinis, jadi aman," balas Rama Bima.
"Kalau merah-merah ini apa, Pak Bima?" tanya Bude Pertiwi kala melihat kemasan di mika yang berwarna merah.
"Ini nama Mahkota Dewa, Bu."
Ya, itu adalah Mahkota Dewa yang bisa dibuat teh. Tanaman herbal ini dipercaya bisa mengobati diabetes, asam urat, menurunkan kolesterol dan menjaga daya tahan tubuh.
"Kalau membutuhkan ambil saja, Bu," kata Bu Galuh.
Bude Pertiwi menggelengkan kepalanya, malu dengan kebaikan keluarga Negara yang mau memberikan berbagai kemasan jamu. "Tidak usah."
"Tidak apa-apa. Ambil langsung ke pabriknya juga boleh," balas Bu Galuh.
__ADS_1
"Waduh, jadi merepotkan loh Bu Galuh," balas Bude Pertiwi.
"Kalau sudah menjadi keluarga tidak ada kata merepotkan Bu Pertiwi," balas Bu Galuh lagi.
Usai itu, Bu Galuh berbicara kepada Indi dan Satria lagi. "Sana loh, jalan-jalan berdua. Eyangnya banyak ini loh. Kumpul berempat, ada Eyang De juga. Nakula dan Sadewa pasti aman," kata Bu Galuh yang menyuruh Indi dan Satria jalan-jalan berdua.
"Diusir kita, Sayang," balas Satria.
"Mumpung ada yang gendong dan jaga Nang-Nang. Kegiatan seni dan budaya begini kan jarang. Menikmati berdua tidak ada salahnya," balas Bu Galuh.
Setelah seperti dipaksa, akhirnya Satria mengajak Indi jalan-jalan berdua sejenak. Pria itu tampak menggandeng tangan istrinya, mengajaknya melihat ragam seni dan budaya di Pasar Kangen. Ada beberapa produk UMKM yang dijual seperti batik, topi jerami, produksi gerabah, dan aneka kuliner legendaris khas Solo seperti Es Dawet, Jamu, Gendar Pecel, Lenjongan, dan lain sebagainya. Mengunjungi Pasar Kangen ini seakan bernostalgia ke masa lalu.
"Mau jajan makanan enggak, Sayang?" tanya Satria.
"Lihat-lihat dulu aja, Mas. Konsepnya jadul gitu yah. Pasti Ayah dan Bunda, Rama dan Ibu, dan keluarga yang lain suka. Nostalgia dengan masa lalu," kata Indi.
"Benar, zamannya berkembang, tapi kreasi seni dan ragam budaya kayak gini harus dilestarikan," balas Satria.
"Mana makanan jadul kesukaan Mas Satria?" tanya Indi.
"Itu, Sayang."
Satria menunjuk ke penjual Lenjongan. Ya, Lenjongan sendiri adalah aneka makanan seperti Cenil, Tiwul, Sawut, Klepon, dan Gatot yang diberi parutan kelapa dan cairan Gula Jawa. Makanan ini menjadi makanan legendaris dan selalu menjadi makanan yang harus dinikmati kala ke Solo.
"Beli itu yuk," ajak Indi.
"Kamu mau?"
"Satu berdua aja. Aku minta Kleponnya," jawab Indi.
Akhirnya Satria mengajak Istrinya membeli Lenjongan. Bernostalgia dengan kuliner legendaris di kota Bengawan.
__ADS_1