
Kembali ke Jogjakarta ....
Akhir pekan ini Ayah Pandu dan Bunda Ervita mengajak seluruh keluarganya untuk ke Hutan Pinus, Mangunan yang berada di Jogjakarta. Sekadar jalan-jalan, melihat panorama, dan juga healing sejenak. Acara ini juga sekaligus sebelum Irene akan PPL lagi ke Jakarta beberapa pekan lagi, sehingga Ayah Pandu ingin mengajak keluarganya jalan-jalan dulu.
"Sini, Kakung gendong satu yah," kata Ayah Pandu begitu mereka sudah tiba di Hutan Pinus Mangunan, Jogjakarta.
Hutan Pinus Mangunan sendiri adalah tempat wisata alam di daerah Bantul, Jogjakarta. Udara yang segar segera menyapa mereka. Akhirnya Ayah Pandu menggendong Sadewa, sementara Satria yang menggendong Nakula. Dengan menggunakan gendongan hipseat.
"Masih cocok gendong bayi lagi loh, Yah," kata Bunda Ervita dengan terkekeh.
Sebab, suaminya itu juga baru akan menginjak kepala lima. Masih terlihat muda. Rasanya cocok apabila menggendong bayi lagi. Ayah Pandu juga tertawa jadinya.
"Mau lagi, Bunda? Masak iya, kita udah menjadi Eyang mau memiliki bayi lagi. Malu sama besannya nanti. Biar Indi aja yang masih muda yang menambah momongan," kata Ayah Pandu.
"Kalau punya adik lagi, Irene mau kok, Yah," kata Irene dengan tiba-tiba.
Biasanya anak seusia Irene sudah tidak mau memiliki adik. Sudah malu. Namun, Irene berbeda. Dia malahan senang kalau memiliki adik lagi.
"Kamu selesaikan kuliah dan bekerja, Irene. Kalau sudah ada pasangannya bawa menghadap Ayah dan Bunda," kata Ayah Pandu.
Irene kemudian tersenyum. Malu ketika Ayah Pandu berbicara mengenai pasangan. Sontak saja Indi menjadi ingin tahu dengan siapa cowok atau pacar adiknya itu.
"Sudah punya pacar yah, Dek?" tanyanya.
"Belum kok, Mbak."
"Belum atau belum?" goda Indi dengan menatap wajah adiknya itu.
"Belum kok, Mbak. Doakan saja. Menyelesaikan PPL dulu dan skripsi. Habis itu baru memikirkan yang lainnya, Mbak," balas Irene.
__ADS_1
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Semoga saja memang harapan Irene akan terwujud.
"Penting jaga diri yah, Dek ... sebagai cewek, kita harus lebih berhati-hati. Jangan sampai melakukan hal yang tidak-tidak sebelum akad terucap," kata Indi kepada adiknya.
Sebagai kakak, Indi merasa memang harus mengingatkan Irene. Seorang gadis, harus menjaga dirinya. Jangan bertingkah aneh-aneh atau melebihi batas. Menjaga kesucian diri, memberikan mahkota hanya kepada suami tercinta. Zaman boleh berubah, tapi prinsip itu harusnya tetap dipegang kuat oleh gadis-gadis masa kini.
Cukup Indi yang merasakan bagaimana sedihnya terlahir sebagai anak tanpa nasab. Hingga pernikahan dengan Satria pernah ditentang oleh keluarga Negara. Untung saja semua berjalan baik. Buah dari kesabaran yang membuat Indi diterima penuh dan sekarang disayangi oleh Rama Bima dan Ibu Galuh.
"Iya, Mbak. Aku selalu ingat pesannya Mbak Didi kok. Ayo, Mbak ... jalan-jalan ke Jakarta. Aku di sana satu bulan lagi," cerita Irene.
"PPL di mana?"
"PAUD, Mbak ... mencari pengalaman dulu. Nanti kalau udah ada modal, mau dibukain Ayah sekolah anak sendiri," balas Irene.
Ayah Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Membuka PAUD sendiri Mbak Indi. Sekaligus kita nanti bisa mengajarkan seni membatik itu kepada anak-anak kecil. Supaya generasi muda mengenal seni batik juga. Ini masih rencana. Terwujudnya kapan belum tahu. Yang pasti Irene segera lulus dulu."
Rupanya memang ada rencana sendiri yang Ayah Pandu pikirkan. Membuat seni batik tetap bertahan. Mengenalkan karya seni khas Indonesia kepada anak-anak. Memang niat yang mulia.
Usai itu mereka melewati jalan setapak. Berdiri berjejer pohon pinus yang menjulang begitu tinggi. Udaranya juga begitu sejuk, Nakula dan Sadewa tampak menoleh beberapa kali melihat pohon-pohon yang menjulang tinggi.
"Bingung lihat apa yah, Nang?" tanya Bunda Ervita.
Bunda Ervita kemudian berbicara lagi. "Ini pohon pinus. Nakula dan Sadewa diajak Eyang jalan-jalan biar mengenal alam. Sesekali liburan tipis-tipis. Menghirup udara segar. Bagus kan?"
"Mbak Indi foto sama Mas Satria sana, biar Irene fotoin," kata Irene sekarang. Sebab, di tempat yang bagus seperti ini sangat disayangkan kalau tidak mengabadikan momen dalam jepretan kamera.
"Yuk, Sayang," ajak Satria.
Irene yang rupanya minat dengan fotografi bisa mengarahkan gaya atau pose kakak dan kakak iparnya itu. Hasil foto yang diambil Irene juga bagus walau hanya menggunakan kamera handphone saja.
__ADS_1
"Sama Nang-Nang, Mbak," instruksi Irene sekarang.
Akhirnya Indi menggendong Nakula, dan Satria menggendong Sadewa. Tempat indah nan hijau berlatar pohon pinus itu menjadi tempat yang indah. Hasil fotonya juga bagus. Di beberapa spot foto, Irene tampak memotret keluarga kakaknya itu.
"Lihat hasilnya, Mbak," kata Irene lagi.
Akhirnya, Nakula sekarang digendong Bunda Ervita, sementara Nakula digendong Ayah Pandu. Irene, Indi, dan Satria melihat foto-foto yang diambil oleh Irene.
"Bagus enggak?" tanya Irene lagi.
"Bagus, Dek. Kapan kamu bisa motret dan hasilnya sebagus ini?" tanya Indi.
"Dulu waktu aku KKN di Jakarta itu loh, Mbak. Kadang ke Kota Tua untuk mengambil foto, ada teman yang ngajarin bagaimana mengambil angle yang bagus. Jadinya aku belajar memfoto," cerita Irene lagi.
Indi menganggukkan kepalanya sebagai respons bahwa dia mendengarkan cerita dari adiknya itu. Tidak menyangka juga bahwa Irene bisa belajar mengambil foto dengan angle yang bagus.
"Foto-foto ini menjadi tabung kenangan untuk Mbak Indi dan Mas Satria," kata Irene sekarang.
"Tabung kenangan?" tanya Indi dan Satria bersamaan.
"Foto-foto seperti ini akan menjadi kenangan, simpanlah dalam sebuah tabung. Suatu saat Mbak Indi bisa membuka tabung itu, bernostalgia dengan semua foto yang ada. Semua kenangan akan terukir dengan indah di foto ini," jelas Irene.
Indi yang mendengarkan adiknya pun tersenyum. Adiknya sudah semakin dewasa. Bisa membuat analogi yang indah. Sebab, begitulah hidup. Semua yang sudah kita lalui akan menjadi kenangan. Dibutuhkan tabung penyimpanan untuk mengabadikan semua itu. Suka dan duka mengiring langkah hidup manusia. Tak ayal foto-foto atau jepretan kamera yang mengabadikan waktu dan kenangan itu.
"Ini Nakula dan Sadewa masih kecil, nanti Mbak lihat lagi saat Nakula dan Sadewa sudah TK. Ketika membuka tabung itu, semua kenangan dibangkitkan. Itu namanya Tabung kenangan, Mbak," kata Irene lagi.
"Benar, waktu kita masih sama-sama kecil. Foto itu seakan bercerita banyak. Hingga kita udah besar, dewasa ...."
"..., dan Mbak Didi dipinang Mas Satria. Kayak baru kemarin kita main dakonan berdua di Pendopo, sekarang sudah menjalani hidup sendiri-sendiri," sahut Irene.
__ADS_1
Indi menganggukkan kepalanya, apa yang disampaikan Irene benar adanya. Rasanya baru kemarin keduanya masih sama-sama kecil, bermain dakonan di pendopo, membeli jajanan di dekat rumah berdua. Sekarang keduanya sudah dewasa, tapi ada tabung kenangan yang bisa mereka buka dan kembali lagi mengingat manis masa kecil keduanya. 💕