Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kasih Bunda Sepanjang Masa


__ADS_3

Sepanjang hari Indi mengasuh Nakula dan Sadewa tanpa ada gangguan. Terlebih memang bayi baru lahir memiliki durasi tidur yang lebih lama. Sehingga siang hari dimanfaatkan Indi untuk melipati baju-baju bayinya yang sudah kering setelah dijemur. Setelahnya Indi juga sekaligus menyapu rumah.


Untunglah saat siang tiba, ada Bunda Ervita dan Irene yang datang ke rumahnya. Selain itu ada lauk-pauk yang dibawakan Bunda Ervita untuk Indi.


"Baru ngapain Mbak Indi?" tanya Bunda Ervita.


"Habis nyapu, Nda. Mumpung Nakula dan Sadewa sedang tidur," balas Indi.


"Sana makan dulu, mumpung Bunda bawakan Pepes Ikan nih. Yayahmu pengen Pepes Ikan, jadi Bunda sekalian bikin banyak, buat kamu dan Satria juga," kata Bunda Ervita.


Irene juga mengangguk perlahan. "Makan dan isi tenaga dulu, Mbak. Biar aku jagain Nakula dan Sadewa," katanya.


Kedatangan Bunda dan adik yang membahagiakan untuk Indi. Sebab, dia bisa sedikit istirahat sejenak. Bisa makan siang dan mengisi lagi tenaganya.


"Indi buatin minum dulu untuk Bunda dan Irene," kata Irene.


"Tidak usah, Mbak Indi. Nanti Bunda buat sendiri. Sana, makan dulu. Mumpung ada yang temannya."


Akhirnya sudah diminta oleh Bundanya, Indi pun menyempatkan untuk makan siang terlebih dahulu. Kali ini, Indi memilih untuk makan dengan lauk Pepes Ikan buatan Bundanya. Nasi putih hangat dan Pepes Ikan, makannya langsung dengan tangan terasa enak sekali.


Makan terasa sangat enak, tidak ada interupsi suara bayi menangis. Irene yang menunggu Nakula dan Sadewa. Sementara Bunda Ervita turun sebentar.

__ADS_1


"Enak enggak, Mbak?" tanyanya.


"Enak, Nda. Indi sampai nambah lagi ini," balas Indi.


Kemudian Bunda Ervita tertawa melihat putrinya itu. "Biasanya kalau memberikan ASI itu porsi makan memang bertambah, Mbak. Dulu aja Bunda anaknya satu dan cewek aja, lapar terus. Apalagi kamu yang jagoannya dua. Jangan takut ndut. Yayahmu pulang, kalau usai melahirkan dan memberi ASI, badan wanita berubah itu semua karena pengorbanan seorang wanita. Kalau benar-benar cinta, tidak ada tolok ukurnya dengan badan yang makin melebar," kata Bunda Ervita.


Sering kali memang tak dipungkiri bahwa para wanita akan kehilangan berat badan idealnya usai bersalin dan memberikan ASI. Terlebih ada fase di mana wanita merasa lebih lapar kala memberikan ASI untuk bayinya. Bahkan beberapa studi kasus mengatakan bahwa wanita memang sukar kembali ke bentuk badan idealnya. Oleh karena itu, suami beralibi tidak tertarik lagi dengan istrinya yang kian melebar.


Sementara Ayah Pandu adalah tipekal pria yang berbeda. Menganggap itu adalah wujud pengorbanan seorang wanita. Ketika cinta benar-benar tanpa syarat, sehingga memang tidak bertolok ukur dengan timbangan berat badan.


"Indi juga belum kurusan kok, Nda. Masih banyak lipatan lemak. Kalau merasa lapar terus usai memberikan ASI sih tidak, tapi lebih ke merasa haus, Nda," balas Indi.


Indi menganggukkan kepalanya. Walau begitu, jauh di dalam hatinya Indi juga berharap bahwa Satria tidak mempermasalahkan bentuk tubuhnya yang sekarang tidak ideal. Terlebih selama masa kehamilan, Indi mengalami kelonjakan berat badan hingga 20 kilogram.


"Aamiin, Nda. Semoga sih, Mas Satria bisa menerima Indi apa adanya. Walau tidak dipungkiri bahwa semua wanita ingin cantik dan menarik di mata suaminya sendiri," balas Indi.


"Nanti kalau Nakula dan Sadewa agak besar, boleh dititipin ke Bunda. Kamu ikut gym atau zumba," kata Bunda Ervita.


Mendengarkan apa yang dikatakan Bundanya, Indi malahan tertawa. Dia belum terpikirkan dengan kegiatan-kegiatan seperti itu. Sekarang lebih baik fokus untuk mengasuh dan membesarkan buah hati saja.


"Duh, masih jauh, Nda. Indi mau fokus untuk anak-anak dulu. Kalau berat badan bisa berkurang, Indi anggap anugerah saja. Bonusnya. Yang penting sekarang anak-anak sehat," balasnya.

__ADS_1


Setelah mengobrol berdua, Bunda Ervita memberikan beberapa lauk yang lainnya.


"Nda bawakan nih beberapa lauk tinggal digoreng aja, Mbak. Ada ayam dan ikan, biar Nda simpankan di kulkas yah. Ini ada sayuran sup sudah dikupas. Besok pagi bisa langsung kamu masak dan buat bumbunya aja."


"Malahan ngerepotin Nda loh ini," balas Indi.


"Tidak merepotkan sama sekali. Dulu Mbak, waktu Nda usai melahirkan kamu. Setiap hari, Eyang Putri Hadinata selalu mengirimkan Sayuran dan Lauk untuk Nda. Sehari bisa dua kali. Nda dulu hidup dari belas kasihan orang lain. Sekadar mengisi perut saja menunggu uluran tangan orang. Bukan sanak, bukan keluarga, tapi Nda dan kamu diperlakukan dan disayang keluarga Eyang Hadinata. Sampai akhirnya Nda menikah dengan Yayah. Tidak ada kamus merepotkan dengan keluarga sendiri," kata Bunda Ervita.


Dari pengalaman dan lika-liku hiduplah setiap manusia belajar. Sama seperti Bunda Ervita yang dulu sekadar mengisi perutnya saja ditolong Eyang Tari Hadinata. Sayuran dan lauk yang diberikan setiap hari hingga begitu lama. Sekarang, ketika Bunda Ervita sudah menjadi Eyang, Bunda Ervita ingin menunjukkan kepedulian untuk putrinya. Tidak merasa direpotkan, tapi itu adalah wujud kasih sayang.


"Baiklah Allah sama kita yah, Nda. Kita yang orang asing disayang oleh keluarga Yayah. Tangan Allah tak kurang panjang menolong hambanya. Itu benar-benar terbukti," balas Indi.


Ada kalanya bahwa cerita masa lalu Bundanya itu penuh air mata. Namun, Indi menyadari bahwa campur tangan Allah, pertolongan Allah itu sungguh luar biasa baginya dan Bundanya dulu.


"Benar, Mbak. Dulu-dulu, hidupnya kita berdua ini banyak dibantu keluarga Hadinata."


"Makasih yah, Bunda. Walau Bunda dulu masih sangat muda, semuanya sendiri, tapi Bunda selalu mempertahankan dan menyayangi Indi. Terima kasih banyak yah, Nda," balas Indi.


Bunda Ervita kemudian menganggukkan kepala. "Sama-sama, Nak. Bunda selalu sayang kamu. Tidak pernah Bunda berpikir sekali pun menggugurkan kamu. Selalu sayang sama kamu," kata Bunda Ervita.


Indi tersenyum. Dulu, mungkin lahir tanpa nasab itu adalah aib. Membuat dia pernah tidak diterima oleh keluarga semuanya. Akan tetapi, Indi menyadari sekarang bahwa kasih ibu yang benar-benar sepanjang masa itu yang membuatnya ada di dunia ini. Dalam kesendirian, dalam hidup yang penuh air mata bahkan selalu mendapatkan pertolongan dari orang lain, tapi kasih sayang Bundanya tidak akan surut untuknya.

__ADS_1


__ADS_2