Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Setelah Kabar Miring Ada Kabar Baik


__ADS_3

Usai menelpon Irene, Indi merasa lega. Dia sebenarnya hanya menjembatani saja supaya Ayah dan Bundanya bisa mendengar cerita dan pengakuan dari Irene. Di luar sana, mungkin para tetangga sudah berkata yang macam-macam. Namun, mereka memilih mempercayai anak mereka. Anak yang berada di tempat yang jauh juga membutuhkan kepercayaan dari orang tua. Ayah Pandu dan Bunda Ervita juga memilih untuk memberikan kepercayaan kepada Irene.


"Sudah lega?" tanya Indi.


"Alhamdulillah, sudah ... Nda memilih percaya kepada Irene, Mbak," balas Bunda Ervita.


"Yayah juga Mbak Didi. Lebih percaya kepada adikmu. Kalau memang tidak terjadi apa-apa itu memang baik adanya," balas Ayah Pandu.


"Profesi Irene adalah guru anak-anak, Yah. Dia akan banyak bermain, bertemu, dengan anak-anak. Tak jarang para guru intens mengirim pesan ke grup orang tua. Mungkin disalahartikan berbeda. Apalagi anak-anak kecil biasanya menganggap guru TK-nya itu idolanya. Jadi begitu. Tadi Irene juga sudah mengatakan anak itu dan mungkin anak-anak yang lain sering bermain dengannya kalau memang belum dijemput orang tuanya," kata Indi.


Indi memang berusaha berpikir realistis saja. Profesi adiknya yang adalah seorang guru TK, memang membuat Irene dekat dengan anak-anak. Begitu juga dengan orang tua anak. Tak jarang para orang tua akan menitipkan anak-anak mereka kepada guru di sekolah. Selain itu, Irene juga bertemu dan sering berkomunikasi tumbuh kembang atau aktivitas anak selama di sekolah. Jadi, wajar kalau Irene dekat dengan anak-anak. Jika seorang guru TK, tapi tidak bisa dekat dengan anak justru dipertanyakan. Sebab, anak-anak menyukai guru atau pengajar yang hangat, ramah, ceria, dan tidak galak tentunya.


"Iya, Mbak Didi. Seperti yang kamu katakan kemarin yah. Bisa saja itu muridnya dan orang tuanya. Irene juga tidak mungkin berada di kost sepanjang hari. Ada hari dia keluar dan jalan-jalan di waktu weekend, mungkin saat itu ketemunya," kata Ayah Pandu.


"Benar sekali, Yah. Udah Yayah dan Nda jangan kepikiran yah. Jangan sampai ucapan yang belum jelas kebenarannya mempengaruhi kita, sampai mengganggu kesehatan. Yayah dan Nda harus selalu sehat," kata Indi.


Ayah Pandu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Indi memang selalu memiliki cara menenangkan kedua orang tuanya. Walau bukan anak kandung, tapi secara hati dan emosi, mereka begitu dekat dan akrab satu sama lain.


Akhirnya sepanjang siang hari, dihabiskan Ayah Pandu dan Bunda Ervita untuk mengasuh Nakula dan Sadewa. Tak seperti biasanya, Indi yang menonton televisi di sofa malahan tertidur. Sampai Bunda Ervita geleng-geleng sendiri melihat anak sulungnya itu.


"Kenapa, Nda?" tanya Ayah Pandu.


"Tumben Indi nonton sampai ketiduran. Malahan dia yang ditonton televisi."


"Kecapekan mungkin, Nda. Maklum, Nakula dan Sadewa juga sangat aktif. Wajar kalau Mamanya kecapekan," kata Yayah Pandu.


"Enggak biasanya, Yah. Ya sudah biar tidur dulu saja. Kita ajak main Nakula dan Sadewa aja, Yah."


Akhirnya Bunda Ervita mematikan televisi yang menyala itu dengan menekan tombol off di remote. Memberi waktu bagi Indi untuk istirahat siang. Keduanya memahami bahwa peran menjadi seorang ibu itu tidak ada kata liburnya. Pengasuhan harus dilakukan setiap hari, setiap jamnya. Para ibu baru bisa beristirahat ketika anak-anak sedang beristirahat. Jika tidak, ya harus menjaga dan mengasuh anak-anak.

__ADS_1


Lebih dari satu jam berlalu, Indi terbangun. Jam sudah hampir sore. Akhirnya Indi memandikan kedua putranya terlebih dahulu. Memandikan dua putra sekaligus memang repot. Terlebih Nang-Nang juga aktif, tapi Indi memilih menjalani dan menikmati semuanya.


Akhirnya, Papa Satria pun datang sepulang dari bekerja. Pria itu juga membersihkan badannya dulu karena memang membawa baju ganti. Setelah itu, mereka berkumpul di pendopo, menikmati sore bersama. Diam-diam Satria mengamati raut wajah Ayah dan Bunda yang lebih baik dibandingkan esok pagi.


"Sudah telepon Irene, Sayang?" tanya Satria lirih.


"Sudah, Mas. Tadi siang sudah sempat telepon kok. Itu memang anak muridnya Irene. Kebetulan bertemu pas di luar, si anak dengan Papanya," cerita Indi singkat.


Satria juga merasa lega. Keyakinan Satria sejak semalam terbukti sudah bahwa tidak mungkin adik iparnya menjadi simpanan pria kaya di Jakarta. Terlebih ajaran dan didikan Ayah Pandu dan Bunda Ervita selama ini baik, jadi Irene pasti tumbuh dalam ajaran dan didikan yang sudah lama ditaburkan oleh kedua orang tua.


"Mau ngasih tahu Yayah dan Nda sekarang? Biar beliau bahagia," kata Satria.


"Mas yakin?"


Satria menganggukkan kepalanya. Menurutnya sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberitahu kabar bahagia yang sudah mereka tunda sejak semalam. Akhirnya, Indi setuju dengan ucapan suaminya itu.


"Yah dan Nda ...." Suara Indi memanggil kedua orang tuanya itu.


"Sebenarnya ada yang mau Indi dan Mas Satria sampaikan semalam. Namun, terjeda karena sepulang dari rumah sakit, Nda menangis," kata Indi.


Seketika barulah Bunda Ervita dan Ayah Pandu ingat. Bahwa mereka juga belum bertanya mengenai Indi dan Satria yang usai dari Rumah Sakit. Fokusnya teralihkan hanya kepada Irene semalam.


"Satria sakit apa?" tanya Ayah Pandu.


Satria justru menggelengkan kepalanya. "Yang sakit bukan Satria kok, Yah. Satria alhamdulillah sehat," jawabnya.


Sekarang Ayah Pandu dan Bunda Ervita justru terlihat bingung. Bukannya kemarin mereka berpamitan ke rumah sakit karena Satria yang mengeluh sakit. Akan tetapi, sekarang malahan Satria mengaku bahwa dirinya sehat.


"Lalu?" tanya Bunda Ervita.

__ADS_1


"Yang sakit ... Mamanya Nang-Nang kok, Nda. Sakit ... sembilan bulan," kata Satria dengan wajah serius, walau di dalam hatinya tertawa.


Ayah Pandu dan Bunda Ervita kemudian saling pandang. Keduanya masih belum ngeh dengan apa yang baru saja Satria sampaikan.


"Sakit kok sembilan bulan?" gumam Bunda Ervita.


Ayah Pandu akhirnya tersenyum, dia menepuk bahu istrinya itu. Baru sadar dan konek dengan apa yang Satria sampaikan.


"Oalah ... Yayah sudah tahu. Sakit perut sembilan bulan? Kamu isi lagi, Mbak Didi? Nang-Nang mau punya adik?"


Ayah Pandu menjawab demikian dengan menatap Indi. Kali ini Ayah Pandu merasa bahwa tebakannya tidak salah. Indi sedang mengandung sekarang.


"Iya, Yayah. Indi yang hamil, Mas Satria yang kena kehamilan simpatik," balas Indi.


"Alhamdulillah Ya Allah ... senangnya Yayah."


Bunda Ervita tersenyum sampai meneteskan air matanya. "Alhamdulillah wa syukurillah ... Semalam ada kabar miring. Sekarang ada kabar baik, kabar bahagia. Selamat Mbak Didi dan Mas Satria."


"Masih ada kejutan lagi, Nda," kata Satria lagi.


"Hm, apa lagi?"


Ayah Pandu dan Bunda Ervita sudah sangat senang mendengar Indi hamil lagi. Anggota baru, cucu yang lucu akan kembali hadir di keluarga besar mereka. Namun, Satria mengatakan masih ada kejutan lagi.


"Ayah dan Bunda tidak hanya akan bertambah satu cucunya, tapi dua. Ya, dua kantung janin lagi," kata Satria.


Bunda Ervita dan Ayah Pandu tertawa. Bahkan Ayah Pandu menepuk-nepuk bahu menantunya itu. "Yayah aja cuma memiliki satu anak biologis loh, Sat. Kamu ini menghamili anak Ayah, setiap hamil jadinya dua."


"Kualitas super mungkin, Yah," balas Satria dengan bercanda.

__ADS_1


"Ya Allah. Bunda seneng. Dua lagi, rumah Eyang makin rame. Cucunya empat nanti kumpul semua."


Keempatnya tertawa bersama. Sementara Ayah Pandu masih geleng-geleng, bagaimana bisa Satria tiap membuahi anaknya pasti menjadi dua bayi. Luar biasa, dia akan dianugerahi lagi dua cucu kembar. Nikmat yang indah dari Allah.


__ADS_2