Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Bertemu dengan Farel


__ADS_3

Selang beberapa pekan kemudian, Indi dan Satria yang sedang berada di Oemah Jamu tidak sengaja bertemu dengan Farel. Pemuda yang hampir seusia dengan Irene itu adalah putra dari Bapak Firhan dan Tante Wati. Jika ditilik hubungannya, Farel adalah adiknya Indi, satu Bapak.


Kala itu Farel hanya sendiri, mungkin ada pertemuan dengan seseorang yang mungkin saja akan dilangsungkan di Oemah Jamu itu. Awalnya Indi enggan untuk menyapa, dia masih teringat dengan ucapan Yudha tempo hari ketika yang memberitahu bahwa Indi adalah anak tanpa nasab adalah dari Farel.


"Dia adik kamu kan, Sayang?" tanya Satria perlahan.


"Iya, anaknya Bapak dan Tante Wati," balas Indi.


"Enggak kamu sapa?" tanya Satria lagi. Lantaran sudah tahu hubungan antara Indi dan Farel, maka Satria bertanya apakah tidak sebaiknya jika suaminya itu menyapa adiknya sendiri.


Indi tampak menghela napas panjang dan setelahnya mulai menggeleng perlahan. "Kayaknya enggak aja deh, Mas. Aku masih teringat ucapannya Yudha dulu kalau yang memberitahu masa lalu yang tidak ada baiknya itu adalah dia. Hm, maaf ... aku juga manusia biasa, bukan malaikat. Aku juga bisa kesal," balas Indi.


Walau secara karakter dan kepribadian, Indi adalah sosok yang baik. Wanita yang pintar dan lembah lembut, tapi dia mengakui bahwa dia merasa kesal dengan ucapan yang dia dengar. Benar atau tidak, seharusnya tidak perlu membuka aibnya yang adalah seorang anak hasil dari sebuah kesalahan yang dilakukan orang tuanya dulu.


"Ya sudah, santai saja. Aku mengecek pembukuan Oemah Jamu dulu yah. Biar aku bisa laporkan ke Rama," kata Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Santai saja. Tidak apa-apa kok. Aku sambil baca-baca aja, aku bawa buku tadi dari rumah."


Memang sekarang Indi dan Satria hanya berdua. Seperti biasa Nakula dan Sadewa ada di rumah Bunda Ervita. Atas kemauan Bunda Ervita sendiri yang mau mengasuh Nang-Nang. Katanya supaya Bunda Ervita ada kegiatan dan mengalihkan rasa sedihnya ketika kangen dengan Irene. Oleh karena itu, memang sekarang Indi dan Satria sering menitipkan Nakula dan Sadewa kepada Eyang Nda dan Eyang Kakung Pandu.


Selang setengah jam kemudian, rupanya Farel mendekat dan menyapa Indi serta Satria.


"Mbak Indi ..., Mas ...."

__ADS_1


"Hei, kamu di sini, Farel? Mau ngapain?" balas Satria.


"Nunggu temen, Mas. Ini tempatnya Mas Satria yah?" tanya Farel lagi.


Satria kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak ... punyanya Rama. Bukan punyaku."


Memang Satria tidak pernah menganggap apa yang menjadi milik orang tuanya adalah miliknya. Dia hanya sebatas diberi tugas oleh Ramanya saja. Sehingga, hak kepemilikan secara penuh tetaplah menjadi milik Rama Bima Negara.


"Mas ini lucu loh, kan yang menjadi milik orang tua juga adalah milik anaknya. Masak punya orang tua bukan punya anaknya," balas Farel dengan sesekali mengedikkan bahunya sembari mengamati konsep interior Oemah Jamu yang memang bagus dan mengusung gaya etnik itu.


Satria tersenyum saja. Namun, dari ucapan Farel setidaknya Satria bisa menilai bagaimana karakter Farel. Walau begitu Satria memilih tenang saja. Sementara Indi juga diam saja.


"Farel, duduklah dulu. Aku ingin bertanya sesuatu," kata Satria kemudian.


"Kenapa, Mas?"


"Begini ... aku hanya mau bertanya benarkah kamu mengenal Yudha?" tanya Satria. Rupanya Satria ingin mendengar sendiri apakah Farel kali ini akan berkata jujur. Dia ingin mendengar sendiri pengakuan dari pemuda itu.


"Oh, Mas Yudha ... iya, kamu satu projek di kerjaan. Mas Yudha ternyata mantan pacarnya Mbak Indi yah?"


Rupanya dengan terbuka Farel menjawab demikian, juga Farel mangatakan bahwa Yudha memiliki hubungan dengan Indi di masa lalu. Seakan dia mempertegaskannya di hadapan Satria. Sebagai pria yang lebih dewasa, Satria hanya tersenyum saja.


"Pengakuannya Yudha yah?" tanya Satria.

__ADS_1


Farel kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya dong ... cowok mah kalau sudah sohib, semuanya juga bisa diakui semuanya," balas Farel.


Satria mengangguk, setelah itu Satria mengira pastilah Yudha berkata-kata yang tidak-tidak mengenai masa lalu dengan Indi yang sebenarnya tidak perlu dikatakan kepada siapa pun.


"Lalu, kenapa kamu mengatakan ke Yudha kalau Mbak Indi ini adalah anaknya Bapak Firhan?" tanya Satria.


"Ya, kan benar. Anaknya Bapak ... walau enggak dinikahi kan ibunya. Apa yah namanya ... tanpa nasab. Oh, iya ... itu namanya," jawab Farel.


Indi yang mendengarkannya saja menghela napas. Kenapa rasanya mendengar itu secara langsung dari adiknya sendiri membuat telinganya panas. Sayangnya, Farel terlalu tengil dan tidak memperhatikan dengan siapa dia berbicara siapa sekarang. Untung saja Indi bisa menahan emosi dan juga bersabar sehingga Indi pada akhirnya lebih memilih diam. Walau begitu, Indi berharap di kemudian hari Farel bisa lebih dewasa dan menyingkapi segala sesuatu.


"Aku beritahu yah, Farel ... sebenarnya hal yang kayak itu, sekiranya adalah aib tidak perlu kamu umbar kepada orang lain. Bagaimana pun itu adalah aib keluargamu," balas Satria dengan menatap Farel dan menunjukkan wajah yang serius. Setidaknya Satria juga memberitahu layaknya keluarga. Bukan sekadar membela Indi, tapi sikap dan pemikiran Farel memang harus diluruskan kembali.


"Loh, kenapa emangnya Mas?" tanyanya dengan menunjukkan wajah sedikit bingung.


"Yang dapat buruknya bukan hanya Mbak Indi, tapi Bapak juga. Jaga nama baiknya. Kalau memang kenyataan itu harus dikubur atau diketahui keluarga saja itu lebih baik," balas Satria.


Farel terdiam, kemudian dia melirik Indi yang duduk di hadapannya hanya berjarak sebuah meja saja. "Kan fakta. Lagian gara-gara Mbak Indi, aku gak diperhatiin Bapak. Bapak cuma sedih terus mikirin anaknya yang tidak bisa diakuinya. Kalau malam Bapak duduk merenung dengan memegangi fotonya Mbak Indi. Padahal, aku juga anaknya loh. Anak yang sah," balas Farel.


Ucapan Farel itu terkesan kekanak-kanakan. Dia tidak suka Bapaknya yang seolah menyesal dan kemudian merasa hanya memikirkan Indi saja. Padahal pastinya semua anak pastilah dipikirkan orang tuanya dengan baik.


"Aku hanya memberitahu, Farel. Itu pun kalau kamu menganggapnya baik. Kalau kamu menganggap kami berdua sebagai kakak," balas Satria.


Farel kemudian mengangguk. Walau hatinya masih belum bisa menerima sebenarnya. Akan tetapi, Farel akhirnya memilih pergi. Sebab, temannya juga sudah datang. Sudah saatnya dia menemui temannya itu. Walau begitu, Farel dulu berharap bahwa Bapaknya akan memberikan lebih banyak perhatian kepadanya. Dulu, Bapaknya terlalu meratapi segala sesuatu dan juga memikirkan Indi, hingga kepada anak-anaknya sendiri tak begitu mendapatkan perhatian dari Bapak Firhan. Sekarang memang sudah berubah, tapi masa lalu Bapak Firhan cukup menggangu Farel.

__ADS_1


__ADS_2