Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Akhlak Baik Seorang Suami


__ADS_3

Tidak terasa ini sudah menjadi hari ketiga bagi Indi berada di rumah. Di dalam perawatan suaminya yang benar-benar all out, Indi merasakan keteduhan untuk sembuh. Satria pun sangat sabar dalam merawatnya.


Siang ini, Bunda Ervita datang ke rumah untuk menjenguk Indi. Sehingga Satria kembali menggendong Indi, Bunda Ervita tersenyum melihat menantunya itu.


"Capek loh, Sat," kata Bunda Ervita.


"Tidak apa-apa, Bunda. Capek untuk istri sendiri justru mendapatkan pahala dari Allah," balas Satria.


Bunda Ervita setuju dengan pendapat Satria itu. Ibadah terindah dan sepanjang hayat adalah berumahtangga. Ketika suami dan istri bisa sama-sama memaknai hal yang terjadi dengan baik, itu menjadi pahala yang akan Allah berikan.


"Makasih yah, sudah menjadi suami yang sangat baik untuk Indi. Tidak usah repot membuatkan Bunda minum loh, Sat. Nanti Bunda bikin sendiri saja," kata Bunda Ervita.


Lantaran Bunda Ervita sudah berkata demikian, Satria pun menganggukkan kepalanya. Dalam tiga hari ini bengkak di wajah Indi sudah berkurang. Lebam biru keunguan juga mulai sembuh. Kakinya yang bengkak juga perlahan mengecil. Sudah ada perubahan, walau memang harus pelan-pelan.


"Bunda ngobrol sama Indi dulu, Satria naik ke atas dulu sebentar," pamitnya.


Tujuan Satria adalah supaya Bunda Ervita dan Indi bisa mengobrol santai. Mungkin jika ada dirinya, Bunda Ervita masih merasa sungkan.


"Iya, Mas," balas Indi.


Setelah Satria naik lagi ke atas, Bunda Ervita pun menatap putrinya itu. Tetap saja ada perasaan iba. Namun, Bunda Ervita percaya bahwa Satria akan merawat Indi dengan baik.


"Sudah enakan?" tanya Bunda Ervita.

__ADS_1


"Sudah, Nda. Berkat Mas Satria yang telaten banget. Bahkan mengurus Indi yang sakit, tidak mengeluh," cerita Indi.


Ya, sekarang Indi bisa menceritakan bagaimana baik dan telatennya suaminya itu kala merawatnya. Indi mengakui bahwa tubunya yang semakin baik ini juga karena Satria yang selalu merawatnya.


"Bunda senang melihatnya. Satria memang terlihat sangat tulus. Dia merawat kamu dengan baik. Bersyukur, Ndi ... sekarang pria yang mau merawat istrinya kala sakit itu bisa dihitung jari. Yang mau sehatnya banyak, tapi yang mau kala istrinya sakit itu tidak banyak," kata Bunda Ervita.


Indi mengangguk perlahan. "Indi ingat ucapan Ayah Pandu dulu bahwa seorang suami harus bersikap lemah lembut kala istri sakit. Bertakwalah kepada Allah dan rawat istrimu yang sakit," kata Indi.


Mengingat nasihat Ayahnya saja Indi berkaca-kaca karena sekarang dia mendapatkan sendiri suami yang lemah lembut kala istri sakit. Tidak pernah membentak istrinya, tapi cekatan membantu pekerjaan rumah tangga.


Berbuat baik pada istri merupakan bentuk akhlak sebenarnya (akhlak asli) seorang suami. Seorang istri kerap disebut sebagai “bawahan suami” dan seseorang akan mudah melampiaskan akhlak buruknya ketika menghadapi orang yang derajat/jabatannya di bawahnya. Oleh karena itu, sebaik-baik akhlak seseorang adalah yang paling baik terhadap istrinya.


"Bersyukur ya Mbak Indi, dalam sakitmu, kamu masih bisa melihat dan menilai bahwa suamimu berakhlak baik. Memang wanita berada di bawah para pria, tapi Satria tak ragu memberi diri untuk merawat kamu. Itu bukti bahwa akhlak suamimu sangatlah baik," balas Bunda Ervita.


"Tak luput dari doa Ayah dan Bunda juga yang memohon kepada Allah untuk pasangan terbaik bagi Indi. Makasih, Nda," katanya.


"Makasih banyak yah, Nda. Wah, dengan makan masakan Nda yang lezat, Indi cepat sembuh ini," balasnya.


"Kamu bisa saja. Ada pekerjaan rumah yang bisa Nda bantuin enggak?" tawar Bunda Ervita.


"Semuanya sudah dikerjakan Mas Satria, Nda. Indi cuma bantuin lipat-lipat baju aja. Sebenarnya, Mas Satria tidak mau, tapi Indi memaksa mau membantu," balasnya.


"Yah, kalau bisa dibantu yah dibantu," balas Bunda Ervita.

__ADS_1


Hampir setengah jam berlalu, Satria turun dari kamar dan bergabung dengan istrinya dan Bunda Ervita. Bunda Ervita pun tersenyum menatap menantunya itu.


"Makasih banyak Mas Satria. Bunda sudah lihat sendiri Indi sudah berangsur pulih. Kalau memungkinkan, tidak perlu digendong terus. Kasihan kamu kalau menggendong Indi. Diajarin berjalan juga Mas Satria," kata Bunda Ervita.


"Tidak apa-apa, Bunda. Satria yang mau kok. Gak tega melihatnya Bunda," balas Satria.


Bunda Ervita memahami Satria dengan baik. Selain itu, juga semakin terlihat baiknya akhlak seorang suami yang mau merawat istrinya yang sedang sakit. Bunda Ervita saja terharu.


"Nanti diajarin berjalan pelan-pelan juga Mas Satria," kata Bunda Ervita.


"Siap, Nda. Nanti Satria ajarin pelan-pelan. Terus doakan yah, Bunda. Kalau kakinya sudah tidak bengkak, lebam yang biru-biru juga sudah berkurang sangat banyak. Paling besok Satria akan mengajari Indi berjalan," kata Satria.


"Mas Satria juga menjaga kesehatan, jangan kecapekan. Bunda mengucapkan banyak terima kasih. Bunda cemas waktu melihat Indi jatuh dengan semua luka di badannya. Sekarang, sudah sehat."


"Bersama Mas Satria, Indi pasti sehat kok, Nda," balas Indi.


"Bunda bawakan Sayur Gereh Cabai Hijau, Mas Satria. Bunda dengar dari Bu Galuh, Mas Satria suka masakan itu. Dimakan yah, Mas."


Wah, Satria senang sekali mendengar bahwa Bunda Ervita membawakan masakan kesukaannya. Sudah terbayang menikmati masakan itu dengan nasi hangat.


"Pasti dimakan dan dihabiskan, Nda," balas Satria.


"Kalau sudah sehat nanti main ke rumah yah. Irene kangen tuh sama Mbaknya. Mau menjenguk ke sini, tapi baru banyak tugas dari kampus," kata Bunda Ervita.

__ADS_1


"Siap, Bunda. Menunggu Indi pulih dan sehat dulu. Nanti kami menginap ke rumah Ayah dan Bunda."


Banyak yang Bunda Ervita syukuri karena mendapatkan menantu yang sangat baik. Terlihat lemah lembutnya seorang Satria, dan ketulusannya yang mau merawat Indi. Sungguh, suami seperti Satria adalah pria terbatas sekarang di bumi ini. 🥰


__ADS_2