Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Nasab adalah Berkah


__ADS_3

Malam harinya, ketika Satria sudah di rumah banyak hal yang Indi ceritakan kepada suaminya itu. Terlebih usai dikunjungi Bunda Ervita dan Irene, ketika anak-anak sudah tidur dan suami pulang itu rasanya ingin mencurahkan semua cerita kepada suami. Itu juga yang Indi lakukan sekarang.


"Anak-anak kita ini terhitung hidupnya teratur yah, Sayang. Kurang dari jam delapan malam pasti sudah pada bobok," kata Satria.


Sekarang keduanya sama-sama berdiri di depan box bayi, memperhatikan wajah Nakula dan Sadewa yang terlelap. Wajahnya yang teduh dengan derau napas yang teratur, kedua tangan naik ke atas, seakan bayi-bayinya itu ingin terbang. Indi dan Satria sama-sama tersenyum melihat teduhnya Nakula dan Sadewa.


"Sudah dikenalkan siang dan malam sih, Mas. Saat malam dengan meredupkan lampu seperti ini, jadi pelajaran untuk anak-anak, Mas. Tandanya sudah malam, mereka harus tidur. Sleep training itu bisa diajarkan kepada anak-anak sejak mereka masih bayi kok," balas Indi.


"Kamu Mama yang hebat banget sih, bangganya Nakula dan Sadewa memiliki Mama seperti kamu," balas Satria.


"Nakula dan Sadewa juga bangga banget kok, memiliki Papa seperti Papa Satria ini. Bagaimana kerjaan seharian ini, Pa?" tanya Indi.


"Normal dan lancar, Sayang. Cuma pengennya pulang terus, kangen sama kamu dan anak-anak," balas Satria.


Kali ini Satria berbicara dengan jujur bahwa dia rasanya ingin pulang. Kangen dengan istri dan anak-anaknya. Terlebih sepanjang hari Satria terbayang-bayang wajah Nakula dan Sadewa.

__ADS_1


"Mainnya sama Nakula dan Sadewa di pagi hari dan sepulang kerja, Papa. Katanya Irene tadi, anak kita yang satu disuruh memakai kuncung biar kayak Upin Ipin, Pa," cerita Indi dengan tertawa pelan.


Sontak saja Satria terkekeh geli terbayang karakter kartun dari Negeri Jiran yang satu berkepala plontos dan satunya memiliki kuncung. Karakter anak kembar yang identik dengan warna Kuning dan Biru saja. Menurut Satria, ada-ada saja adik iparnya itu.


"Irene ke sini tadi?" tanya Satria.


"Iya, sama Bunda kok. Bersyukur banget, pas kamu mulai bekerja ada Bunda dan Irene yang main ke sini," balas Indi.


"Jadi ada bantuan yah, Sayang. Aku juga seneng dengernya," balas Satria lagi.


Usai menatapi wajah kedua putranya, sekarang Satria dan Indi duduk bersama di balkon kamarnya. Merasakan semilir angin malam dengan gemerisiknya. Waktu berdua seperti ini dinikmati Indi dan Satria, mumpung anak-anak juga tengah tertidur.


Mendengarkan cerita istrinya, lagi-lagi Satria tersenyum. Kebahagian seseorang itu ada kalanya begitu sederhana. Sekadar untuk menu masak besok tidak begitu repot, sudah sangat bahagia.


"Bersyukur, Yang. Kita memiliki orang tua yang baik. Walau Rama dan Ibuku tidak bisa dekat, tapi doa mereka juga selalu bersama kita," tutur Satria.

__ADS_1


Setelah itu, Indi turut menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Rama dan Ibu juga baik banget, doanya dan restunya juga selalu untuk kita berdua. Aku jadi kepikiran, banyak berkah. Termasuk kedua putraku yang memiliki nasab itu juga adalah berkah," kata Indi.


"Kenapa, Yang?" tanya Satria perlahan.


"Mendengar cerita Bunda tadi, masa lalu kami banyak mendapatkan uluran tangan dari orang lain. Sekadar lauk dan sayur saja, ada orang lain yang mengulurkan tangan untuk Bunda. Ketidaknasabanku bahkan ditutupi oleh Yayahku. Bukankah itu juga adalah berkah? Aku tidak dibiarkan tahu, supaya tumbuh kembangku sewaktu kecil selalu bahagia. Tidak memikirkan bahwa aku ini anaknya siapa. Sekarang, aku bersyukur Nakula dan Sadewa memiliki nasab yang jelas. Siapa bapaknya, darah siapa yang mengalir dalam dirinya, garis keturunannya semuanya jelas."


Indi menyadari hal itu. Nasab bukan hanya menjelaskan asal-usul seorang anak, tapi juga darah siapa yang mengalir di dalam dirinya. Oleh karena itu, Indi bersyukur anak-anak lahir di dalam pernikahan, tidak diragukan siapa bapaknya, siapa muadzinnya, semuanya jelas.


"Kamu berpikir sampai segitunya, Sayang. Kan kedua putra kita lahir dalam pernikahan yang sah. Aku Papanya, dia penerus garis keturunan Negara. Semuanya jelas," balas Satria.


"Benar, Mas. Sementara dulu, aku waktu tahu hanya nama Bunda yang tertera di Akta Kelahiranku rasanya sangat sakit. Aku pernah berpikir dan iri dengan adikku sendiri yang adalah putri kandung Yayahku. Sedangkan untuk Nakula dan Sadewa tertera jelas dia putra kita berdua. Membaca keterangan itu di Akta Kelahiran saja aku senang," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Dia mencoba memahami perasaan istrinya. Satria tahu semua yang terjadi di masa lalu memberikan pelajaran berharga, dan itu berlaku juga untuk Indi. Mungkin pernyataan nama kedua orang tua tertera di Akta Kelahiran adalah hal yang lumrah dan biasa, tapi itu penuh makna. Menunjukkan siapa orang tua, pengukir jiwa dan raga seorang anak. Identitas awal mula yang dimiliki seorang bayi yang baru lahir bukan hanya nama yang disematkan oleh orang tuanya, tapi juga adalah kedua nama orang tua yang menjadi wali Allah atas bayi yang baru lahir itu.


"Iya, Sayang. Sekarang aku memahami sudut pandangmu. Nakula dan Sadewa jelas siapa orang tuanya, garis keturunannya, dan identitas mula-mula yang dia dapatkan. Jadi, nasab itu adalah berkah kan?" tanya Satria.

__ADS_1


"Benar. Nasab itu adalah berkah, sementara anak yang tidak memiliki nasab akan dianggap cela, aib, bahkan kadang dikucilkan oleh orang lain. Dulu, ku pikir Yayahku ya Ayah Pandu, ternyata bukan. Ada Bapak Firhan yang menjadi bapak biologisku. Kecewa? Ya, pada awalnya. Namun, semakin aku memikirkannya aku percaya garis takdir ini sengaja Allah gariskan untuk menunjukkan sesuatu serta mengajarkanku untuk menghargai sebuah hubungan."


Indi mengatakan semuanya itu. Hidup memang adalah tentang belajar. Bukan hanya dari masa kini, tapi juga dari masa lalu. Dari setiap pembelajaran itu, Indi pun menjadi sadar dan banyak bersyukur. Banyak hal-hal yang bisa direfleksikan untuk diri sendiri. Aamiin. 😇


__ADS_2