Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Es Kapal Sriwedari


__ADS_3

Rama Bima dan Bu Galuh merasa sangat senang mendengarkan bahwa Indi tengah hamil kembar. Sebenarnya, memiliki keturunan saja sudah berkah yang luar biasa. Akan tetapi, Satria dan Indi justru membagikan kabar bahwa kehamilannya sekarang kembar. Sehingga, Rama Bima dan Bu Galuh sangat bahagia.


"Lebih dihati-hati Mbak Indi. Jangan capek-capek," kata Bu Galuh kepada menantunya itu.


"Iya, Ibu. Indi juga enggak mual dan muntah, sehat banget," cerita Indi.


"Kalau Satria yang mual dan muntah enggak? Biasanya kalau istrinya sehat-sehat, biasanya suaminya nanti yang teler," balas Bu Galuh.


"Mas Satria juga sehat kok, Bu," kata Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Satria juga sehat kok, Bu. Kami berdua sama-sama sehat," balas Satria.


"Kalau sama-sama sehat yah bagus, Sat. Kalian bisa bekerja. Itu namanya bayinya membantu orang tuanya banget. Jadi sejak dari dalam kandungan tidak banyak maunya," kata Rama Bima.


Orang Jawa selalu beranggapan bahwa ketika hamil dan sehat walafiat itu janinnya sangat membantu orang tuanya. Tidak memberatkan kedua orang tuanya. Ini adalah berkah tersendiri. Sebab, banyak ibu hamil yang teler kala hamil muda. Sementara, Indi sangat sehat.


"Baru ngidam itu, Bu," kata Satria.


"Ngidam apa? Biar Ibu belikan. Mumpung kalian ada di Solo," kata Bu Galuh.


Ketika anak dan menantu datang itu membuat Bu Galuh sangat senang. Calon Eyang itu juga mau membelikan apa yang tengah diinginkan oleh menantunya. Tanda kasih sayang orang tua kepada menantu dan calon cucunya yang masih berada di dalam perut.


"Indi pengen Es Kapal yang cokelat itu, Bu," kata Indi sekarang.


Rama Bima dan Bu Galuh mendengarkan malahan tertawa. Ngidam yang aneh dan jauh-jauh dari Jogjakarta justru membeli es kapal. Es Kapal sendiri adalah minuman khas yang sudah dikenal masyarakat Solo sejak lama yaitu sejak 1950an. Nama Es Kapal sendiri diberikan karena bentuk gerobaknya yang menyerupai kapal.



Es Kapal juga terbuat dari bahan sederhana hanya santan, cokelat, dan es batu yang diserut, kemudian dilengkapi dengan Roti Tawar. Di Solo sendiri, segelas Es Kapal dihargai dengan harga lima ribu Rupiah.



Rupanya Indi hanya mengidam minuman jadul yang harganya terbilang murah. Hingga Rama Bima tertawa.

__ADS_1


"Mbak, Mbak ... hamil cuma pengen Es Kapal. Minta Satria yang lain, nanti pasti dibelikan," balas Rama Bima.


"Cuma pengen Es Kapal aja Rama," balas Indi.


"Ke arah kawasan Sriwedari. Di sana ada penjual Es Kapal. Mumpung sudah siang, nanti kalau terlalu sore sudah habis. Selain itu, es kapal kan dari santan, kadang kala ada yang santannya sudah encer dan tidak enak. Menjadi asam," kata Rama Bima.


"Rama dan Ibu ikut enggak?" ajak Indi kepada mertuanya.


"Kami di rumah saja. Kalian menikmati jalan-jalan di Solo, mumpung baru di kota Solo," balas Rama Bima.


Akhirnya Indi dan Satria memilih untuk menuju ke Sriwedari terlebih dahulu. Keduanya berpamitan terlebih dahulu. Lucunya Rama yang malahan memberikan uang kepada Satria. Seperti Bapak-bapak yang memberikan uang saku untuk anaknya.


"Nanti buat jajan ... buat cucunya Rama," kata Rama Bima dengan memberikan beberapa lembar uang bergambar Priklamator itu kepada Satria.


"Rama tidak usah, kan Satria punya dan sudah bekerja juga. Esnya juga harganya hanya lima ribu Rupiah kok," balas Satria.


"Sudah, gak apa-apa. Rama kasih untuk calon cucu biar jajan. Pengen apa lagi dibeli Mbak Indi," kata Rama Bima.


"Matur nuwun nggih Rama," balasnya.


"Iya, Mbak ... sama-sama," balas Rama Bima.


Kemudian Satria mengajak Indi menuju ke Solo lagi, dan mencari penjual Es Kapal yang berada di kawasan Sriwedari, Solo. Di jalan, Indi berbicara kepada suaminya itu.


"Malu loh, Mas. Malahan dikasih uang saku sama Rama," katanya.


"Rama maunya gitu, Sayang. Rama itu kaku, maksudnya masih menganggap orang tua harus memberi ke anak walau anaknya sudah besar dan dewasa. Yah, begitu. Yang penting kita kan tidak meminta," balas Satria.


"Iya, Mas. Kalau di rumahku, walau aku sudah bekerja, Yayah juga hobi banget bayarin kalau ke Mall. Apalagi Irene yang malahan kayak Kang Palak," cerita Indi.


"Yah itu kasih sayangnya seorang Bapak kali yah. Merasa bahagia bisa memberi untuk anaknya," balas Satria.


Mobil yang dikemudikan Satria pun melaju ke arah pusat kota Solo. Melewati Pasar Gede Hardjonagoro, bergerak ke Balai Kota Surakarta, dan akhirnya Satria memilih melewati kawasan Supit Urang di Keraton Kasunanan Solo, hingga akhirnya mereka sudah tiba di area Sriwedari.

__ADS_1


Ya, Sriwedari adalah tempat rekreasi untuk Raja hingga Sentana Dalam di Keraton Kasunanan Solo. Di area ini terdapat Stadion juga yang dibangun oleh Pakubuwono X, sebuah stadion yang digunakan sebagai Pekan Olahraga Nasional pertama kali di Solo. Di jalanan yang asri dan banyak pepohonan yang rindang itulah Satria dan Indi memarkirkan mobilnya dan berjalan membeli Es Cokelat Sriwedari yang terkenal di Solo.


"Es Kapal dua nggih Pak," pesan Satria kepada penjual di sana.


"Nggih, Mas."


Hanya beberapa menit kemudian sudah disajikan dua gelas Es Kapal yang legendaris itu. Satria dan Indi duduk di tikar yang digelar di trotoar sembari melihat mobil dan kendaraan yang lalu lalang.


"Bumil sudah dapat yang dimau?" tanya Satria.


"Sudah, rasanya gak berubah yah, Mas. Waktu aku kecil pernah beli ini, rasanya masih sama," balas Indi.


"Namanya resep legendaris, Sayang. Jadinya rasanya dipatenkan kali yah. Enak?" tanya Satria.


"Namanya baru hamil kali yah, jadi dapat yang dipengenkan itu yah enak. Senang banget rasanya," balas Indi.


Bumil itu terlihat sangat lahap menikmati Es Kapal miliknya. Sementara Satria tertawa, tidak mengira ngidam istrinya itu terbilang unik. Namun, Satria senang bisa membelikan apa yang diminta oleh istrinya.


"Mau nambah?" tanya Satria.


"Cukup satu gelas aja kok, Mas."


Indi merasa cukup satu gelas. Namanya juga ngidam, gak harus banyak. Yang penting yang diminta sudah dibelikan saja rasanya sudah begitu bahagia.


"Itu ada Batagor dan lainnya, mau enggak?" tawar Satria.


"Kelihatannya Mie Ayamnya enak, Mas. Semangkuk berdua mau enggak Mas? Kayaknya kalau satu, aku enggak habis," kata Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Dia memesankan Mie Ayam juga yang dijual di sana. Jajanan yang dijual di sana terhitung murah. Hanya delapan ribu rupiah untuk semangkuk Mie Ayam. Indi dan Satria berbagi semangkuk Mie Ayam itu. Bahkan Indi tak ragu untuk menyuapi suaminya itu. Walau kadang dilirik oleh banyak orang di sana, tapi Indi terlihat santai.


"Makan yang banyak, sehat-sehat Bumilku yang ayu," kata Satria.


Indi tertawa. Yang pasti hamil ini rasanya bahagia karena suaminya juga super pengertian. Itu membuat Indi lebih baik dan moodnya pun selalu bahagia.

__ADS_1


__ADS_2