Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Menunda Bulan Madu


__ADS_3

Pagi menikmati sarapan bersama, di meja makan tersedia Gudeg dan Sambal Goreng Krecek. Selain itu, ada nasi putih dan bubur, orang Jawa bisa menyebutnya Jenang. Di mana seluruh keluarga Hadinata dan Satria sudah berkumpul bersama.


"Ayo sarapan dulu," kata Ayah Pandu.


Bunda Ervita seperti biasa begitu cekatan mengisi piring kosong suaminya terlebih dahulu. Sedangkan, Irene masih menunggu Bundanya.


"Nda, Irene mau juga dong," pinta Irene dengan mengangkat piring kosongnya.


"Sini, kamu memang selalu deh," balas Bunda Ervita.


Putri bungsunya itu memang lebih manja, tapi Irene agaknya juga gak masalah. Dia seneng malahan bisa manja dengan Bunda dan Ayahnya. Kadang Irene itu kebalikannya dari Indi. Indi lebih dewasa, tenang, dan mandiri. Sementara Irene manja, kadang berisik, dan suka sekali manja dengan Ayah dan Bundanya.


"Kalau Irene udah menikah kayak Mbak Didi, Nda bakalan kangen nanti gak ada yang manja-manja ke Nda," jawab Irene.


"Sekolah sampai selesai dulu, Rene. Jangan buru-buru menikah. Gapai cita-citamu dulu," kata Ayah Pandu.


Sejujurnya Ayah Pandu hanya sedih saja ketika nanti semua anak-anaknya menikah. Namun, memang anak-anak ketika dewasa mereka akan menikah dan juga menyatu dengan pasangannya. Sementara, orang tua saatnya menepi, menikmati hari tua bersama sembari menunggu saat Terima cucu nanti.


"Kalau Mbak Indi jodohnya dekat, Yah. Kalau Irene pengennya dapat orang Jakarta deh. Ayah dan Nda biar ke Jakarta," canda Irene.


"Mau orang jauh atau dekat, kalau cowok ya seiman denganmu, berakhlak baik, dan memiliki pekerjaan tetap, Rene. Mau anak atau keturunannya sapa saja tidak masalah," balas Ayah Pandu.


Satria turut mendengarkan obrolan di meja makan pagi itu. Sembari dia menikmati sarapan yang sudah diambilkan Indi di dalam piring kosongnya. Namun, Satria setuju dengan pendapat Ayah Pandu. Sekalipun, dia dari kalangan bangsawan, tapi Satria menginginkan menantu kelak ya seiman dan berakhlak baik, selain itu memiliki pekerjaan, sehingga bisa menjalankan peran sebagai suami yang bisa menafkahi istrinya.


"Obrolannya seperti ini, Satria ... jangan heran yah, keluarga Hadinata memang seperti ini," kata Ayah Pandu kepada Satria.


"Iya, Ayah. Justru seru," balas Satria.


Ya, di mata Satria justru seru karena tidak ada batas dan jarak antara orang tua dan anak. Kasih sayang yang bahkan bisa terdengar dari setiap obrolan. Senyuman yang dipancarkan. Kadang keakraban dan keramahan seperti ini memang begitu sangat dibutuhkan.


"Kalau di keluargamu bagaimana, Sat?" tanya Ayah Pandu.

__ADS_1


"Ya, kalau makan fokus makan, Yah. Tradisi orang Jawa zaman dulu kalau makan tidak boleh sambil berbicara. Ya, begitu adanya, Ayah," jawab Satria.


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. Tidak memungkiri bahwa perbedaan itu ada. Ayah Pandu hanya ingin tahu bagaimana kebiasaan meja makan dan mungkin kebiasaan lainnya. Sekarang memang keluarga Negara belum menerima, tapi tak memungkiri di kemudian hari nanti keluarga Hadinata dan Negara juga bisa bersatu.


"Tidak apa-apa. Ayah hanya ingin tahu. Ya sudah, kalian tidak ingin bulan madu?" tanya Ayah Pandu.


"Diundur saja, Yah. Maaf, karena Indi masih harus menyelesaikan Oemah Jamu itu dari Ramanya Mas Satria. Dalam satu setengah bulan harus selesai," balas Indi.


Ayah Pandu tentu juga sudah tahu bagaimana sibuknya Indi bekerja. Selain itu juga, ada Oemah Jamu itu yang harus selesai dikerjakan. Padahal, sesungguhnya Ayah Pandu ingin anaknya itu juga menikmati bulan madu, merayakan pernikahan mereka berdua, mengisi waktu berkualitas bersama.


"Mas Satria tidak apa-apa?" tanya Bunda Ervita.


"Iya, tidak apa-apa, Bunda. Satria dalam seminggu ini mengambil cuti bekerja. Mengantar jemput Indi, lalu Satria bantu-bantu Bunda jualan batik saja," balasnya.


Mendengar jawaban Satria, Bunda Ervita dan Ayah Pandu justru tertawa. Begitu juga Irene yang juga tertawa. Sampai akhirnya, Irene kembali bersuara.


"Baik banget sih, Mas ... duh, jangan ikut jualan batik, nanti dilirik cewek-cewek loh," balas Irene.


Ayah Pandu pun turut berbicara. "Kamu di rumah nyantai-nyantai gak apa-apa, Sat. Gak harus bantuin Bundamu," balas Ayah Pandu.


"Iya, di rumah saja. Nyantai ... Bunda jadi kasihan, kalian pengantin baru, bulan madu enggak, Indi besok langsung bekerja, dan masih harus puasa seminggu," kata Bunda Ervita.


Seketika Indi terbatuk. Sebenarnya, malam pertama sudah dilewati bersama. Bukan officially puasa dan menundanya. Satria pun cekatan segera mengambilkan air minum untuk istrinya itu.


"Minum dulu, Yang," kata Satria.


Lagi-lagi Ayah Pandu dan Bunda Ervita saling pandang dan tersenyum. Keduanya masih ingat bahwa Satria biasanya memanggil Indi dengan panggilan Dik, sekarang berganti menjadi sayang. Sementara Irene bisa membaca situasi yang terjadi. Namun, dia memilih santai saja.


"Putrinya Ayah sampai kebatuk-batuk," kata Ayah Pandu.


"Iya, Yah," balas Indi.

__ADS_1


Usai sarapan, Indi dan Satria kembali masuk ke kamar. Sebenarnya, Satria ingin membantu membersihkan rumah atau kegiatan yang lain. Akan tetapi, Bunda Ervita meminta keduanya di kamar saja.


"Aku jadi sungkan, Sayang," kata Satria.


"Ayah dan Bunda memang seperti itu, Mas," balas Indi.


"Kan itu nanti ada orang datang membersihkan sisa dekorasi dan mengangkat kursi. Aku bantuin kan juga bisa," balas Satria.


"Ya sudah, ikutin Ayah dan Bunda aja," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Dia kembali mengambil tempat duduk di sofa yang ada di sudut kamarnya Indi. "Kalau nanti sudah serumah sendiri lebih santai dan leluasa, Sayang," kata Satria.


"Bertahan seminggu, Mas," balas Indi.


"Iya, aku sih gak apa-apa. Cuma memang agak sungkan yah, soalnya aku masih pendatang baru," balas Satria.


"Tidak apa-apa, mungkin kalau nanti aku diterima keluargamu, aku juga akan sungkan, Mas," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. "Maaf yah, harusnya menantu wanita mendapat cinta dan kasih sayang dari mertuanya. Keluargaku belum bisa memberikannya," balas Satria.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku sabar menanti saat itu tiba. Semoga ada masanya akan datang yah," balas Indi.


"Iya, semoga, Sayang," balas Satria.


Usai itu Satria berdiri. Dia segera memeluk Indi. Jujur, perasaan hatinya berkecamuk. Di satu sisi, dia bahagia ketika keluarga Hadinata menerimanya, tapi di satu sisi Satria merasa tidak enak, karena Indi tak bisa merasakan penerimaan yang serupa dari pihak keluarganya.


"Sudah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Asal kamu selalu setia, Mas," balas Indi.


"Pasti, Yang. Aku akan selalu setia. Kita berjuang bersama yah, bukan berjuang sendiri-sendiri, tapi kita berjuang bersama," balas Satria.


"Iya, aku akan berjuang bersamamu," jawab Indi.

__ADS_1


Terlalu dini untuk memaknai semuanya, tapi memang keduanya harus berjuang. Memenangkan hati Ramanya sampai akhirnya nanti Indi bisa diterima di keluarga Negara. Sebab, pernikahan tak hanya menyatukan dua individu, tapi juga menyatukan dua keluarga.


__ADS_2