
Tugas utama Indi dan Satria ketika berada di Amsterdam sudah dilaksanakan yaitu menjadi Narasumber yang menyampaikan industri jamu dan upaya melestarikan tradisi. Usai dari acara formal di KBRI itu, kemudian Rama Bima mengajak mereka menuju ke Keukenhof Garden.
Rasanya ada yang kurang ketika ke Belanda, menuju ke Amsterdam dan tidak mengunjungi Keukenhof Garden. Tempat ini adalah sebuah taman untuk menikmati indahnya bunga tulip. Indi sendiri tampak begitu terpukau dengan aneka bunga tulip yang ditata dengan sedimikian rupa sehingga benar-benar tampak indah.
"Indah bukan?" tanya Rama Bima.
"Indah banget ...."
Indi dan Sitha kompak menjawab secara bersamaan. Sebagai wanita, tentu saja Indi, Sitha, dan juga Bu Galuh menyukai bunga. Pesonanya yang elok dan juga cantik dengan sendirinya. Selain itu, tulip yang ada di Keukenhof Garden juga beraneka warna ada putih, kuning, oranye, ungu, merah muda, dan beraneka jenisnya. Perjalanan ke Amsterdam akan kurang lengkap kalau belum mengunjungi Keukenhof Garden dan menikmati tulipnya yang indah. Terlebih Belanda sendiri dijuluki sebagai Negeri Tulip, sehingga wajib untuk mengunjungi tempat ini.
"Mbak, minta tolong fotoin bisa?" tanya Sitha kepada kakak iparnya itu. Sebagai anak muda, Sitha senang di foto, laman media sosial miliknya juga memuat beberapa foto yang instagramable, memang begitulah anak muda seusia Sitha.
"Bisa," balas Indi.
Akhirnya, Sitha berfoto di antara bunga tulip yang indah dan begitu memukau itu. Hasil foto yang dijepret Indi juga terbilang bagus, walau hanya menggunakan kamera handphone. Indi juga menunjukkan hasilnya kepada Sitha, kalau Sitha sudah puas, Indi juga merasa senang memotret adik iparnya itu.
"Gantian Mbak ... sini biar aku yang fotoin," kata Sitha.
"Foto sama Mas Satria dan Nang-Nang aja," balas Indi.
Sitha tertawa, "Mbak Indi mah kalau foto pasti paket lengkap. Dengan suami dan anak-anak," balas Sitha dengan tertawa.
"Paket lengkap memakai telor yah, Sitha? Habis, ada yang kurang kalau foto sendirian," balas Indi.
Akhirnya, Sitha mengambilkan foto keluarga kakaknya itu. Terlihat begitu bahagia dengan Nakula dan Sadewa. Selain itu ada satu foto di mana Nakula dan Sadewa melihat ke kamera dan tampak tertawa.
__ADS_1
"Cakep, Nang ... berdiri di sini, Nang ... biar difoto Tante Sitha," kata Bu Galuh.
Akhirnya, Indi dan Satria membantu putranya itu berdiri dan Sitha yang memotret kedua keponakannya itu. Ada yang duduk, ada yang berdiri, bahkan ada yang satu duduk dan satunya berdiri. Suka-suka Nakula dan Sadewa saja.
"Candid dong, Tha," pinta Satria supaya memotret keluarganya secara candid saja.
"Siap, Mas," balas Sitha.
Akhirnya Sitha mengambil foto keluarga itu secara candid. Tidak lupa Rama Bima dan Bu Galuh yang berfoto dengan kedua cucunya. Sekarang, foto dengan anak tidak penting, yang penting foto bersama cucu.
"Mbak Indi nanti dikirimkan ke Eyang Ervi dan Eyang Pandu," kata Bu Galuh.
"Nggih, Ibu ... nanti Indi kirimkan kepada Ayah dan Bunda," balasnya.
Setelah itu, Rama tahu pasangan muda biasanya membutuhkan waktu untuk menikmati momen romantis di tempat yang romantis seperti ini. Oleh karena itu, Rama juga seakan memberikan waktu kepada Satria dan Indi.
"Iya, tidak apa-apa. Waktu untuk pasangan muda," balas Bu Galuh. Sepenuhnya Bu Galuh dan Rama Bima tahu bahwa ada kalanya pasangan muda seperti Indi dan Satria membutuhkan waktu berdua. Pacaran sebentar dan para Eyang yang akan mengasuh cucunya.
Satria akhirnya mengajak Indi berjalan-jalan berdua di Keukenhof Garden. Pria itu menautkan jari-jemarinya mengisi setiap celah di jari-jari Indi, menggenggamnya erat. Sesekali, Satria tersenyum mana kala berjalan berdua sembari tangan saling bertaut seperti ini.
"Kapan terakhir kali bergandengan tangan dan jalan-jalan sama kamu seperti ini, Sayang?" tanya Satria.
"Lama, kali Mas. Sejak ada Nakula dan Sadewa, kita sering gantian mendorong stroller atau menggendong anak-anak kita," balas Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya yah ... tidak menyangka hubungan kita sudah berkembang sejauh ini. Dari dulu pacaran, kemudian menjadi suami dan istri, sekarang kita sudah sama-sama menjadi Mama dan Papa. Kalau diingat rasanya begitu cepat, tapi di sinilah kita sekarang. Bukan hanya sebagai Satria dan Indi, tetapi juga sebagai Mama dan Papa bagi Nakula dan Sadewa," kata Satria.
"Benar, Mas. Sudah panjang, walau tidak bisa dikatakan panjang juga. Namun, semua yang kita lewati bersama sungguh penuh makna," balas Indi.
__ADS_1
Satria kemudian merangkul pinggang istrinya itu. Lantaran berada di luar negeri, rasanya Satria tak ragu untuk berjalan dengan merangkul pinggang seperti ini. Bahkan Satria tampak mengecup puncak kepala Indi.
"Malu, Mas," kata Indi.
"Tidak apa-apa. Kan sekarang kita berada di Amsterdam. Kalau di Jogja mah, tabu ... nanti kita keciduk CCTV," balas Satria dengan terkekeh.
"Kamu ini bisa saja. Kan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Harus pandai-pandai menempatkan diri. Beradaptasi dengan baik," balas Indi.
Memang benar kata pepatah bahwa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung yang memiliki makna bahwa setiap orang hendaknya bisa menempatkan diri dengan baik. Hukum, norma, dan aturan di satu tempat hendaknya diikuti, supaya keberadaan kita tidak menjadi batu sandungan untuk orang lain.
"Bijak banget istriku ini ... kamu waktu menyampaikan materi tadi benar-benar memukau, Sayang. Aku seperti mendapatkan mutiara," puji Satria.
Siapa wanita yang tak meleleh hatinya ketika mendengarkan suaminya memujinya seperti ini. Indi pun tersenyum dengan wajah yang tertunduk. Namun, Indi tahu bahwa itu adalah ungkapan yang tulus dari suaminya itu.
"Ketika kita melakukan sesuatu dengan hati, hasilnya juga akan bisa menyentuh hati. Puas rasanya, Mas. Senang," kata Indi.
"Benar banget. Nanti malam semoga Nang-Nang segera tidur yah, Yang," kata Satria tiba-tiba.
Indi terkekeh perlahan. Ah, pastilah itu adalah kode khusus dari suaminya itu. Indi sedikit menggelengkan kepalanya.
"Sesekali kita merasakan naungan langit Amsterdam," kata Satria.
"Kamu selalu bisa aja sih, Mas," balas Indi.
"Jangan hanya aneka tulip di Keukenhof Garden yang indah, tapi kisah kita harus indah. Ya?" tanya Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, semoga Nang-Nang bisa kita ajak bekerja sama. Walau, jangan terlalu berharap yah ... takut kecewa nanti."
__ADS_1
Indi dan Satria terus menyisir Keukenhof Garden dengan cinta yang melimpah. Memaknai fase hidup dan membuat kenangan indah yang tidak akan mereka lupakan. Selain itu , semoga saja nanti malam kedua putranya bisa bekerja sama, karena sang Papa sudah merencanakan ingin menikmati naungan Langit Amsterdam. 😉