
Pagi harinya, Satria sengaja bangun lebih dahulu. Pria itu tak segan berjibaku di dapur. Pikir Satria, dia ingin membuatkan sarapan untuk istrinya yang semalam ngambek.
Satria kepikiran membuatkan Nasi Goreng untuk istrinya. Bahkan Satria tampak mengiris beberapa Bawang Merah, lantaran kurang terbiasa bilah pisau itu sampai melukai jarinya. Satria meringis kesakitan pagi-pagi. Tidak menyangka teriris pisau rasanya sakit. Satria memilih mencuci jarinya, lalu mencari kotak P3K dan mencari hansaplast terlebih dahulu.
Hingga akhirnya, Satria melanjutkan membuat bumbu ulek dan kemudian membuat Nasi Goreng untuk istrinya. Nasi goreng selesai, kemudian Satria membuat telor ceplok. Menaruh sepiring nasi goreng di atas nampan dan Teh hangat, Satria pelan-pelan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.
Membuka pintu kamar, ternyata Indi masih bergelung di bawah selimut. Satria pun menaruh nampan di meja terlebih dahulu. Kemudian dia membangunkan istrinya itu.
"Sayangku ... bangun udah pagi loh," kata Satria.
Pria itu menepuk lengan istrinya, mengusapi perut Indi yang menyembul, dan mengecup kening istrinya. Tindakan Satria ini tentunya membuat Indi terbangun. Ya, kelopak matanya perlahan-lahan terbuka dan kemudian Indi menatap suaminya. Wajah sang suami yang sekarang tetap di depan wajahnya.
"Pagi Istriku Sayang ...."
"Jam berapa ini Mas?" tanya Indi.
"Dijawab dulu, aku menyapamu dengan penuh cinta loh," balas Satria.
Indi akhirnya menatap wajah suaminya untuk sesaat, lantas menjawab sapaan Satria. "Met Pagi, Mas Satria."
Akhirnya Satria tersenyum, tangannya bergerak merapikan anakan rambut di kening istrinya. Apa pun yang orang lain katakan di hadapan Satria, Indi tetap begitu cantik. Bangun pagi saja, istrinya terlihat sangat cantik. Justru pandangan pribadi Satria, kecantikan wanita itu terlihat ketika dia baru saja bangun.
"Cantik banget sih, Bumilku," kata Satria.
Indi memutar bola matanya dengan malas, kemudian dia kembali berbicara. "Gombal pagi-pagi. Aku gak cantik kok, kan aku ndut," balasnya.
"Ya, terserah orang lain berkata apa yang penting di mataku kamu yang paling cantik. Kecantikanmu mengalihkan duniaku," balas Satria.
__ADS_1
Pagi-pagi digombali seperti ini membuat Indi geli sendiri. Selain itu, Indi tahu pasti ini cara suaminya untuk memperbaiki moodnya. Namun, pandangan Indi teralihkan ke jari tangan suaminya yang mengenakan plester berwarna cokelat.
"Mas, jari kamu?" tanya Indi dengan panik.
"Iya, kena pisau tadi. Cuci muka dan gosok gigi dulu yuk, aku udah buatkan sarapan," kata Satria.
Indi menatap Satria lagi. Tidak mengira bahwa Satria membuatkannya sarapan dan juga rela sampai jarinya terluka. "Kenapa repot-repot. Padahal, gak perlu membuat sarapan sampai melukai dirimu sendiri," kata Indi.
"Sakitnya teriris pisau tak seberapa, Sayang. Lebih sakit kamu karena ucapan yang tidak enak kemarin. Maaf yah, sekarang cuci muka dulu. Aku suapin abis ini."
Satria menyingkap selimut tebal yang masih dikenakan Indi. Setelahnya, dia merapikan tempat tidur. Menata kembali bantal, menariki selimut supaya rapi, dan membuka tirau jendela. Selain itu, AC di dalam kamar Satria matikan, dia memilih membuka kedua jendela di dalam kamarnya, membiarkan angin untuk masuk.
Hanya kurang lebih lima menit, Indi keluar dari kamar mandi. Dia berjalan sembari memegangi pinggangnya. "Sakit pinggang lagi?" tanya Satria.
"Kencang aja, Mas. Babiesnya abis nendang-nendang," balas Indi.
Satria berdiri, dia kemudian membantu Indi duduk di sofa yang berada dekat dengan jendela. Merasakan terpaan angin pagi itu dan cahaya matahari pagi. Di meja kecil di depannya sudah ada nampan berisikan sepiring Nasi goreng dan teh hangat.
Akhirnya pria itu mengambil sendok dan mengisinya dengan nasi goreng dan sedikit telor, dia menyuapi Indi dengan telaten.
"Kamu enggak sarapan, Mas?" tanya Indi.
"Kamu dulu aja, Sayang."
Indi menggelengkan kepalanya. Dia maunya suaminya turut sarapan dengannya. Oleh karena itu, Indi kemudian menyuapi suaminya itu. Berbagi satu piring, bahkan satu sendok. Sebab, Indi juga tidak mau kalau hanya dilayani saja. Justru dia merasa tidak enak hati tiap kali suaminya itu melayaninya.
"Maaf yah," kata Satria kemudian.
__ADS_1
"Iya, aku udah gak apa-apa kok, Mas. Maaf juga kemarin aku yang sebel. Habis mendapatkan body shaming dari orang yang gak aku kenal itu sebel banget. Wanita hamil dibully, nanti bayinya lahir dibully juga yang kulitnya item lah, hidungnya pesek lah, rambutnya sedikit lah. Jangan seperti itu. Bayi itu anugerah, dia ciptaan Allah yang indah dan mulai, jangan dilakukan body shaming seperti itu. Cakep dan tidak itu relatif, tapi jangan dibully. Kasihan," kata Indi sekarang.
"Biasanya memang begitu, Yang. Ya, kita yang lebih bijak menyingkapi. Biarkan dunia menilai anak-anak kita bagaimana. Yang penting untuk kita berdua, anak-anak kita berharga. Jangan hanya mengejar paras yang tampan. Ajarkan agama, nilai, dan hal-hal yang baik. Kita lakukan itu bersama-sama yah?"
Indi kemudian menganggukkan kepalanya."Iya, Mas. Jangan hidup dengan penilai orang. Hidup dengan penilaian dan keyakinan bahwa kita hamba Allah yang berharga, memiliki derajat yang mulia dibandingkan ciptaan yang lainnya."
"Bijaknya istriku. Yuk, dimakan. Aku senang, suasana hatimu sudah lebih baik," balas Satria.
Usai itu Indi menganggukkan kepalanya perlahan. Kemarin dia memang merasa kesal, tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia bisa berdamai dan memperbaiki moodnya.
"Mas, maaf ... kayaknya aku gak minum dulu Tehnya deh," kata Indi.
"Hm, kenapa emangnya? Biasanya kamu suka minum Teh di pagi hari," balas Satria.
"Aku semalam belum minum obat. Jadi, aku mau minum obat dulu setelah sarapan," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Sekarang dia tahu alasan kenapa Indi tidak meminum teh terlebih dahulu. Syukurlah Indi ingat. Sebab, Satria sendiri juga baru hendak mengingatkan Indi untuk meminum obatnya terlebih dahulu.
"Iya, nanti aku ambilkan air putih. Bulan depan udah tujuh bulanan. Udah tinggal menghitung pekan dan rumah kita akan semakin ramai dengan baby boy," kata Satria.
"Kalau usai upacara tujuh bulanan, kita belanja untuk Babies ya, Mas. Mungkin juga setelah itu aku resign bekerja deh Mas. Aku desainer di rumah aja. Kelihatannya aku mau menikmati masa menjadi New Mom dulu. Bagaimana boleh enggak?" tanya Indi.
"Boleh-boleh saja. Kan aku sudah bilang sejak awal jangan merasa terbebani. Aku siap mendukung kamu. Apa pun itu," kata Satria.
"Makasih sudah selalu mensupport Papa Satria," balas Indi.
"Kamu desain dari rumah, datang ke kantor kalau ada meeting atau konsultan aja juga gak apa-apa. Senyamannya kamu saja. Kan kalau ke kantor sebentar, Babiesnya bisa nitip sebentar ke Bunda. Diajak ke kantor juga gak apa-apa, ada Eyang Pandu," balas Satria.
__ADS_1
"Eyangnya diminta momong yah?"
Indi dan Satria sama-sama tertawa. Memanfaatkan orang tua yang kini berada dekat untuk dititipin cucu. Agaknya itu lucu dan Indi tertarik mencobanya.