
Untuk pengalaman kedua ini, Indi sudah tidak menangis. Dulu, kala selaputnya terkoyak rasanya sangat-sangat sakit. Walau sekarang masih terasa tidak nyaman, tapi Indi bisa berkenalan dengan rasa itu.
Satu jam usai pergulatan panjang mereka. Keduanya sudah sama-sama mandi, Satria yang memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai dan juga menata kembali sprei di ranjang. Sementara Indi sedang turun ke dapur dan mengambil minuman untuk mereka berdua.
Kembali ke kamar, Indi membawa dua gelas es cokelat. Rasanya sangat haus, sehingga inginnya bisa minum es yang dingin dan segar. Wanita itu kaget, karena kamar mereka sudah kembali bersih.
"Kamu yang bersihin, Mas?" tanya Indi.
"Iya, kalau bersih kan nanti kalau mau lagi tinggal langsung," balas Satria dengan tersenyum nakal kepada Indi.
"Kok kamu nakal sih, Mas? Sejak kapan coba?" tanya Indi.
"Sejak kali pertama merasakannya. Kan udah jadi pria sejati, Sayang. Nakalnya cuma sama kamu kok," balas Satria.
Indi geleng-geleng kepala mendengarkan suara suaminya itu. Apakah pernikahan dan pengalaman malam pertama memang mengubah seorang pria? Sebab, setahunya Satria dulu sangat pendiam, karakternya bahkan hampir seperti Ayah Pandu.
"Padahal sebelumnya kamu kalem loh, Mas ... nyaris mirip seperti Ayah. Kok tiba-tiba bisa nakal gini sih?" tanya Indi.
Yang Indi katakan bukan tanpa sebab, tapi dalam tiga tahun belakangan dia sangat mengenal Satria. Pria santun dan sangat sopan.
"Ya kan, kalau sudah menikah beda, Sayang. Ada hal-hal yang hanya bisa aku tunjukkan kepada kamu, salah satunya yah itu. Yang lain masih sama kok," balas Satria.
Indi menganggukkan kepalanya, mungkin memang ini yang namanya berumahtangga. Ada beberapa hal yang memang hanya bisa ditunjukkan kepada pasangannya saja. Salah satunya adalah kebiasaan ranjang. Walau belum terbiasa, tapi Indi akan berusaha untuk beradaptasi dengan suaminya.
"Minum dulu, Mas," kata Indi dengan menyerahkan segelas es cokelat kepada suaminya.
"Makasih, Sayang," balas Satria.
Meminum es cokelat itu, kemudian Satria melirik lagi ke Indi yang duduk di sampingnya. Tangan pria itu sudah dengan sendirinya mengusapi rambut panjang Indi. Kalau ditanya bagaimana perasaan Satria sekarang tentunya adalah bahagia.
"Kalau aku terburu-buru menunjukkan diriku yang sebenarnya, aku minta maaf yah, Sayang. Aku tahu itu membuatmu menjadi tidak nyaman. Namun, aku hanya ingin menunjukkan inilah Satria, reaksiku yang benar-benar gila jika bersamamu. Maaf yah," katanya.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku tidak mempermasalahkan, mungkin aku saja yang belum terbiasa," balas Indi.
__ADS_1
Satria menganggukkan kepalanya. Mungkin memang masih perlu waktu. Kadang pernikahan begitu ada satu pihak yang menggebu-gebu, tapi pihak yang lain masih belum terbiasa. Oleh karena itu, Satria yang akan lebih pelan-pelan.
"Bagaimana rasanya tadi, Sayang? Sakit enggak?" tanyanya.
"Hm, rasa apa?" tanya Indi bingung.
"Itu ... kali kedua? Apakah masih sakit?"
Satria bertanya itu dengan menunjuk ranjang. Barulah Indi tahu apa yang dimaksud oleh suaminya. Akhirnya Indi menggelengkan kepalanya.
"Sudah enggak, tapi masih aneh, dan ada sedikit yang mengganjal," balas Indi.
"Oh, syukurlah. Harus banyak latihan, Sayang. Biar kamu terbiasa."
Indi memggeleng, masak iya harus latihan lebih sering supaya terbiasa. Namun, Indi sebenarnya sangat malu.
"Gak mau malu," balas Indi.
"Kenapa malu, kan aku udah lihat semuanya. Cantik banget kamu, Sayang," kata Satria dengan jujur.
"Kayak minum obat mungkin, sehari tiga kali," balas Satria dengan tertawa. 😅
Bukan sekadar tertawa. Satria justru sudah membayangkan bagaimana jika benar-benar sehari tiga kali. Wah, agaknya dia benar-benar akan menjadi pria perkasa. Namun, Satria segera membuang pikirannya itu karena takut kalau Indi kecapekan jadinya.
"Ah, Mas ...."
Indi merespons dengan memukuli lengan suaminya itu. Bisa-bisanya suaminya itu bercanda dan juga mengatakan sehari tiga kali. Tubuhnya pasti akan benar-benar remuk redam.
"Bercanda, Sayang ... cuma kayaknya awal-awal ini, aku bakalan lebih semangat, Sayang. Maklum pengantin baru, tapi kalau kamu keberatan ya aku tidak akan melakukannya. Kenyamanan kamu nomor satu untukku," balas Satria.
Indi mencoba memahami suaminya. Namun, setidaknya Indi masih bersyukur karena Satria tetap memikirkan dirinya. Dipikirkan oleh suami sendiri rasanya memang berbeda.
"Ya sudah, intinya begitu yah, Sayang. Bukan sekadar napsu, kan hubungan suami istri penting juga dalam rumah tangga. Yang mempermanis dan membuat kian harmonis," kata Satria lagi.
__ADS_1
"Baiklah, aku berusaha membiasakan diri," kata Indi.
"Makasih banyak yah. Kamu kasih malu sama aku?" tanya Satria.
"Iya, malu banget."
"Gak usah malu. Kalau sama aku, gak usah ditahan. Nikmati saja. Bersuara gak apa-apa. Jadilah dirimu sendiri," kata Satria.
"Maaf, juga untuk reaksiku tadi yah, Mas," kata Indi.
"Gak perlu minta maaf, aku suka kok. Suka banget malahan. Jangan ditahan-tahan, tunjukkan semua ke aku. Kamu cantik dan seksi banget malahan."
Ah, pintarnya Satria. Indi sampai menahan senyuman, benar-benar malu mendengar pujian dari suaminya.
"Kalau semangat begituan dan segera punya baby, kamu gak keberatan, Mas?" tanya Indi.
"Enggak, aku justru ingin segera punya baby. Enggak usah menunda, Sayang. Biarkan semua terjadi secara alamiah aja," balas Satria.
"Baik, Mas. Kalau aku hamil dan kita punya anak, mungkinkah Rama akan memberi restu yah, Mas?" tanya Indi.
"Aku pun tidak tahu, Sayang. Semoga saja yang baik-baik yang terjadi. Kita berdoa dan mengharap yang baik, semoga hasilnya juga baik."
Usai itu Satria memeluk Indi. Banyak sharing seperti ini membuat Satria lega. Setidaknya memang harus banyak berharap yang baik, kiranya Allah juga akan mengabulkannya.
"Besok sudah harus mengantar kamu bekerja, dan aku juga bekerja. Kita bertemu sore hari, pasti kangen."
"Soalnya masih pengantin baru?" tanya Indi.
Satria pun tertawa. "Enggaklah, karena aku cinta kamu. Jadinya kangen terus. Pengennya ketemu terus dan enggak pisah. Namun, kalau tidak bekerja, ya aku tidak bisa menafkahi kamu. Aku didemo ibu-ibu pendukungnya Ayah Pandu nanti."
Indi mengernyitkan keningnya, "Kok pendukungnya Ayah Pandu?"
"Iya, aku denger cerita dari Bunda Ervita, Ayah Pandu idaman banget. Sering dipuji pedagang batik di Pasar Beringharjo dan stafnya. Suamiable katanya. Kalau aku ogah-ogahan, wah aku bisa didemo, kok menantunya Ayah Pandu enggak banget," cerita Satria.
__ADS_1
Indi tertawa. Bisa-bisanya suaminya berkata demikian. Namun, memang Ayah Pandu adalah suamiable. Suami yang setia, penuh cinta, dan tanggung jawab. Ayahable juga karena Ayah Pandu tak pernah membedakan Indi dan Irene. Keduanya disayang dengan kasih sayang yang sama besarnya. Anak sambung disayangi seperti anak kandung. Oleh karena itu, kasih sayang dan rasa hormat Indi untuk Ayah Pandu sangat besar.