Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Menunggu dalam Kecemasan


__ADS_3

Di dalam kamar perawatan Indi, Satria menunggu dengan cemas. Wajah cantik istrinya terdapat luka lebam dan bekas darah di kening dan pelipis. Selain itu, ada lebam di tangannya. Sementara satu kaki Indi juga bengkak. Walau sudah dilakukan rontgen, tetap saja hasilnya baru akan bisa dibacakan beberapa jam lagi, maksimal esok pagi.


"Kenapa bisa seperti ini, Sayang?"


Satria berbicara begitu lirih, dengan tangannya yang menyentuh tangan Indi yang tidak dipasangi infus. Banyak yang Satria sesalkan, tapi di satu sisi memang Satria mengakui bahwa apa yang dilakukan Indi ada benarnya. Seseorang yang rela mengorbankan keselamatannya sendiri, untuk orang lain. Rela berkorban yang Indi tunjukkan sudah menyadarkan Rama Bima sekarang.


"Baru kemarin aku berbicara bahwa rumah tangga kita tidak hanya banyak manisnya, Sayang. Sekarang, giliran kamu sakit seperti ini. Pengantin baru biasanya menikmati manisnya membina biduk rumah tangga, kita berdua sudah harus jatuh bangun, Sayang. Maafkan aku ...."


Dada Satria terasa begitu sesak rasanya. Hasrat hati ingin terus membahagiakan Indi, melindungi Indi. Namun, dalam pernikahan yang masih bisa dihitung dengan jari itu, justru Indi dan Satria harus jatuh bangun berkali-kali.


"Doaku, tidak ada masalah yang serius, Sayang. Selain itu, hari-hari pernikahan kita ke depan akan penuh dengan rona warna pelangi."


Entah berapa lama waktu berlalu, Satria tidak pernah melepaskan tangan Indi yang dia genggam. Selalu dan selalu menggenggam tangan itu. Hingga sekarang, Satria sedikit mengantuk jadinya. Pria itu menundukkan kepalanya di tepi brankar.


Mungkin lelah dan banyak pikiran, Satria sampai tidak tahu kalau Indi sudah sadar. Reaksi obat yang diberikan sudah hilang, dan Indi perlahan mengerjap. Wanita itu juga bingung ketika bangun mencium bau obat dan bau khas Rumah Sakit. Kala hendak bergerak, tangannya terasa sakit. Hingga Indi benar-benar membuka kedua kelopak matanya, dan dia menatap langit-langit putih yang ada di atasnya. Sedikit menengok ke sebelah kiri, rupanya ada Satria yang duduk di kursi dengan kening yang ditundukkan di sisi brankar.


Melihat sang suami yang sudah berada di sisinya, Indi tersenyum perlahan. Tangannya yang tidak diinfus kemudian menyentuh perlahan helai demi helai rambut suaminya. Hingga, gerakan tangan Indi itu membuat Satria terbangun.


"Sayang," sapa Satria. Pria itu mengangkat kepalanya, dan mengusapi wajahnya perlahan. Usai itu, Satria melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah jam tujuh malam," kata Satria lagi.

__ADS_1


Ya, tidak terasa sekarang jam tujuh malam. Padahal Satria tiba di Rumah Sakit tadi hari masih terang, baru akan menjelang sore. Usai itu, tangan Satria membelai perlahan sisi wajah Indi.


"Kamu bikin aku jantungan," kata Satria dengan menghela napas, kedua matanya berkaca-kaca dengan nyaris saja air matanya jatuh.


"Aku tidak apa-apa kok," balas Indi.


"Lebam dan luka di mana-mana kok," balas Satria.


Indi tersenyum perlahan. "Akan tetapi, Rama selamat ..., mana mungkin aku membiarkan Rama kamu, mertuaku sendiri tertimpa semua panel kayu?"


Kebaikan Indi seperti ini yang seharusnya dilihat oleh Ramanya. Sehingga, tidak memberikan penilaian hanya berdasarkan satu pihak. Mereka yang dibesarkan orang tuanya dengan baik, diberi bekal pendidikan, agama, dan nilai-nilai juga hasilnya akan menjadi pribadi yang baik. Yang tak berdarah biru pun, bisa tahu sopan santun dan adab yang benar jika memang sudah dididik dengan kecil.


"Kamu ini terlalu baik, Sayang ...."


"Kan beda ... Ramaku kan tidak suka dengan kamu, Sayang," balas Satria.


"Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan, Mas. Apa bedanya aku dengan orang di luar sana kalau aku membalas kejahatan dengan kejahatan. Saling membalas, yang ada memunculkan dendam dan sakit hati yang berkepanjangan," kata Indi.


Sekarang, Satria benar-benar menitikkan air matanya. Dia menjatuhkan pilihan kepada wanita yang tepat. Bukan hanya cantik dan pintar, tapi Indi memiliki hati yang baik dan tidak menyimpan dendam. Oleh karena itulah, Satria yakin bahwa keputusannya tepat, menikahi Indi adalah keputusan yang Satria nilai sangat tepat.


"Kamu baik banget ... andai Rama mendengar semua ini," kata Satria lagi.

__ADS_1


Tanpa Satria ketahui di balik pintu ada sosok paruh baya yang menitikkan air matanya. Perkataan Indi yang sayup-sayup dia dengar telah meruntuhkan segala ego dalam hatinya. Pria paruh baya itu nyaris menjatuhkan bubur yang dia beli, tapi untung saja kantong plastik berwarna putih itu masih berada di genggamannya.


Siapa dia?


Tepat sekali, dia adalah Rama Bima. Jujur, Rama Bima tidak tenang dan kepikiran dengan Indi. Terlebih sudah beberapa jam dan belum ada kabar dari Satria. Oleh karena itu, Rama Bima memutuskan untuk datang ke Rumah Sakit lagi. Dia membawakan bubur untuk Indi, pikirnya dengan keadaan yang luka, lebih baik memakan bubur yang lebih mudah dicerna. Ketika hendak mengetuk pintu, dia mendengar perbincangan Satria dan istrinya itu.


"Aku sudah menyia-nyiakan mutiara. Untuk seseorang gadis yang pernah kutolak dan kusakiti, bahkan kepadanya restuku urung turun. Akan tetapi, justru dialah yang mau berkorban untukmu. Dia mengabaikan keselamatannya sendiri dan menolongku. Maafkan Rama ... Indi."


Dada sang Rama terasa sesak. Dia menetralkan napasnya dan menenangkan diri terlebih dahulu. Usai itu, barulah sang Rama mulai mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok ...


Tidak berselang lama, Satria pun membukakan pintu. Dia bingung kenapa Ramanya kembali datang ke Rumah Sakit. Sebab, tadi Satria sudah mengatakan akan memberikan kabar kalau Indi sudah siuman.


"Rama ...."


"Iya, Rama mencemaskan keadaan Indi. Rama bawakan bubur untuk Indi," katanya.


Satria pun akhirnya mempersilakan Ramanya untuk masuk. Berharap Indi tidak terusik dan bisa menerima kedatangan Ramanya.


"Siapa Mas?" tanya Indi.

__ADS_1


Rupanya, Satria masuk dengan Ramanya. Tentu saja Indi begitu kaget. Bahkan Indi menerka yang tidak-tidak, walau begitu Indi masih berusaha untuk tenang. Berusaha untuk berpikir positif dan tidak menunjukkan kekagetannya secara berlebihan.


__ADS_2