Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Nakula dan Sadewa


__ADS_3

Perjuangan penuh air mata bisa dikatakan usai ketika sekarang dua suara bayi bersahut-sahutan. Satu bayi lahir saja suara tangisannya begitu kencang. Sementara sekarang ada dua bayi dengan jenis kelamin laki-laki yang suara tangisannya bersahut-sahutan.


Sedangkan Indi dan Satria sama-sama menangis. Benar-benar tidak mengira selama sembilan bulan mereka hanya melakukan sounding dengan mengusapi perut yang membesar setiap bulannya. Kini, dua bayi yang sebelumnya menghuni rahim sudah dilahirkan. Dua bayi laki-laki, tubuhnya masih basah lantaran air ketuban yang menyelimuti dirinya, dan juga sedikit darah di hidungnya. Dua paras yang membuat hati Indi dan Satria jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Kedua putra kita ... Nakula dan Sadewa," kata Satria dengan berlinang air mata.


Yang terlintas di pikiran Satria saat menyiapkan nama untuk kedua putranya memang adalah Nakula dan Sadewa. Dua saudara kembar, putra Pandu, dan bagian dari Pandawa ini namanya mencuri perhatian Satria. Dalam epos Mahabarata, Nakula dikenal sebagai sosok yang pandai menghibur hati, teliti dalam bertugas, dan mahir memainkan pedang. Sementara Sadewa adalah sosok yang pintar, dia ahli dalam ilmu astronomi, strategi perang, dan bisa membaca masa depan. Dari kedua tokoh ini, Satria mengharapkan kedua putranya berwatak ksatria, menghormati orang tua, dan berlaku jujur sepanjang hidupnya.


"Si kembar Nakula dan Sadewa," balas Indi.


"Iya, Sayangku. Dalam Pewayangan Jawa kedua nama itu terbersit ketika aku memikirkan nama untuk kedua putra kita."


Setelah bayi Nakula dan Sadewa dibersihkan, kemudian keduanya kini sama-sama letakkan dalam posisi tengkurap di dada Indi. Kedua bayi itu sekaligus melakukan Inisiasi Menyusui Dini. Indi lagi-lagi menangis merasakan kulit yang lembut, dan tubuh putranya.


"Melakukan IMD dulu selama satu jam yah, Mom," kata Dokter Arsy.


Kedua bayi itu secara alamiah sedang berusaha menemukan sumber kehidupan mereka, makanan pertama mereka. Yang Indi rasakan adalah begitu terharu rasanya. Satria juga mengamati setiap pergerakan kecil kedua putranya yang seolah masih berlomba untuk menangis itu.


"Cari sumber kehidupan kamu sendiri dulu yah, Nak," kata Satria.


Indi yang mengangguk perlahan. Sementara air mata masih berlinang. Hatinya penuh dengan kebahagiaan dan penuh rasa haru. Buah hatinya dengan Satria kini benar-benar sudah melakukan skin to skin dengan kedua bayinya. Sementara di bawah sana Indi mulai dibersihkan dan dijahit untuk jalan lahir.


"Benangnya menggunakan gelatin ya, Mom ... jadi nanti tidak lagi ada acara lepas benang karena sudah akan menjadi jaringan kulit yang baru," kata Dokter Arsy.

__ADS_1


"Dijahit banyak, Dok?" tanya Indi.


"Diobras yah, Mom ...."


Ada tawa dari Dokter Arsy, sementara Satria justru meringis ngilu. Benar-benar tidak mengira sampai membuat milik istri sampai diobras. Itu berarti memang tadi melalui proses demi proses pembukaan sangat sakit hingga seperti itu.


"Sakit banget pasti yah ... aku janji akan jadi suami yang baik, gak akan macem-macem. Lihat kamu melahirkan dengan sekarang diobras bikin ngilu," kata Satria.


"Suami jangan selingkuh, Pak Satria ... diingat kembali bagaimana istri berjuang melahirkan buah hati. Bukan hanya berurai air mata, kadang para ibu meregang nyawa kala melahirkan anak-anaknya loh," kata Dokter Arsy.


Satria bergidik ngeri mendengarkan penjelasan dari Dokter Arsy. Dia juga belajar hal baru banyak melahirkan kehidupan yang baru, benar-benar perjuangan seorang wanita. Tidak hanya dengan darah dan air mata, tapi juga dengan nyawa. Syukurlah, Indi bisa melewati semuanya dengan baik. Selain itu, proses pembukaan pun terbilang singkat.


Usai itu, Satria mengalihkan pandangannya kepada kedua buah hatinya yang sekarang sudah menemukan sendiri sumber ASI dari istrinya. Satria tersenyum, hal yang dahsyat, itu artinya kedua bayinya sejak dia lahir juga belajar, ya belajar untuk menemukan sumber ASI dan menghisapnya. Hingga keduanya berangsur-angsur tidak lagi menangis.


"Iya, menemukan sumber makanannya sendiri. Walau kembar, wajahnya berbeda yah, Mas?" tanya Indi.


Menurut pandangan Indi sendiri memang kedua putranya itu wajahnya berbeda. Biasanya jikalau kembar identik akan memiliki wajah yang mirip sekali, bahkan bisa dikatakan mirip. Akan tetapi, kedua putranya tidak begitu mirip.


"Lucu yah ... kembar, tapi tidak mirip," balas Satria.


Proses inisiasi menyusui dini itu terus berlangsung hingga satu jam. Sekaligus plasenta juga sudah dikeluarkan, juga menjahit bagian jalan lahir. Setelah itu, Nakula dan Sadewa diambil oleh Dokter Arsy, keduanya diberikan suntikan Vitamin K dan Hepatitis B. Sehingga, kala disuntik keduanya sama-sama menangis. Terdengar lagi suara tangisan yang sahut-sahutan di ruang bersalin itu.


Bunda Ervita dan Ayah Pandu yang menunggu di luar bisa mendengarkan tangisan dua bayi yang sahut-menyahut itu. Hingga Bunda Ervita berbicara kepada Ayah Pandu.

__ADS_1


"Apa itu putranya Indi dan Satria ya, Yah?"


"Mungkin saja, Nda. Jika benar, tangisan pertama bayi itu resmi membuat kita menjadi Eyang," kata Ayah Pandu.


"Siapa sangka, usiaku baru 45an tahun, dan aku sudah menjadi Eyang," kata Bunda Ervita sekarang.


Ayah Pandu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Eyangnya masih muda ... masih cantik."


Tidak berselang lama, datang juga Rama Bima dan Ibu Galuh dari Solo. Tadi ketika dikabari bahwa Indi sudah dibawa ke Rumah Sakit karena tanda-tanda bersalin sudah datang, keduanya segera berangkat dari Solo. Sekarang, barulah keduanya tiba ke Jogjakarta.


"Pripun, Bu ... menapa sampun lahiran?" tanya Bu Galuh yang berarti, 'Bagaimana, Bu ... apakah sudah lahiran?'.


"Sudah, Bu Galuh ... itu tangisan bayi yang kencang sekali itu kelihatannya anaknya Indi dan Satria," kata Bunda Ervita.


"Duh, Eyangnya dari Solo terlambat. Tidak bisa menemani. Maaf Pak Pandu dan Bu Ervi, tadi ada urusan di pabrik dulu dan jalanan macet," kata Rama Bima.


"Tidak apa-apa, Pak Bima. Yang pasti Satrianya sudah siap siaga. Allah juga memberikan kelancaran," jawab Ayah Pandu.


"Kok malahan aku yang merinding mendengar tangisan bayi sekencang itu," kata Bu Galuh sekarang dengan mengusapi tangannya.


Bunda Ervita dan Ayah Pandu tersenyum. Itu sebenarnya sudah mereka rasakan sejak tadi kali pertama mendengar tangisan bayi yang bersahut-sahutan. Bahkan Bunda Ervita dan Ayah Pandu sampai menitikkan air matanya. Tandanya perjuangan Indi sudah sempurna dengan lahirnya kedua bayinya.


Kembali ke dalam ruangan bersalin, kedua bayi kembar itu akan ditaruh di inkubator selama enam jam usai persalinan. Selain itu, Indi yang sudah dibersihkan akan dipindahkan ke ruangan rawat inap. Walau demikian, Indi tidak tidur dulu. Sebisa mungkin satu hingga dua jam pertama tidak boleh tertidur. Walau begitu, jika pasien ingin makan dan minum akan diperbolehkan. Sebab, persalinannya adalah persalinan normal, sehingga diperbolehkan untuk makan dan minum.

__ADS_1


Satria akan berusaha menahan supaya istrinya itu tak tertidur. Berharap beberapa jam pertama pasca bersalin tidak ada hal yang serius, dan nanti Si Kembar akan diantar ke kamar perawatan Indi juga. Bisa berkumpul bersama.


__ADS_2