Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Grebeg Malam Suro


__ADS_3

Sore harinya, kebetulan saat Indi dan Satria di Solo bertepatan dengan Malam Satu Suro atau Malam pergantian tahun baru Muharam. Sementara keluarga Satria masih memiliki trah Ningrat, sehingga mereka mendapatkan undangan untuk mengikuti Grebeg Mangayubagyo Warsa Anyar atau Kirab Tahun Baru 1 Muharam yang digelar setiap tahunnya di Keraton Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran.


Tentu ini hal yang baru untuk Indi, karena baru sekarang dia mengetahui ada tradisi seperti ini di Solo. Satria tidak ikut, tapi Rama Bima dan Bu Galuh kali ini hadir di Mangayubagyo Warsa Anyar.


"Ini dilakukan setiap tahun ya, Rama?" tanya Indi.


"Iya, Mbak Indi. Setiap tahun di malam tahun baru Islam atau 1 Muharam. Apa di Jogja tidak ada?" tanya Rama Bima.


"Kalau di Jogja ada juga sih, Rama. Namanya Lampah Budaya Mubeng Benteng," balas Indi.


Lampah Budaya Mubeng Beteng merupakan bentuk refleksi atau penyucian diri di akhir tahun supaya kita sebagai manusia menjadi sosok yang lebih baik di tahun yang baru. Di dalam acara ini dilakukan oleh Abdi Dalem dan juga masyarakat. Mereka tidak diwajibkan mengenakan Pakaian Jawa, hanya harus berpakaian sopan dan tidak boleh mengenakan celana pendek.


"Di Solo beda Mbak Indi. Kalau di Solo, para abdi dalem hingga undangan wajib mengenakan pakaian tradisional khas Jawa. Pria mengenakan Beskap dan Putri mengenakan kebaya. Warnanya hitam. Khusus di Keraton Surakarta nanti kirabnya diikuti oleh Kerbau Bule (Ada hewan kerbau yang tidak berkulit hitam, melainkan putih atau cokelat, sehingga disebut Kebo Bule) dan kirab Pusaka. Semua yang mengikuti kirab tidak boleh berbicara dan berjalan tanpa mengenakan alas kaki," jelas Rama Bima.


Tentu ini tradisi baru untuk Indi. Dia baru tahu. Walau Bundanya kelahiran Solo, tapi ketika keluarga Ningrat yang menjelaskan itu lebih detail. Ada nilai budaya yang terus dipertahankan sejak Kesultanan Mataram hingga sekarang.



Biasanya Kerbau Bule akan berada di barisan terdepan, lantas diikuti oleh keluarga Keraton, Abdi Dalem, dan tamu-tamu lainnya. Untuk penonton yang menonton juga diminta tidak berisik, menghormati kirab budaya, dan tidak boleh memotret kerbau dengan flash.


"Jadi nanti Rama dan Ibu, berjalan kaki?" tanya Indi.


"Iya, tanpa alas kaki. Ini bukan sekadar tradisi Mbak Indi, tapi seorang yang memulai tahun baru dengan melakukan hal yang baik, apa yang bisa dilakukan, dan dekat dengan Ilahi. Wulan suro iku wulan akeh kabejikan lan prihatin. Lakokono opo sing kudu mbok lakoni, ojo sepisan-sepisan gersulo marang Ilahi."


Rama Bima menjelaskan semua itu kepada menantunya. Sementara Indi menganggukkan kepalanya beberapa kali. Mengingat kentalnya nilai tradisi dan penjelasan dari Rama, sangat wajar jika keluarga Ningrat memang berbeda dengan rakyat biasa. Mungkin karena itu juga dulu pernikahan Satria dan Indi pernah ditentang. Memang ada perbedaan yang tidak diketahui oleh dua keluarga dalam strata ini.

__ADS_1


"Lain kali kalau Nakula dan Sadewa sudah besar, ikut Mbak Indi. Biar tahu rasanya, memiliki pengalaman," kata Bu Galuh.


"Nggih, Bu ... lain kali. Mas Satria pernah ikut?" tanya Indi sekarang.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Dulu pernah ikut waktu SMA, Sayang. Menemani Rama. Ya, harus mengenakan Beskap, Blangkon (penutup kepala), kain jarik, dan sesudah di sana dipakaikan kalung dari reroncean Melati," jawab Satria.


"Maknanya apa?" tanya Indi.


Rama Bima tersenyum karena menantunya itu banyak bertanya. Jika menantunya banyak bertanya, sekaligus menjadi ajang untuk menjelaskan tradisi dan budaya itu kepada Indi.


"Ya, pakaian seperti ini kan pakaian kita sebenarnya sebelum kolonialisme dan modernisasi datang. Kembali ke dasarnya. Jawa yang sesungguhnya ya seperti ini, berdasarkan tradisi dari Mataram. Anggap saja melestarikan tradisi Mbak Indi. Akan tetapi, hati tetap menyembah ke Allah SWT saja. Memulai tahun baru dengan segala kebaikan dari Allah, melakukan hal yang baik, bermanfaat untuk sesama, dan selalu pasrah ke Gusti."


Sekarang Indi tahu, belajar hal baru dari keluarga suaminya. Justru menyenangkan, dia yang dari rakyat biasa jadi bisa belajar sejarah Mataram juga.


Mendengarkan ucapan Bu Galuh membuat Indi menganggukkan kepalanya dan tertawa geli terbayang bagaimana masyarakat zaman dulu yang masih percaya dengan takhayul atau mitos. Indi pribadi setuju dengan apa yang diucapkan Bu Galuh, kalau ada garis takdir yang sudah Allah gariskan dan tentukan.


"Ya sudah, Hati-hati di rumah yah. Rama dan Ibu berangkat dulu," pamit Rama Bima.


Indi menganggukkan kepalanya. Dia dan Satria berada di rumah sekarang. Sementara Sitha sedang bertemu dengan temannya.


"Banyak penjelasannya ya, Yang? Tadi yang Rama Bima sampaikan," kata Satria.


"Enggak apa-apa, Mas. Aku justru belajar hal baru. Tradisi itu ya begitu, keluarga Mas kan Ningrat yah, jadi tahu banget hingga ke seluk-beluknya. Aku seneng dengarnya," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Adalah hal baik ketika istrinya itu mau belajar. Justru menunjukkan Indi yang terbuka dan mau belajar.

__ADS_1


"Mas, dulu kamu kalau memakai Beskap dan Kain Jarik gitu cakep dong?" tanya Indi.


"Ya, biasa aja, Yang. Cakep atau enggak kan relatif. Lha dulu, cakep enggak kalau aku memakai Beskap kayak Rama tadi?" tanya Satria.


Indi terkekeh perlahan dengan melirik suaminya itu. "Ya, cakep sih. Cakep MasE," balas Indi.


"Kamu bisa saja, jangan gitu. Malu loh aku," balas Satria.


"Kalau pas kirab dan hujan bagaimana, Mas?" tanya Indi lagi.


"Ya tetap lanjut, Sayang. Mau hujan atau enggak tetap lanjut. Jangan sampai hujan menghalangi niat di hati. Yang basah hanya badannya, tapi bisa mencapai tujuan akhir itu makna terdalamnya," balas Satria.


"Oh, begitu yah. Oke deh ... makasih penjelasannya. Besok masih di Solo. Mau ke mana Mas?" tanya Indi.


"Kamu pengen ke mana? Aku siap nganterin Roro Ayu ini ke mana aja kok," balas Satria.


"Enggak tahu juga. Di rumah kamu ini saja sudah seneng. Lihat Sawah dari sini. Jarang kan kalau di rumah kamu di Jogja," balas Indi.


"Bukan rumahku. Di Jogja itu rumah kita ... aku, kamu, Nakula, dan Sadewa, serta adik-adiknya nanti. Semoga Allah nanti beri kita anugerah anak perempuan juga ya, Sayang. Biar ada yang secantik Mama," balas Satria.


"Aamiin ... biar Nakula dan Sadewa agak besar dulu ya, Mas," jawab Indi.


"Iya, gak usah keburu-buru. Kayak aku yang selalu sabar selama ini."


Indi tersenyum, memang Satria itu sangat sabar. Terkait traumanya dulu, Satria memilih masih sabar. Sementara Indi juga menunggu, semoga saja lambat-laun ada jalan, dan keduanya bisa membingkai indah kisah mereka.

__ADS_1


__ADS_2