Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Gosip Miring Lebih Cepat Menyebar


__ADS_3

Untuk beberapa saat Indi dan Satria berada di kediaman orang tuanya. Hingga akhirnya, Indi dan Satria memilih untuk pulang. Kebetulan esok hari bukan hari libur, jadi mereka berpamitan untuk pulang.


"Kami pulang dulu yah, Nda," pamit Indi kepada Bundanya.


"Enggak menginap di sini saja?" tanya Bunda Ervita.


"Besok Mas Satria bekerja, Nda. Kami juga tidak membawa baju ganti sama sekali. Besok pagi, Indi akan ke sini lagi."


Pikir Indi, sekarang pulang dulu dan esok pagi bisa kembali ke rumah orang tuanya, sekalian saat suaminya berangkat bekerja. Bunda Ervita akhirnya menganggukkan kepalanya. Esok dia juga berharap putri sulungnya itu akan benar-benar datang ke rumah.


Dalam perjalanan sesungguhnya Indi juga bertukar pikiran dengan suaminya terkait kabar miring yang menimpa adiknya. "Menurut Mas Satria bagaimana? Semoga sih tidak seperti yang dikatakan tetangga itu yah, Mas. Kasihan Ayah dan Bunda. Beliau tahunya kan Irene bekerja di Jakarta. Pasti shock juga," balas Indi.


"Ya, besok sih Irene ditelepon saja, Sayang. Ditanyain baik-baik dan harus sabar. Jangan langsung dituduh dan dihakimi. Kasihan juga Irene kalau tiba-tiba dituduh dengan pertanyaan yang bukan-bukan," kata Satria.


Kali ini Indi sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh suaminya. Terkadang karena terlanjur emosi dan terlalu memikirkan perkataan orang lain, sikap orang tua kepada anak juga bisa seperti menghakimi. Butuh ketenangan hati dan pikiran.


"Firasatku sih tidak mungkin Irene menjadi simpanan pria itu," kata Satria.


"Perasaan dan harapanku sih sama, Mas. Aku juga berpikir positif adikku tidak seperti itu. Cuma kadang orang tua dengan berbagai benang yang mungkin kusut dan menyumbat di dalam kepala, jadi bisa berpikiran yang tidak-tidak. Harapanku Ayah dan Bunda masih bisa tenang."


Begitu sampai di rumah, Satria menggendong Nakula dan Sadewa yang sudah tertidur. Dia membaringkan kedua putranya itu di dalam kamarnya, kemudian menyusul Indi ke dalam kamar. Satria sendiri juga tahu bahwa istrinya mungkin saja kepikiran dengan adiknya. Akan tetapi, Satria mengingatkan Indi juga.


"Jangan berpikir terlalu berat hingga akhirnya stress. Ingat, ada twins yang sekarang berada di rahim kamu, Sayang. Dia juga membutuhkan kesehatan Mamanya. Sehat fisik dan mental."

__ADS_1


Satria memperingatkan itu. Semoga saja kabar miring ini tidak membebani Indi dan tidak membuat Indi menjadi stress. Sebab, ibu hamil memang sebaiknya bisa mengelola stressnya. Stress berlebih bisa berdampak juga ke janin.


"Iya, Mas. Yah namanya Mbak ke Adiknya, tetap saja kepikiran. Semoga besok bisa menanyai Irene baik-baik. Terlebih Ayah dan Bunda bisa lebih tenang saja. Semoga," kata Indi.


Satria memahami benar hubungan dan ikatan Indi dan Irene. Walau demikian, Satria yakin bahwa adik iparnya akan bisa menjaga nama baik kedua orang tua. Kabar itu hanya sebatas gosip saja.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Paginya ....


Di kediaman Bunda Ervita, sebenarnya Bunda Ervita memiliki kebiasaan setiap pagi yaitu berbelanja sayur di area kompleks tempat tinggalnya. Sehingga memang Bunda Ervita jarang ke pasar sayur. Berbelanja di kompleks tempat tinggal saja sayuran sudah lengkap, ada ikan dan juga ayam.


Akan tetapi, pagi ini ketika Bunda Ervita sedang berbelanja sayur. Ada beberapa ibu yang berusaha berbisik-bisik, bahkan nyinyir mengenai Irene. Memang begitulah kabar burung. Hanya semalam saja omongan satu mulut ke mulut bisa menyebar di satu kompleks.


"Cantik, berpendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik gak menjamin akhlak seseorang yah ...."


"Jangan-jangan ke luar kota, hanya sebagai kedok. Jadi peliharaan pria tajir."


"Punya anak gadis harus digenggam baik-baik jangan sampai jadi peliharaan buaya."


Masih ada suara sumbang yang lainnya. Akan tetapi, Bunda Ervita memilih sabar dan menebalkan telinganya. Jika memang bukan nama Irene yang disebut, Bunda Ervita memilih diam. Toh, meladeni mulut ibu-ibu rasanya juga unfaedah. Walau di hati terasa sakit, tetapi Bunda Ervita memilih diam saja.


"Mas, minta ayamnya satu kilo yah. Tolong dipotongkan sekalian," kata Bunda Ervita kepada penjual sayur dan ayam di sana.

__ADS_1


Penjual sayur itu menganggukkan kepalanya dan melayani pesanan Bunda Ervita. Sementara, ada seorang tetangga yang menyahut dan bertanya-tanya kepada Bunda Ervita.


"Bu Pandu, di rumah hanya berdua aja kalau masak ayam sampai satu kilo yah. Apa yah semuanya habis dimakan?"


"Hari ini beli satu kilo karena cucu-cucu saya mau datang, Bu Tardjo," balas Bunda Ervita dengan sopan.


"Wah, iya yah. Cucunya kan dua. Aneh loh Bu Pandu, Mbak Indi kok bisa memiliki anak kembar. Padahal Mbak Indi kan adeknya cuma satu saja."


Biasa ibu-ibu kadang pembicaraannya ke sana dan ke mari. Hanya mencari upaya nyinyir dengan melewati jalan tikus. Bunda Ervita kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ada adiknya Ibu saya yang tinggal di Lampung, anaknya juga kembar. Jadi, memang ada genetiknya," balas Bunda Ervita.


"O ..., gitu yah Bu Pandu. Hati-hati, Bu. Sekarang baru zamannya cewek-cewek dipelihara pria."


Ucapan Bu Tedjo secara implisit mungkin mengacu kepada Irene. Bunda Ervita sangat yakin bahwa gosip atau kabar miring itu memang dengan begitu mudahnya menyebar. Namun, Bunda Ervita memilih tenang dan sabar. Tidak ingin tersulut emosi. Walau hati sakit, cukup dia menumpahkan semua luka dan lara kepada suami dan keluarganya saja.


"Menurut saya setiap orang lebih mawas diri saja Bu Tardjo. Apa yang menjadi perbincangan belum tentu benar. Dicari kebenarannya terlebih dahulu dari sumber yang terpercaya. Lebih menjaga hidup, menjaga hati, dan menjaga lidah kita," kata Bunda Ervita.


Bukan bermaksud ceramah, tapi dalam hidup bermasyarakat ada kalanya memang menjaga hidup, menjaga hati, dan menjaga lidah. Demi kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Selama ini Bunda Ervita sudah melakukannya dan akan terus melakukannya.


Sampai pada akhirnya, Bunda Ervita berpamitan kepada beberapa ibu di sana. Bunda Ervita berjalan dengan menjinjing kantong plastik berisi sayur dan belanjaannya. Dalam perjalanan pulang, Bunda Ervita hanya bisa bergumam dalam hatinya.


"Aku tahu, yang sedang dihebohkan sekarang adalah Irene, putriku. Ya Allah, sekiranya jagai Irene di Jakarta sana. Hamba dan suami hamba tidak bisa mengawasi Irene selama 24 jam. Akan tetapi, Engkau Maha Mengetahui. Jagai Irene untuk kami."

__ADS_1


Bunda Ervita hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Allah. Secara akal manusia memang Bunda Ervita dan Ayah Pandu tidak bisa menjagai Irene sepanjang waktu. Namun, Allah Maha Mengetahui, karena itu Bunda Ervita memasrahkan putrinya kepada Allah. Semoga saja semua ini hanya kabar burung belaka. Di Jakarta sana, Irene tetap bisa menjaga dirinya dan menjaga nama keluarga Hadinata.


__ADS_2