Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Berharap Tidak Ketahuan


__ADS_3

Menenangkan diri sejenak, dengan napas yang masih terengah-engah, Satria mulai berguling di sisi Indi. Pria itu mengambil tissue untuk membersihkan jejak-jejak percintaannya dengan sang istri. Ketika hasrat sudah tersalurkan, wajah Satria menjadi begitu cerah. Juga dengan mata Satria yang menjadi berbinar. Tidak ada lagi rasa kantuk, semuanya hilang, tergantikan dengan efek dophamine yang menyebarkan nektar cinta ke seluruh pembuluh darahnya, dari nadi ke arteri.


"Makasih banget, Sayang. Ku pikir tadi aku akan mengganggumu. Aku takut kalau membangunkanmu. Aku gelisah sendiri jadinya. Ternyata kamu justru memberikan sinyal positif, jadi aku enggak menunda-nunda lagi," kata Satria.


"Tumben sih, Mas. Gak biasanya Mas Satria pengen di jam-jam seperti ini?" tanya Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. "Dingin sepertinya, Yang. Jadi, pengen yang hangat-hangat. Maaf yah, sebisa mungkin gak lagi," kata Satria.


"Gak apa-apa. Kalau pengen ya bilang saja. Kan kita pasangan suami istri, sudah wajar juga. Penting sih Nakula dan Sadewa pas sudah tidur. Jadi, enggak mengganggu Nang-Nang," balas Indi.


"Beneran?"


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, beneran. Gak apa-apa kok. Justru senang kalau Mas Satria pengen dan jujur. Dari kita menikah, kalau aku tidak berhalangan atau kecapekan banget, pasti aku tidak menolak. Mas juga tahu itu," balas Indi.


"Makasih, Cintaku. Kamu baik banget, tahu banget bagaimana caranya membahagiakan suami," balas Satria.


Satria juga berbicara dengan jujur bahwa Indi begitu baik. Sosok istri yang tahu bagaimana caranya membahagiakan suami. Bahagia tak bertepi rasanya ketika memiliki istri seperti Indi.


"Kita mandi yah, Mas?" tanya Indi.


"Kalau sudah selesai, yah wajib mandi besar, Sayang. Dosa kan kalau enggak mandi. Kenapa?" tanya Satria sekarang.


"Dingin banget kayaknya," balas Indi.


"Di shower ada air hangatnya kok. Aku siapkan dulu yah. Harus mandi dong," balas Satria.

__ADS_1


Akhirnya, Satria menuju ke kamar mandi terlebih dahulu menyiapkan airnya supaya pas suhunya, tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Sembari Satria menggosok gigi dan mencuci wajahnya terlebih dahulu. Setelahnya, barulah Satria mengajak Indi menuju ke dalam kamar mandi. Di dalam shower box saja, keduanya berbagi tempat dan berdiri bersama di bawah guyuran air. Sesekali Satria mendekap tubuh istrinya dan mengecupi punggung hingga bahu istrinya itu. Rasanya geli sebenarnya, tapi Indi tahu bahwa itu adalah kebiasaan suaminya.


"Ayo, Mas. Kita jangan mandi lama-lama, gak enak ini di rumah Rama dan Ibu," kata Indi.


"Iya, Sayang. Padahal yah santai aja, mereka pasti memahami kan kita sudah dewasa, sudah menjadi pasangan suami istri juga," balasnya.


"Ya, benar, tapi berjaga-jaga kan lebih baik."


Akhirnya kurang dari lima belas menit, mereka sudah menyelesaikan mandinya. Indi mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Untung saja Indi membawa hair dryer kecil dari rumah, sehingga bisa dipakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah karena memang usai keramas.


"Wajah baru bangun tidur dan udah mandi kelihatan yah, Mas? Jam setengah lima pagi, udah mandi, udah seger. Semoga gak ketahuan Ibu," kata Indi kepada suaminya.


Ketika di rumah mertuanya, Indi memang bangun lebih pagi. Biasanya begitu bangun hanya sekadar gosok gigi dan cuci muka, Indi sudah turun ke dapur membantu Ibu mertuanya menyiapkan sarapan. Sekarang, Indi malahan sudah segar dan sudah mandi, malu kalau nanti Ibu mertuanya memergokinya sudah mandi keramas pagi hari. Bukan masalah apa, biasanya para orang tua mengidentifikasi bahwa wanita yang keramas di pagi hari biasanya usai berhubungan badan. Oleh karena itu, Indi merasa malu.


Dengan cekatan Satria membantu Indi untuk mengeringkan rambutnya. Tiga pria yang dimaksudkan Satria adalah dia sendiri, Nakula dan Sadewa. Ketiganya bergantung kepada Indi. Ketiga pria yang sama-sama tak menginginkan jika Indi sakit atau terjadi apa-apa kepada Indi.


"Padahal aku sendiri juga bergantung kepadamu," balas Indi.


"Bertanggunglah seumur hidupmu, Sayang. Aku siap menanggungnya," balas Satria.


Setelah rambutnya kering, Indi turun ke bawah. Sengaja Indi tak mengenakan make up apa pun. Hanya mengenakan krim pagi saja di wajahnya. Begitu turun ke bawah, Indi juga menyapa ibu mertuanya.


"Selamat pagi, Ibu," sapanya. Dalam hati Indi sudah berharap banyak supaya tidak ketahuan karena sudah mandi sepagi ini.


"Kok sudah bangun, Mbak?" tanya Bu Galuh.

__ADS_1


"Iya, Bu."


Sebenarnya Bu Galuh tahu karena pagi-pagi wajah Indi sudah segar. Walau rambutnya kering, tapi wajahnya terlihat segar. Namun, sebagai ibu, sebagai orang tua, Bu Galuh tersenyum saja dalam hati. Memahami bagaimana pasangan muda, toh dulu Bu Galuh juga pernah muda. Sehingga tahu lah, tidak perlu berbicara juga sudah tahu.


"Indi bantuin apa, Bu?" tanyanya.


"Bikin dadar telor yah, Mbak Indi. Kita sarapan Nasi Pecel, dengan Telor dadar mau kan?" tanya Bu Galuh.


"Mau, Bu. Apa pun yang dimasak Ibu, Indi mau kok," balasnya.


Bu Galuh tertawa kecil. Menantunya itu memang tidak pilih-pilih makanan. Memang sejak dulu, apa pun yang dimasak Bu Galuh, Indi juga memakannya dengan lahap.


"Makan pecel, banyak sayuran dan protein biar sehat yah Mbak Indi. Biar subur, sapa tahu nambah momongan nanti," kata Bu Galuh tiba-tiba.


Indi tersenyum malu dan menundukkan wajahnya. Apakah mungkin ibu mertuanya kalau dia sudah mandi pagi-pagi. Namun, Indi tak berbicara sama sekali.


"Coba di pagi hari tow Mbak Indi. Peluang terjadinya lebih besar. Ibu pernah baca kalau pagi hari jumlah sel pria lebih banyak dan pembuahan lebih efektif. Itu Ibu buktikan sendiri saat hamil Sitha dulu," kata Bu Galuh.


Apa yang disampaikan Bu Galuh benar adanya menurut penelitian memang di pagi hari jumlah sel pria jauh lebih banyak. Proses terjadinya pembuahan juga lebih efektif. Sel pria yang keluar pada pukul kurang dari 07.30 adalah sel dengan kualitas terbaik.


"Kalau pagi lebih repot, Ibu," balas Indi.


"Kapan-kapan dicoba. Bisa menaikkan mood booster dan bikin awet muda juga. Dicoba aja," balas Bu Galuh dengan menepuk bahu menantunya.


Indi lagi-lagi tersenyum. Padahal pagi ini saja sudah menggelora bersama Satria. Sudah hangat dan cenderung panas. Indi tersenyum sendiri bisa-bisa sel milik suaminya memang sedang efektif. Bisa memicu pembuahan. Kalau benar, bisa saja terjadi positif pada yang tidak lama lagi. Apa pun itu Indi sih tidak menargetkan apa pun. Apa saja yang Allah berikan akan Indi terima dengan tangan terbuka.

__ADS_1


__ADS_2