Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Walau Berlinang Air Mata


__ADS_3

Setidaknya ketika sudah diperbolehkan pulang ke rumah, Indi merasa lega. Suaminya tidak harus berjaga dan tidur di sofa. Jujur saja, Indi merasa kasihan ketika suaminya itu tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Mas Satria makan dulu. Sejak tadi Mas belum makan loh," kata Indi.


Jujur, Satria sebenarnya tiba-tiba kehilangan selera makannya. Terlebih ketika melihat luka-luka lebam di tubuh Indi. Tidak tega rasanya melihat istrinya terluka sampai seperti itu.


"Aku gak doyan makan, Sayang," kata Satria dengan jujur.


"Makan dong. Jangan sampai mengurus orang sakit justru membuat Mas Satria sendiri jatuh sakit. Kalau gak tega melihatku, Mas Satria makan di bawah saja. Di meja makan," kata Indi lagi.


Agaknya memang Indi tahu mungkin Satria tidak tega melihat kondisinya. Untuk itu, Indi tak tersinggung. Dia mempersilakan suaminya untuk makan di luar terlebih dahulu.


Akhirnya, Satria menganggukkan kepalanya. Dia pamit turun sebentar untuk makan. Ya, pria itu turun ke dapur dan duduk sendiri di meja makan. Sebenarnya makanan yang dia makan pun rasnya tiba-tiba menjadi hambar. Akan tetapi, Satria harus makan supaya dia bisa merawat Indi. Yang dikatakan Indi benar adanya, jangan sampai sakit saat merawat orang yang sakit.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja bagi Satria untuk makan. Setelah itu, Satria kembali naik ke atas. Tidak tega meninggalkan Indi berlama-lama.


"Cepet banget," kata Indi begitu suaminya kembali ke dalam kamar.


"Iya, yang penting kan perutnya terisi," kata Satria.


Setelah itu, Indi berbaring dengan beberapa bantal yang ditaruh di bawah punggungnya. Walau begitu, di rumah suaminya sendiri rasanya lebih nyaman. Indi yakin hanya beberapa hari saja dan dia akan berangsur sembuh.


"Kalau bisa tidur, tidur dulu, Sayang. Nanti sore bangun, dan mandi," kata Satria.


Indi menatap suaminya itu. "Mandinya gimana coba?" tanya Indi.


"Aku bantu mandiin," balas Satria.


Dengan cepat Indi menggelengkan kepalanya. "Enggak, malu."


"Gak usah malu. Personal treatment dariku selama kamu sakit. Udah, taat aja sama suami," kata Satria.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, Indi memilih untuk taat saja kepada suaminya. Sekarang, Indi memilih tidur dan istirahat terlebih dahulu. Nanti sore baru bangun dan mandi. Sebab, tadi Indi hanya berganti baju saja dan pulang.


Ketika Indi tidur, Satria memilih membersihkan rumah dengan mengepel lantai. Baju kotor dari rumah sakit juga Satria cuci sekalian dengan menggunakan mesin cuci. Waktu yang ada benar-benar dimanfaatkan Satria. Pria itu tak segan untuk mengambil peran dan melakukan yang terbaik.


Indi sendiri bisa tertidur hampir dua jam. Begitu bangun, sudah ada Satria yang rebahan di sisinya. Satria tersenyum ketika Indi terbangun.


"Bisa tidur kan? Nyenyak tidur di sini atau di Rumah Sakit?" tanya Satria.


"Jelas enak di rumah kamu, Mas. Kamu juga bisa rebahan," balas Indi.


"Iya, ada setengahan jam aku rebahan sambil jagain kamu. Mau mandi sekarang? Yuk, biar aku yang mandiin," kata Satria.


Sebenarnya Indi sendiri sangat malu. Akan tetapi, Satria sudah begitu semangat. Pria itu kembali menggendong Indi ke dalam kamar mandi. Di bawah shower juga sudah Satria sediakan kursi plastik sebagai tempat duduk Indi. Cukup mandi sambil duduk saja.


Dengan kondisi terbatas, Indi pun menggosok gigi dan mencuci muka dulu, walau ada beberapa bagian yang dia hindari karena bengkak di wajah. Setelah itu, Satrialah yang melepaskan satu per satu busana Indi. Ketika Indi malu, dan tidak terbiasa, Satria terlihat lebih santai. Tugasnya memang merawat istri sendiri.


Satria menghela napas kala melihat ada lebam yang lain di punggung Indi dan di paha. Pastilah lebam itu terasa sakit. Lebamnya sampai biru keunguan.


Satria juga menuang sabun cair di tangannya dan mengusap badan Indi perlahan. Di bagian kakinya yang bengkak, gerakan tangan Satria lebih lembut. Indi sudah menangis, walau begitu air mata tersamarkan dengan air yang membasahi wajahnya. Pun, Satria yang berlinang air mata. Kaki kiri yang bengkak dan lebam itu pastilah sangat sakit.


"Jangan nangis, Mas," kata Indi dengan suara yang bergetar.


"Pasti sakit banget. Mana punggung dan beberapa tempat lain untuk memar biru keunguan," kata Satria.


"Kan tadi aku udah bilang, aku mandi sendiri saja. Malahan bikin kamu sedih."


Indi sudah menangis. Gemericik air shower sudah tidak bisa lagi meredam air matanya. Sementara, Satria juga menangis. Keduanya sama-sama menangis.


Setelah itu, Satria membantu Indi berdiri dan mengenaikan bathrobe ke tubuh istrinya yang terlihat ringkih itu. Kembali Satria menggendong Indi menuju ke dalam kamar. Barulah setelahnya, Satria membantu Indi mengenakan pakaiannya.


Indi menyeka air mata di wajah suaminya dengan kedua ibu jari tangannya. "Jangan nangis seperti ini. Aku akan segera baik-baik saja. Aku akan segera sembuh," kata Indi.

__ADS_1


"Harus sembuh yah. Aku gak tega, Sayang. Pasti sakit banget," balas Satria.


"Tak seberapa, Mas. Aku bisa menahannya dan aku pasti akan sembuh," balas Indi.


Satria mengangguk. Dia menenangkan dirinya sendiri untuk tak terlampau sedih supaya Indi juga tidak terlalu sedih. Sudah menjadi komitmennya untuk merawat Indi dengan tangan tangannya sendiri. Oleh karena itu, Satria akan memastikan Indi sembuh dalam perawatannya.


"Kamu istirahat dulu, aku mandi sebentar yah," kata Satria.


"Iya," balas Indi.


Satria memilih mandi juga karena pakaiannya basah kala memandikan istrinya tadi. Lebih baik sih, sekarang juga mandi. Supaya lebih bersih. Satria memejamkan matanya di bawah guyuran shower. Hatinya sakit mengingat setiap luka di badan Indi.


Hampir lima belas menit berlalu, Satria keluar dengan wajah yang lebih segar. Walau wajahnya sembab, Satria berusaha tersenyum kepada Indi.


"Udah seger. Kamu bosen enggak? Sore mau ngapain?" tanya Satria.


"Udah berada di rumah sih enggak bosen kok, Mas. Ada kamu juga. Mas Satria istirahat. Jangan ngurusin aku terus, nanti kecapekan loh," kata Indi.


"Buat kamu gak capek kok. Apa pun buat kamu, aku siap melayani," kata Satria.


"Kamu baik banget sih, Mas. Terharu aku jadinya."


"Harus baik ke istrinya sendiri. Agak enak enggak badannya mandi pakai air hangat?" tanya Satria.


Indi merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Iya, lebih enak. Semoga aku bisa segera sembuh ya, Mas. Terutama kakiku," kata Indi.


"Aamiin, semoga yah, Sayang. Ini tangan kamu juga bengkak dikit efek kena infus. Fokus sembuh aku di rumah untuk jagain kamu," kata Satria.


"Hm, gak bekerja?" tanya Indi.


"Cuti dulu, Sayang. Sudah jangan berpikiran. Aku kerja merawat istri dulu. Kamu selalu menjadi prioritas utamaku," kata Satria.

__ADS_1


__ADS_2