
Keesokan harinya, keluarga Negara mengajak keluarga Hadinata menuju ke arah Karang Anyar. Ada tempat untuk menikmati teh sembari memandang hamparan kebun teh yang luas. Area ini masih berada di kaki Gunung Lawu, Karang Anyar.
Tempat yang disebut dengan Ndoro Dongker Tea House ini adalah tempat agrowisata keluarga yang terkenal di Solo dan sekitarnya. Ada tiga teh yang terkenal di sini yaitu Teh Putih, Teh Hijau, dan Teh Hitam. Dahulunya ada seorang Belanda bernama Dongker yang hobi meminum Teh, katanya Teh yang petik langsung dari kebun teh itu memiliki citarasa yang enak dan sedap. Lantaran kecintaannya kepada Teh, Dongker sampai rela untuk tidak kembali ke Belanda. Oleh masyarakat sekitar, Dongker disebut dengan Ndoro yang artinya tuan. Setelahnya, nama Ndoro Dongker diabadikan untuk nama rumah teh yang ada di kaki Gunung Lawu itu.
Bukan hanya berada di area perkebunan Teh dan udara sejuk yang dinikmati pengunjung. Akan tetapi, tempat ini juga memberikan pelayanan terbaik, pegawai di sana juga sangat ramah. Sehingga pengalaman menikmati teh begitu menyenangkan untuk para pengunjung.
"Ngeteh enak langsung di sini, Pak Pandu dan Bu Ervi. Menatap kebun teh yang luas," kata Rama Bima kepada kedua besannya.
"Udaranya juga sejuk yah, Pak Bima. Serasa ke Lembang, melihat hamparan kebun teh," balas Ayah Pandu. Ya, berada di Karang Pandan ini membuat Ayah Pandu serasa di perkebunan teh yang berada di Lembang. Terlebih menikmati teh dan aneka hidangan bersama keluarga rasanya sungguh nikmat.
"Benar Pak Pandu. Sentra perkebunan teh memang berada di sini, dan sudah berdiri sejak zaman Belanda. Ada wisata candi juga di sekitar sini, Pak Pandu," cerita Rama Bima.
"Candi apa saja?"
"Ada Candi Sukuh, Candi Ketek, dan Candi Cetho. Kabarnya ketiganya adalah candi peninggalan kerajaan Majapahit, di masa Brawijaya," cerita Rama Bima.
__ADS_1
Banyak kisah yang Rama Bima ceritakan kepada Ayah Pandu. Mungkin kalau rumah mereka dekat, bisa saja keduanya menjadi teman ngopi. Sebab, perbincangan dua pria jelang paruh baya itu benar-benar lancar dan mengalir. Seolah tak pernah kehabisan topik pembicaraan.
"Mbak Indi dan Satria enggak jalan-jalan?" tanya Bu Galuh.
"Mau foto-foto sebentar boleh, Bu?" tanya Indi.
"Ya, boleh saja. Mau berdua boleh, ngajak Nang-Nang juga boleh. Eyangnya ada di sini semuanya, siap mengasuh Nang-Nang," kata Bu Galuh.
Akhirnya Indi menitipkan Nakula dan Sadewa ke Eyangnya. Mereka menikmati udara segar di kaki gunung dan melihat hamparan perkebunan teh yang begitu hijau.
"Dingin, Yang? Mau memakai jaketku?" tawar Satria. Sisi manis dan romantisnya Satria sering kali dia tunjukkan kala berdua saja dengan istrinya. Sama seperti sekarang, Satria menawarkan kepada Indi untuk memakai jaketnya. Bukankah terlihat jelas bahwa Satria adalah sosok suami yang sweet dan romantis?
"Takut kalau Mama Cantik kedinginan. Malam ini kita masih menginap di Solo yah, Yang. Pasti juga belum boleh pulang ke Jogja," balas Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Palingan juga balik ke Jogja besok sore. Kalau siang panas banget, Mas. Silau," balasnya.
"Ya sudah, besok agak sore-sore aja yah. Penting kamu dan Nang-Nang enggak kecapekan aja kok."
__ADS_1
Kemudian Indi melihat sosok yang cukup dia kenal. Temannya, Indi pun segera menyapanya.
"Vio, kok bisa ketemu kamu di sini sih?"
Temannya Indi itu ternyata adalah Viona. Di sana Viona tidak sendiri, melainkan dengan putri kecilnya Arbe dan ada Anthony juga. Indi cukup kaget juga melihat temannya bersama Anthony di sana.
"Hei, Indi. Ya ampun, setelah lama akhirnya ketemu lagi," balas Viona dengan berpelukan dengan temannya itu.
Jika Viona dan Indi tampak akrab, sementara Satria dan Anthony terlihat biasa saja. Keduanya juga sudah cukup tahu, Satria juga tahu bahwa Anthony adalah pria yang dulu bersama Karina.
"Hei, cantik. Sudah gede yah sekarang," sapa Indi kepada Arbella.
"Halo, Ante. Arbe sudah tiga tahun, mau empat tahun. Tahun depan mau sekolah," balas Viona.
"Ya ampun, cepet banget sih gedenya. Cantik banget kamu ini," kata Indi.
"Nambah momongan, In. Sudah punya dua cowok kan, tambah lagi cewek gitu," balas Viona.
__ADS_1
"Pengennya sih, tapi kan enggak tahu nanti Allah memberinya apa," balas Indi dengan sedikit tersenyum.
Akhirnya, Viona meminta waktu kepada Anthony untuk berbicara dengan Indi. Agaknya dua kawan itu ingin berbicara bersama. Oleh karena itu, Indi dan Viona perlu menyempatkan waktu untuk berbicara berdua.