
Hanya berselang seminggu kemudian, Ayah Pandu, Bunda Ervita, dan Irene hendak berangkat ke Jakarta. Kali ini, keluarga Indi datang terlebih dahulu ke rumah orang tuanya untuk mengantar keluarganya menuju ke Bandara Internasional Yogyakarta. Satria yang akan mengemudikan mobilnya dan juga pastinya mengantar keluarga mertuanya.
"Wah, Nda akhirnya ke Jakarta dan naik pesawat terbang ini," kata Indi dengan tersenyum.
Bunda Ervita sebenarnya sangat takut dengan pesawat udara dan ketinggian. Bahkan kali ini barulah kesempatan pertama bagi Bunda Ervita naik pesawat. Kalau bukan untuk putri bungsunya, Bunda Ervita memilih di Jogjakarta. Sebenarnya, Bunda Ervita juga menawarkan untuk naik mobil via Jalan Tol atau Kereta Api. Akan tetapi, Ayah Pandu mengajak Bunda Ervita naik pesawat dengan tujuan setidaknya satu kali saja Bunda Ervita memiliki pengalaman terbang dengan pesawat udara.
"Sebenarnya Nda takut loh, Mbak Didi. Yayahmu itu yang mengajak Nda, katanya setidaknya memiliki pengalaman satu kali," balas Bunda Ervita.
"Nanti kalau takut pegangan tangan Yayah aja, Nda. Pasti hilang takutnya."
Indi berbicara lagi sembari senyam-senyum. Dia tahu kalau kehidupan pernikahan Yayah dan Nda nya itu harmonis. Sering kali pasangan itu bergandengan tangan kala sedang jalan-jalan bersama. Selain itu, ini adalah cara Indi membuat Nda-nya tidak ketakutan.
"Demi Irene dong, Mbak Didi. Pertama kali ke Jakarta dan pertama kali naik pesawat. Keren kan?" balas Ayah Pandu dengan mengangkat ibu jarinya.
Indi dan Satria kompak tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Keren, Yah."
"Kalian itu sangat kompak," balas Bunda Ervita.
"Kan pengen kompak sampai tua sama seperti Yayah dan Nda," balas Indi.
Menempuh perjalanan hampir satu jam, dan sekarang mereka sudah tiba di Bandar Udara Internasional Yogyakarta. Satria mengambil trolli dan sekaligus mendorong koper-koper milik Irene, dan mertuanya.
"Biar Ayah saja, Sat ...."
"Biar Satria saja, Yah. Kan cuma mendorong ini saja kok. Enggak berat," balas Satria.
Akhirnya mereka berjalan bersama menuju ke pintu keberangkatan. Indi sekarang memeluk adiknya itu. Teringat dulu bagaimana mereka menangis kala mengantar Irene menghabiskan masa KKN di Jakarta. Kali ini bukan sekadar satu bulan, tapi Irene akan tinggal lama di Jakarta. Begitu sudah bekerja, tentu Irene juga tidak bisa bolak-balik pulang ke Jogjakarta. Indi akan sangat merindukan adiknya itu.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik yah, Dek. Akhirnya Adeknya Mbak akan bekerja di Jakarta. Mbak bakalan kangen sama kamu," kata Indi dengan berlinang air mata.
Begitu juga Irene yang menangis di pelukan Indi. Ini akan menjadi perpisahan terlama untuk keduanya. Dulu, waktu Irene hanya KKN sebulan, Indi tak menangis. Akan tetapi, sekarang menyadari bahwa waktu berpisah sekian lama, Indi bersedih. Hubungannya dengan Irene walau kadang ada berdebatnya, tapi keduanya sangat rukun dari kecil.
"Doain Irene yah, Mbak. Aku bakalan kangen sama keluarganya Mbak, apalagi dengan Nakula dan Sadewa," kata Irene dengan terisak.
Sungguh, dia sangat rindu dengan Nakula dan Sadewa nanti. Satu-satunya keponakannya saat ini. Namun, untuk asa dan mengejar mimpi akhirnya Irene juga harus berpisah sejenak dari keponakannya. Berpisah beberapa bulan saja, pastilah nanti Nakula dan Sadewa akan tumbuh lebih besar.
"Sering berkabar ya, Dek. Walau kita berpisah jauh, bukan berarti kita terpisah kan? Selalu kirim pesan, jangan sampai putus yah," kata Indi lagi.
"Pasti Mbak ... aku akan sering kirim pesan. Dibalas yah, Mbak."
"Pastilah. Mana pernah aku enggak membalas pesan," balas Indi.
Setelah itu, Indi bergantian memeluk Bunda Ervita. Indi menguatkan Bundanya itu.
"Hati-hati yah, Nda. Nanti kalau Yayah dan Nda kembali ke Jakarta, kami jemput lagi di sini," balas Indi.
"Tidak apa-apa, Nda. Naik kereta api atau pesawat yang penting Yayah dan Nda tiba di Jogjakarta dengan selamat. Kami akan menjemput," balas Indi.
Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. "Makasih yah, Mbak. Doakan semuanya lancar. Palingan kami akan di Jakarta sepekan atau seminggu saja. Setelahnya kembali ke Jogjakarta," balas Bunda Ervita.
Indi menganggukkan kepalanya dengan memeluk Bundanya lagi. Setelah itu, Bunda Ervita dan Ayah Pandu bergantian menggendong Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Katanya keduanya bakalan rindu dengan Nakula dan Sadewa.
Setelah itu, Ayah Pandu, Bunda Ervita, dan Irene berpamitan dengan keluarga Indi. Irene lagi-lagi menangis saat berpelukan dengan kakaknya itu.
"Take care yah, Dek. Mbak bakalan kangen banget sama kamu."
__ADS_1
"Hati-hati yah, Rene. Sukses dalam pekerjaan," kata Satria.
"Makasih, Mas. Titip jagain Mbak Didi & Nang-Nang yah, Mas," balas Irene.
Satria kemudian tersenyum. "Sudah pasti, Mbak kamu dan keponakan aman. Mas jagain 24 jam."
Begitu ketiganya benar-benar memasuki pintu keberangkatan untuk cek in, Satria merangkul istrinya itu. Kasihan sebenarnya dengan Indi. Selain itu, Satria juga maklum karena sebelumnya memang kedua kakak adik itu tidak pernah terpisah jauh. Sehingga sekarang saat berpisah, sedihnya bukan main rasanya.
"Yang sabar. Ini kan upaya Irene untuk menggapai mimpinya. Justru kita dukung dan doakan, Irene menjadi guru dan impiannya terwujud. Dia berani mengambil langkah ini," kata Satria.
"Ii ... iya, Mas. Cuma sedih aja sekarang bakalan jauh sama adik sendiri. Kamu berbeda ayah biologis, tapi kami saling sayang satu sama lain sejak kecil. Ayah dan Bunda tak pernah membedakan kami berdua."
Yang hebat sesungguhnya adalah Ayah Pandu, dia selalu memberikan kasih sayang yang sama dan seimbang untuk Indi dan Irene. Tidak membedakan mana putri sambung dan putri kandung. Jarang ada sosok pria yang begitu baik seperti Ayah Pandu.
"Kamu dan Irene sama-sama memiliki ayah yang hebat. Kalian adalah putri kesayangan Ayah Pandu," balas Satria.
Setelah Indi merasa jauh lebih tenang, akhirnya Satria mengajak Indi untuk pulang. Sembari berkabar dengan Irene dengan Whatsapp. Nanti ketika orang tuanya kembali dari Jakarta, Indi dan Satria akan menjemput Ayah Pandu dan Bunda Ervita lagi.
"Yang, Yang?" tanya Nakula dan Sadewa menunjuk ke pintu keberangkatan.
"Eyang Pandu dan Eyang Nda ke Jakarta dulu yah, Nang. Nganterin Ante Irene dulu ke Jakarta. Minggu depan Nang-Nang akan bertemu Eyang lagi kok," balas Indi.
"Hm, Ama."
Nakula menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Namun, setelah itu Nakula malahan bertepuk tangan. Mengamati tingkah Nakula, Sadewa ikut-ikutan bertepuk tangan. Tingkah lucu kedua putranya itu membuat Indi yang semula menangis menjadi tersenyum.
"Kalian itu, tingkahnya copy-paste banget bersamaan sih," kata Indi.
__ADS_1
"Nang-Nang menghibur Mamanya biar enggak sedih kok, Ma. Kasihan Mama menangis yah?" balas Satria.
Setelah itu, mereka kembali ke tempat parkir mengambil mobil mereka. Sembari terus berdoa supaya penerbangan udara keluarganya lancar. Minggu depan akan kembali bertemu dengan Ayah Pandu dan Bunda Ervita.