Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Waktunya Tidak Tepat


__ADS_3

Indi dan Satria memang sudah merencanakan sebelumnya bahwa mereka akan menginap di rumah Ayah Pandu dan Bunda Ervita untuk beberapa malam. Tujuannya adalah menemani kedua orang tuanya yang mungkin saja sedang bersedih karena berpisah dari Irene. Walau kadang bibir tak mengucapkan apa pun, tapi Indi yakin bahwa sorot mata kedua orang tuanya mengisyaratkan kesedihan itu.


"Nanti sore ke rumahnya Yayah dan Nda yah, Mas," kata Indi kepada suaminya, sekarang mereka dalam perjalanan pulang ke rumah usai sarapan pagi bersama di rumah orang tuanya.


"Oke, Sayang. Sama seperti dulu waktu Irene KKN di Jakarta itu kan?"


Satria masih ingat dulu waktu Irene KKN di Jakarta untuk satu bulan, mereka juga sempat menginap di rumah Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Saat itu, Bunda Ervita terlihat sedih, karenanya Indi mengajak suaminya untuk menginap di rumah orang tuanya. Untung saja, Satria adalah pria yang baik. Dia mau menemani istrinya untuk menginap beberapa malam di rumah mertuanya.


"Makasih, Mas. Sekarang Ayah dan Bunda biar istirahat dulu, naik kereta api semalaman juga pasti capek. Nanti kita ke sana sore aja," kata Indi.


Sekarang memang Indi memilih pulang terlebih dahulu supaya Ayah dan Bundanya bisa beristirahat. Pasti kecapekan semalaman berada di kereta api. Tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setibanya di rumah, Indi juga mengasuh kedua putranya terlebih dahulu. Sementara Satria sembari mengerjakan pekerjaannya dengan menggunakan laptop.


Sebenarnya ini adalah hari Minggu, tapi memang ada sedikit pekerjaan yang harus Satria kerjakan. Sehingga, di akhir pekan pun harus bekerja. Indi juga tidak masalah, pekerjaan dan keluarga jika bisa berjalan dengan seimbang pasti baik adanya.


"Mas, nanti bawa kemeja kerja sekalian yah? Besok Mas berangkat bekerja dari rumah Nda gak apa-apa kan?" tanya Indi.


"Boleh, Sayang. Tidak apa-apa. Aku selesain kerjaanku dulu yah, biar di sana bisa nyantai dan ngobrol-ngobrol sama Ayah," balas Satria.


Akhirnya Satria menghabiskan waktu sepanjang siang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Menyelesaikan semuanya, kemudian Satria menyusul ke kamar, melihat apa yang sedang dilakukan istri dan anak-anaknya. Membuka pintu kamar, rupanya Nakula dan Satria sedang tidur siang, sedangkan Indi sedang asyik menonton drama korea sendiri.


"Hei, ngapain hayo. Sampai enggak kedip?" tanya Satria yang muncul dengan tiba-tiba dan segera memeluk istrinya yang sedang duduk itu.


"Ish, ngagetin aja sih, Mas. Aku baru me time sebentar. Nonton Drama Korea," jawabnya.


"Kok gak kedip gitu?"

__ADS_1


"Lha kan fokus nontonnya biar tahu jalan ceritanya," balas Indi.


Satria kemudian tertawa. Dia eratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala istrinya itu. "Peluk dulu, Yang. Butuh vitamin setelah beberapa jam bekerja," kata Satria.


Indi tertawa, dia memeluk suaminya itu dengan erat. Satria pun sama mengeratkan pelukannya. Dia sedikit melirik drama korea yang masih berjalan, rupanya di sana sedang ada adegan ciuman. Pantas saja istrinya melihat sampai tidak berkedip.


"Oh, adegan ciuman. Pantas saja kamu sampai enggak berkedip," kata Satria.


"Yah, ketahuan," balas Indi dengan terkekeh.


"Aku serba tahu semua tentangmu, Sayang. Yang kamu enggak katakan kepadaku aja, aku tahu," balas Satria.


Tiba-tiba Satria menawarkan sesuatu yang absurd kepada istrinya itu. "Mau nyoba ciuman kayak gitu?" tawarnya.


"Apaan sih, Mas. Siang-siang begini."


Seolah tak menginginkan penolakan. Satria lantas mengangkat pinggang istrinya itu, mendudukkannya di pangkuannya. Kedua wajah saling berhadap-hadapan satu sama lain. Ada binar mata dan senyuman dari wajah keduanya hingga akhirnya, Satria mulai memiringkan kepalanya sejenak. Dia kecup bibir istrinya itu. Kedua mata saling beradu.


Satria tersenyum lagi, dia telisipkan juntai rambut istrinya ke belakang telinga. Lalu, Satria kembali mengecupi bibir istrinya. Persis seperti yang terjadi di salah satu scene drama korea yang dilihat istrinya. Beberapa kali kecupan hingga akhirnya mata keduanya terpejam. Kecupan Satria kian lama berubah menjadi hisapan, ada ujung lidahnya yang mengusap bibirnya dalam kesan basah. Saling memagut, saling menghisap, bahkan lidah bertemu lidah saling menyapa. Kesan yang ditinggalkan bukan hanya hangat, tapi juga basah di saat yang bersamaan. Tangan Satria yang semula memegangi pinggang Indi, kemudian mulai merayap naik, menelusup ke dalam kaos yang dikenakan istrinya. Dia sisir bagian punggung istrinya dengan usapan jari-jari tangannya. Indi melenguh. Berusaha mempertahankan kesadarannya karena hari masih siang. Namun, ciuman itu kian dalam, kian menjadi-jadi, bisa dikatakan hasratnya menjadi bergelora.


Satria kian memiringnya wajahnya. Dalam setiap hisapannya ada penekanan di bibirnya. Bahkan beberapa kali wajah Satria turun dan dia ciptakan hisapan dan kecupan di garis leher istrinya. Tersulut? Ya, tentu saja. Namun, Satria ingin menikmati momen ini. Dia ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya terlebih dahulu.


Hingga akhirnya, Satria mengangkat ke atas kaos yang dikenakan Indi, tanpa melepaskannya. Lalu, tangannya dengan nakal mengeluarkan satu bulatan indah dari wadahnya. Satria mulai mengeksplorasi bulatan indah yang sekarang menjadi miliknya kembali itu. Mengecupi, menghisapi, dan memainkan puncak di sana dengan bibir dan lidahnya. Indi menjadi kalang kabut jadinya.


Luar biasa rasanya. Hatinya berdesir, matanya kian terpejam. Suaminya selalu saja memiliki aneka cara yang membuat dirinya seolah kehilangan kesadaran diri. Hingga akhirnya, Satria menggigit puncak itu, menariknya, dan melepaskannya. Beberapa kali Satria melakukan itu.

__ADS_1


"Hh, sakit ... jangan digigit," pekik Indi lirih.


"Gemas, Sayang. Nikmat banget," katanya.


Satria masih belum puas bermain-main dengan bulatan indah istrinya. Dia kembali berikan hisapan dan usapan yang kian menjadi-jadi. Hingga sesaat kemudian terdengar jejak langkah kaki kecil dan suara pintu terbuka.


"Pa ... Ma, Ama ...."


Sadewa kecil terbangun terlebih dahulu dan mencari Papa dan Mamanya. Panik, Satria kemudian menurunkan kaos yang dikenakan istrinya, tanpa merapikan wadah yang berada di dalam sana. Kemudian, Indi bergerak dan turun dari pangkuan suaminya.


"Ma, ngku Papa?"


Maksud pertanyaan Sadewa adalah 'Mama dipangku Papa?', Indi merasa bingung harus menjawab apa. Wanita itu sedikit membelakangi Sadewa dan merapikan pakaiannya terlebih dahulu.


"No, no. Nang ngku Pa," katanya dengan mengangkat jari telunjuknya.


Maunya Nang-Nang yang dipangku Papanya. Mamanya tidak boleh dipangku oleh Papanya. Setelah itu, Sadewa duduk manis di pangkuan Papanya. Satria tertawa dan mencium putranya itu. Sementara Indi tersenyum juga sembari mengusapi puncak kepala Sadewa yang mulai banyak maunya.


"Mama No. No."


Sadewa berkata lagi. Indi kemudian tertawa.


"Iya-iya, Nang. Mama duduk sendiri kok. Nih, Mama duduk di sini yah?"


"Hu-um, Ma."

__ADS_1


Indi kemudian saling lirik dengan suaminya. Siang menggelora harus berakhir sudah karena Sadewa yang sudah terbangun. Dilema orang tua dengan anak yang masih kecil memang seperti ini, rasanya banyak waktu yang tidak pas untuk membangun intimitas bersama. 🤣


__ADS_2