Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kuncinya Bekerja Sama


__ADS_3

Usai Nakula dan Sadewa tertidur, Satria pun keluar dari kamarnya. Dia mencari istrinya sekarang, rupanya Indi ada di dalam kamar dan menatap keluar jendela. Satria pun segera mendekap istrinya itu dari belakang, dengan kedua tangan yang melingkari pinggang istrinya.


"Kenapa, pasti sedih yah?" tanya Satria.


"Sejujurnya sih, iya ... sedih melihat Nakula dan Sadewa minta ASI sampai nangis-nangis kayak gitu," balas Indi.


Satria tersenyum. Hati istrinya itu memang lembut. Biasa, para ibu juga pasti merasa kasihan, tidak tega, hingga bersedih kalau memasuki fase melepas ASI atau menyapih. Namun, kalau dikerjakan dengan tulus, ada kerja sama dengan pasangan, menyapih dengan cinta pun bisa dilakukan.


"Sini, aku peluk," kata Satria.


Dengan berdiri di depan jendela yang menghadap ke luar, keduanya berpelukan. Satria memeluk Indi dengan begitu eratnya. Dia berikan belaian di puncak kepala hingga ke punggung istrinya.


"Kamu hebat banget sih, Mas. Pas aku baru mellow, kamu yang hadir dan menguatkan. Senang banget rasanya," kata Indi.


Indi menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Wanita itu memejamkan matanya sesaat, dengan buliran bening yang jatuh begitu saja dari sudut matanya. Perasaan Indi sekarang sebenarnya nano-nano. Sedih, tidak tega, dan lainnya. Masa transisi melepas ASI sampai berhasilnya nanti memang tidak mudah untuk para nama mama dan anak-anak.


"Sedih atau mellow juga boleh, yang penting jangan berlama-lama. Bagian dari proses, Sayang. Nanti usai lepas ASI, waktunya Nakula dan Sadewa lepas bobok sendiri. Semakin mereka besar, Nakula dan Sadewa akan mulai berkurang bergantungnya kepada Mama dan Papanya. Hingga saat mereka dewasa nanti, justru kadang kita siap ketika mereka misalnya mau sekolah di luar kota, kuliah di luar negeri, atau ketika mereka dewasa dan memutuskan berumahtangga, mereka akan meninggalkan kita. Semuanya proses, Sayang. Hidup kan memang seperti itu adanya," kata Satria.


Mendengarkan apa yang disampaikan suaminya Indi masih menangis. Hingga air matanya membasahi kaos yang dikenakan oleh suaminya. Namun, Indi juga tahu dan sadar, proses kehidupan memang seperti itu adanya. Benar yang orang-orang katakan orang tua pun juga belajar dari anak-anak. Sama seperti Indi sekarang yang belajar dari Nakula dan Sadewa, melepas kebiasaan dan kenyamanan untuk belajar dan menikmati hal-hal yang baru nanti.


"Hm, iya ... bener juga, Mas."

__ADS_1


"Sekarang sedih gak apa-apa. Wajar kok, penting jangan lama-lama. Kamu juga persiapan kalau nanti dadanya bengkak, kan bisa terjadi karena pengumpulan kelenjar laktosa. Tenang yah, nanti aku yang kompressin," kata Satria lagi.


Indi kemudian menggelengkan kepalanya."Gak mau, nanti ujung-ujungnya modus," balas Indi.


"Modus apaan, kan nanti kalau Nakula dan Sadewa udah lulus menyapihnya, punya Mamanya akan kembali ke Papanya sebagai pemilik utama yang sah. Nakula dan Sadewa kan cuma pinjem aja selama dua tahun. Papanya ambil alih hak dulu sebelum nanti dipinjem adiknya Nang-Nang," kata Satria.


Mendengar apa yang dikatakan Satria, Indi tertawa. Sama saja siklusnya berputar dan tak berakhir. Jeda sesaat pun seakan tidak ada. Wanita yang usai menangis itu akhirnya tertawa. Namun, itu adalah tujuan Satria. Alih-alih melihat istrinya menangis, lebih baik dia melihat istrinya bisa tertawa. Daripada bersedih, lebih baik Indi bahagia.


"Kunci menyapih itu bukan hanya di pihak mama kok, Yang. Pihak papa juga memiliki andil kok. Aku akan mengambil peran sebisa mungkin. Anak kan anak kita, kita membuatnya bersama-sama. Jadi, mari kita lakukan bersama-sama juga semuanya yang terbaik untuk Nakula, Sadewa, dan adik-adiknya nanti," kata Satria.


Indi merasakan hatinya benar-benar hangat sekarang. Suaminya itu memang definisi suami hebat dan luar biasa. Semua yang terbaik pastilah dilakukan oleh Satria untuk istri dan anak-anaknya.


"Makasih banyak, Mas. Tanpa aku meminta kamu sudah banyak melakukan banyak hal untukku dan anak-anak," kata Indi.


Bagaimana Indi bosan kalau suaminya itu saja selalu saja melakukan yang terbaik dan lebih untuknya. Menjadi figur suami dan papa yang hebat untuk Nakula dan Sadewa.


"Kamu istirahat juga, nanti mellow lagi. Mumpung Nang-Nang istirahat, kamu juga istirahat," kata Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Dia meminta izin untuk tidur siang sebentar. Sebatas rebahan pun tidak apa-apa. Satria tentu saja mengizinkan, dia akhirnya memilih menonton tv di dalam kamarnya. Setidaknya nanti kalau Nakula dan Sadewa terbangun, Satria akan mendengarkan.


Akhirnya Indi tertidur juga. Satria yang menonton youtube pun beberapa kali tertidur ayam, hingga akhirnya dia mendengar suara gemerincing dari box bayi Nakula dan Sadewa. Satria yang bangun terlebih dahulu dan menengok dua putra kembarnya.

__ADS_1


"Loh sudah bangun, Nang-Nang?" tanya Satria.


"Num," kata Sadewa yang kini kembali meminta minum dengan mengangkat dodot susu miliknya.


"Pa ... ya, num." Nakula juga berceloteh yang sama.


Satria pun segera menggendong kedua putranya itu ke dapur dan membuatkan susu. Seperti biasa, masih menangis ketika Papanya membuat susu seperti itu. Keduanya kompak menangis, sampai Indi terbangun. Setelahnya, Indi turun ke bawah.


"Sudah pada bangun?" tanya Indi.


"Sudah, Mama. Nangis minta susu. Papa buatkan malahan menangis," kata Satria.


Indi membuka kedua tangannya dan kemudian menggendong kedua putranya itu. Mengajak Nakula dan Sadewa menjauh. Mungkin mereka masih berpikir mendapatkan susu caranya tidak dibuat seperti itu. Oleh karena itu, Nakula dan Sadewa belum terbiasa dan belum menerima caranya.


"Ikut Mama dulu, yuk."


Kini gantian Indi yang mengalihkan perhatian Nakula dan Sadewa. Selain itu, sangat penting bagi mereka untuk bisa bersikap sabar. Tidak emosi ketika anak-anak tantrum. Sebab, tak jarang orang tua menjadi emosi saat anak-anak tantrum.


Satria tersenyum saja, dia mulai membuatkan dua susu di dalam dodot dan menyerahkannya untuk Nakula dan Sadewa.


"Kok menangis lagi. Ceritanya Papa tadi apa, Brontosaurus enggak minum susu. Mereka minum air putih. Nah, Nang-Nang minum susu ini yah, tak kalah enak sama punya Mama," kata Satria.

__ADS_1


"Oh, tadi Papa ceritain tentang Brontosaurus yah. Brontosaurus makannya daun, enak Nang-Nang yah, dimasakin Bayam tadi sama Mama. Biar kuat seperti karakter Popeye yang suka makan bayam," kata Indi.


Setelah diberi pengertian lagi barulah Nakula dan Sadewa bisa tenang dan juga mau meminum susunya. Situasi seperti ini masih akan berlangsung beberapa hari ke depan. Kuncinya di kerja sama dan sabar. Keduanya juga akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua putranya itu.


__ADS_2