Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Memutuskan Pertunangan


__ADS_3

Jika ada orang yang tidak main-main dengan ucapannya, dia adalah Rama Bima Negara. Baginya, pakem dan segala aturan yang sudah dilakukan akan tetap berlanjut. Tidak akan melembutkan hatinya hanya karena satu cela yang dimiliki oleh Indira.


Sekarang Rama Bima dan keluarga kembali datang ke kediaman Hadinata. Jika sebelumnya kedatangannya adalah untuk menjalin silaturahmi dan melakukan pertunangan. Sekarang, dia datang untuk memutuskan semuanya.


"Asalamualaikum," sapa Rama Bima.


Kedatangan keluarga Negara yang tiba-tiba pun membuat keluarga Hadinata juga kaget. Sebab, sebelumnya tidak ada pemberitaan bahwa pihak keluarga Negara akan datang. Namun, bagaimana pun Ayah Pandu dan keluarga tetap akan menerimanya dengan baik.


"Waalaikumsalam, ada apa Pak Bima?" tanya Ayah Pandu.


"Begini Pak Pandu, saya datang ke mari dengan tujuan khusus. Sebelumnya, saya minta maaf terlebih dahulu, dengan berat hati, saya tidak merestui hubungan Satria dengan putrinya Bapak, yaitu Indira."


Terlihat jelas bahwa Rama Bima langsung to the point ke tujuannya datang. Bahkan, dia juga mengatakan tidak merestui hubungan Satria dan Indira.


"Jika boleh tahu, apa alasannya?" tanya Ayah Pandu.


Lantas Rama Bima mengeluarkan dokumen berupa Akta Kelahiran Indira di sana. Kemudian Rama Bima menaruh Akta kelahiran itu di meja, menunjukkan bagian yang menjadi titik keberatannya.


"Indira Hayuningtyas Anak Kesatu dari Ibu Ervita. Jadi, siapa Bapaknya? Dari siapa asal-usulnya Indira? Putri Pak Pandu ini tanpa nasab," kata Rama Bima.

__ADS_1


Raut-raut wajah penuh kesedihan tampak di keluarga Hadinata. Terlebih Bunda Ervita yang seketika menundukkan wajahnya. Hal yang dulu dia takutkan akhirnya datang. Putrinya yang memang mengikuti nasab ibunya dan kerabat sang ibu akhirnya dipertanyakan oleh pihak calon keluarga besan. Ketakutan yang sudah Bunda Ervita rasakan sejak Indi kecil akhirnya terjadi juga hari ini.


Setiap dosa sejatinya diampuni Allah, asalkan hambanya mau merendahkan diri dan mengakui dosa. Allah itu pemurah dan pemaaf. Namun, akibat dari dosa masih ada yang kita tanggung sampai tua. Sama seperti dosa di masa lalu, yang akhirnya masih harus ditanggung hingga sekarang dan juga Indira turut menanggungnya.


"Walau nasab Indi mengikuti nasab Ibunya, Indi adalah bagian dari keluarga Hadinata," balas Ayah Pandu.


"Namun, kami tidak bisa menerimanya, Pak Pandu. Pakem dan segala tradisi di keluarga trah Negara tidak akan bisa menerimanya," balas Rama Bima.


Sekali lagi, berdasarkan strata, hak istimewa yang keluarga Negara yang notabene adalah keluarga Ningrat dan berdarah biru, tidak bisa menerima gadis yang tidak jelas asal-usulnya. Sementara, Ayah Pandu dengan tegas mengatakan bahwa Indi tetap adalah bagian dari keluarga Hadinata. Tidak membeda-bedakan Indi dengan yang lain. Bahkan dengan adiknya sendiri, tidak membedakan.


"Bagaimana bisa keluarga Hadinata yang terpandang menyimpan aib seperti ini?" tanya Rama Bima.


Di sana keluarga Negara tertunduk. Satria pun menundukkan wajahnya. Dia bisa menerima Indi apa adanya. Cintanya tidak berdasarkan dengan semua pakem dan tradisi. Cintanya tulus dari dalam hatinya.


"Ada tradisi yang masih dilestarikan oleh keluarga Negara," balas Rama Bima.


"Jika memang begitu adanya. Kami tidak masalah, Pak Bima. Saya percaya, cinta akan menemukan jalannya. Cinta akan selalu menemukan jalan untuk pulang. Jika memang jodoh nanti pasti bertemu, jika tidak nanti Tuhan akan mempertemukan dengan tulang rusuk yang tepat," balas Ayah Pandu.


Bukan berarti menerima begitu saja, tapi bagaimana pun kalau perkara jodoh itu adalah keputusan dan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, Ayah Pandu mencoba melihat dari sisi yang positif. Kalau marah dan emosi, itu pasti. Akan tetapi, emosi pun tidak ada baiknya.

__ADS_1


Di satu sisi Rama Bima tertampar juga dengan ucapan Ayah Pandu. Dengan akal dan logikanya, Rama Bima tahu bahwa manusia memiliki kedudukan sama di mata Allah. Allah tidak membeda-bedakan hambanya.


Sementara, Indi yang ada di sana, turut mendengarkan pembatalan itu berusaha keras menahan air matanya dengan dada yang sesak. Hal yang baru dia ketahui kala dia dewasa.


Keluarga bahagia, orang tua yang hidup harmonis rupanya hanya fatamorgana untuk Indi. Di dalam hatinya, dia bertanya-tanya sebenarnya dia ini anaknya siapa? Hingga di dalam akta kelahirannya hanya tercatat nama Bundanya saja. Itu berarti, Yayah Pandu yang selama ini dia sayangi, dia kagumi, dan dia hormati ternyata bukan ayah kandungnya.


Sakit dan sesak hatinya sekarang. Indi hanya bisa menunduk, matanya memerah karena menahan air mata. Sebak rasa di dalam hati.


Usai itu, Indi melepas cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Dia menyerahkan cincin itu di atas meja.


"Indi kembalikan cincin pertunangan ini," kata Indi.


Bunda Ervita menyambut dengan merangkul putrinya mengusapi punggung Indi dengan usapan naik dan turun. "Sabar, Mbak," kata Bunda Ervita dengan lirih.


Di saat bersamaan, Indi hanya terdiam. Jika memang bukan takdirnya, bagaimana lagi. Secinta apa pun dia dengan Satria, tapi kenyataan yang baru saja dia dengar jauh lebih menyakitkan. Kehilangan orang yang tercinta, jauh lebih sakit kala mengetahui siapa ayahnya yang tidak jelas.


Di saat bersamaan ada Satria yang mulai menghela napas. Pandangan hanya tertuju satu titik dan itu adalah Indi. Rasanya Satria tidak bisa menerima. Memilih dan mencintai Indi adalah keinginan hatinya, sekarang Satria tidak bisa menahan. Sebab, hatinya sendiri juga sakit.


"Izinkan Satria berbicara ...."

__ADS_1


Pemuda tampan yang mengenakan kemeja batik tulis itu sekarang wajahnya begitu sendu. Apa yang hendak dikatakan Satria sebenarnya? Akan tetapi, pemuda itu mengambil jeda dan belum mulai membuka mulutnya lagi.


__ADS_2