Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Upacara Tujuh Bulanan 1


__ADS_3

Hari pun berganti hari. Minggu juga berganti minggu. Tidak terasa satu bulan telah berlalu. Usia kehamilan Indi pun sudah tujuh bulan sekarang. Wanita hamil itu kian chubby saja. Berat badannya juga bertambah 20 kilogram sekarang. Walau begitu, Indi bisa menerima dirinya sendiri. Menikmati perubahan demi perubahan yang terjadi pada dirinya dan juga lebih banyak bersyukur.


Kali ini lantaran sudah tujuh bulan, maka keluarga sepakat akan menggelar upacara tujuh bulanan untuk Indi. Jika empat bulanan dulu dilakukan di Solo. Sekarang, tujuh bulanan dilakukan di kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Ini pun atas permintaan Satria supaya Indi tidak harus bolak-balik menempuh perjalanan Jogja ke Solo. Untung saja Rama Bima tidak keberatan. Sehingga sekarang giliran keluarga besar Negara dan Eyang dari pihak Bu Galuh yang nanti akan rawuh ke kediaman Keluarga Hadinata. Walau begitu, Rama Bima meminta upacara nanti dilakukan dengan adat Jawa lengkap dengan siraman dan Pecok Bakal.


"Jadi, kita ke rumahnya Yayah sekarang, Yang?" tanya Satria kepada istrinya. Sebab, sekarang mereka berdua masih berada di rumah. Belum berangkat menuju kediaman Yayah Pandu dan Bunda Ervita. Keduanya masih berada di rumah.


"Iya, sekarang aja, Mas," balas Indi.


"Nanti di sana kita ngapain aja?" tanya Satria lagi.


"Aku kurang tahu juga sih, Mas. Ngikutin arahan orang tua aja deh. Toh, nanti juga ada MC yang mengarahkan. Jadi, lebih baik kita mengikuti saja," balas Indi.


"Bagaimana pun ini yang pertama untukku, Yang. Jadi yah aku gak tahu nanti bakalan ngapain aja," kata Satria.


"Kamu ini lucu deh, Mas. Buatku kan juga yang pertama. Baru kali ini aku hamil. Kamu ini ...."


Keduanya kemudian tertawa bersama. Yang barusan dikatakan Indi ada benarnya bahwa ini sama-sama pengalaman pertama untuk mereka berdua. Oleh karena itu, Satria jadi tertawa sendiri. Kemudian, keduanya bersiap dan akan segera menuju kediaman Hadinata. Bergabung dengan keluarga besar yang sudah berada di sana.


Menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, akhirnya mereka tiba di kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Di depan rumah sudah dipasangi tenda karena ada beberapa karyawan Batik Hadinata yang hadir dan ada karyawan dari kantor konsultan milik Ayah Pandu. Selain itu, karyawan dari Oemah Jamu juga diundang. Masih ada beberapa rekan dan mitra bisnis yang turut diundang juga. Sehingga, keluarga Hadinata benar-benar bersiap.

__ADS_1


Sementara bagian Pendopo sudah dihias dengan tema rustik yang menggabungkan bunga, dedaunan, dan lampu. Nanti untuk cindera mata juga akan dibagian kain batik Hadinata, dan jamu yang memang sudah disiapkan Rama Bima dan Bu Galuh. Walau hanya tujuh bulanan dan menggelar Pengajian, tapi keluarga Hadinata justru seperti tengah punya gawe atau memiliki hajat sekarang.


Begitu sudah tiba di rumah, Indi menyapa keluarga besar terlebih dahulu. Kemudian Indi diajak Bunda Ervita masuk ke dalam kamar. Sebab, Indi kembali harus dimake up ala Jawa. Kebaya khusus untuk Ibu hamil juga sudah Bunda Ervita siapkan.


"Kalian berdua sehat kan?" tanya Rama Bima. "Menantunya Rama ngidam apa lagi?"


Satria tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Sehat, Rama. Indi sudah enggak ngidam apa-apa kok, Rama. Cuma lebih manja dan lebih nempel ke Satria aja. Manis malahan," jawab Satria.


"Seperti Bundamu dulu, Sat. Waktu hamil Irene sih, nempelan sama Yayah. Pernah Yayah ada bekerja di luar kota, Bundamu itu nangis," cerita Ayah Pandu sembari mengenang masa lalu.


"Kalau Ibumu beda lagi. Hamil kamu itu sukanya masak aja di dapur. Bikin aneka jajanan pasar tradisional itu," cerita Rama Bima.


Kehamilan tiap-tiap orang selalu memiliki cerita, dari Bunda Ervita, Bu Galuh, bahkan Indi sekarang. Nanti momen kehamilan ini akan lucu untuk dikenang dan diceritakan kembali. Satria menganggukkan kepalanya mendengarkan cerita dari Rama Bima dan Ayah Pandu.


Menurut, akhirnya Satria berganti baju. Namun, sebelumnya dia melihat ke sekeliling dan mencari-cari di mana istrinya berada. Sampai akhirnya Satria memilih bertanya kepada Bunda Ervita.


"Indi di mana Bunda?" tanyanya dengan mengedarkan pandangannya.


"Bunda sembunyikan dulu. Nanti sungkeman dulu, sehabiskan itu ada upacara siraman. Request-nya Rama untuk memakai adat Jawa lengkap," kata Bunda Ervita.

__ADS_1


"Maaf merepotkan yah, Nda. Mengikuti adat Jawa yang lengkap," balas Satria.


"Tidak repot sama sekali kok. Kalau dikomunikasikan bersama ya tidak repot."


Persiapan demi persiapan pun dijalani. Sekarang keluarga Hadinata dan keluarga Negara kompak memakai warna hijau sage. Dua keluarga yang sekarang seperti Ijo Royo-royo. Guyub bersama. Kemudian Satria didampingi Rama Bima dan Ayah Pandu menerima tamu di depan rumah. Mengucapkan salam dan terima kasih untuk semua undangan yang berkenan hadir. Kemudian ketika acara hendak dimulai, Bunda Ervita dan Bu Galuh membawa keluar Indi yang juga mengenakan kebaya berwarna Hijau Sage. Walau dari jarak beberapa meter, terlihat bagaimana cantiknya Indi berkebaya. Walau perutnya kian membesar, tapi aura ibu hamil itu terlihat begitu cantik. Pandangan Satria pun seolah tertuju penuh kepada istrinya. Dalam tatapan, Satria menyunggingkan senyumnya. Dalam hatinya dia benar-benar memuja istrinya yang sangat cantik itu.


Sekarang Indi dan Satria didudukkan bersama. Satria berbicara lirih kepada istrinya. "Masyaallah, cantiknya. Aku seperti baru saja melihat bidadari," kata Satria.


"Bukan Klenthing Kuning, tapi Klenthing Hijau ya Mas?" balas Indi.


Dalam cerita rakyat Jawa yang sudah ada sepanjang abad terdapat cerita Jaka Tarub, seorang pemuda yang bertemu dan melihat para bidadari yang sedang mandi. Akhirnya Jaka Tarub mengambil salah satu selendang milik para bidadari yang sedang mandi, selendang yang diambil berwarna kuning, milik sang bidadari bernama Klenthing Kuning. Akhirnya Jaka Tarub menikahi bidadari itu, hingga sang bidadari memiliki bayi. Namun, akhirnya Klenthing Kuning memilih kembali ke kahyangan dan meninggalkan Jaka Tarub dengan bayinya.


"Iya, Roro Ayu."


Lantas acara dimulai dengan sungkeman. Indi dan Satria sama-sama bersimpuh sekarang di hadapan Rama Bima, Bu Galuh, Ayah Pandu, dan Bunda Ervita. Kali ini Indi lah yang berbicara.


"Rama, Ibu, Yayah, dan Bunda ... tidak lama lagi Indi akan menjadi seorang ibu. Untuk itu, Indi memohon maaf untuk setiap salah, pelanggaran, dan dosa yang Indi lakukan baik sengaja maupun tidak disengaja. Selain itu, mohon doa dan restu supaya nantinya Indi juga bisa melahirkan dengan sehat, selamat, dan tidak kekurangan apa pun."


Indi mengatakan semua itu dengan berlinang air mata. Setelahnya Indi dan Satria melakukan sungkeman, bersujud kepada Rama, Ibu, Bunda, dan Yayah secara bergantian. Para orang tua memberikan doa dan restu untuk Indi dan Satria juga. Momen sungkeman ini menjadi penuh haru.

__ADS_1


Setelahnya, Indi kemudian dimandikan dengan air yang diambil dari tujuh mata air dan dicampurkan dengan bunga. Air itu dipercikkan dari kepala hingga kaki. Para orang tua juga bergantian mengguyur Indi yang sudah berganti dengan pakaian khas basahan dengan banyak reroncean bunga melati di lengan, bahu, hingga dadanya. Arti dari siraman ini adalah penyucian diri. Sang Ibu menyucikan dirinya terlebih dahulu sebelum masa melahirkan tiba.


Usai siraman, Indi kembali dibersihkan, diperbaiki make up-nya, dan kembali mengenakan Kebaya yang masih berwarna hijau. Usai ini masih ada upacara juga yang akan dilakukan oleh keduanya dalam acara tujuh bulanan ini.


__ADS_2