Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kapan Tambah Momongan?


__ADS_3

Berkumpul bersama Ayah Pandu, Bunda Ervita, dan Irene setelah dua minggu berpisah membuat Indi sendiri merasa sangat bahagia. Bahkan Bunda Ervita sangat pengertian ada Nasi, Sayuran, dan Lauk-pauk yang sudah dimasakkan di rumah milik Indi. Semua itu, karena Indi dan Satria memang menitipkan kunci rumahnya kepada Bunda Ervita dan Ayah Pandu. Sebelum Indi dan Satria pulang ke rumah, Bunda Ervita juga meminta ART membersihkan rumah anak-anaknya dulu.


"Yuk, Nang-Nang mandi dulu yuk sama Eyang. Eyang udah bikin Sup nanti tinggal dihaluskan nasinya," kata Bunda Ervita.


Akhirnya Bunda Ervita dan Ayah Pandu kompak memandikan cucu-cucunya terlebih dahulu. Indi dan Satria juga memilih untuk mandi dulu, setidaknya supaya badan menjadi lebih segar. Setelah itu, mereka makan bersama. Ada Sup Ayam untuk Nakula dan Sadewa, selain itu Bunda Ervita juga memasak Sayur Asem kesukaan Indi.


Melihat di meja makan ada makanan favoritnya membuat membuat Indi tersenyum lebar. Kerinduan dengan kampung halaman kian terobati dengan sayur kesukaannya itu.


"Wah, ada sayur asem," kata Indi.


"Kesukaan kamu. Ada Ayam goreng serundeng kesukaan Satria," kata Bunda Ervita lagi.


Melihat Ayam Goreng dengan Serundeng Kelapa membuat Satria tersenyum. Senang sekali memiliki mertua yang sangat baik. Sampai pulang dari luar negeri saja dimasakkan masakan kesukaannya.


"Wah, terima kasih banyak, Bunda," kata Satria.


"Pasti langsung seneng deh," goda Indi kepada suaminya itu.


"Makan makanan nusantara di Amsterdam rasanya istimewa, Yang ... kalau pulang dari luar negeri dan menyantap masakan Nusantara hati rasanya seneng banget," jawab Satria.


"Udah, ayo makan. Biar Bunda dan Irene yang menyuapi Nakula dan Sadewa. Kalian makan aja. Diisi dulu perutnya," balas Bunda Ervita.


Tentu dimanjakan orang tua seperti ini membuat Indi sangat senang. Anak-anak sudah dihandle Bunda dan adiknya. Bisa mengisi perut terlebih dahulu. Kebahagiaan kala menjadi ibu itu sesungguhnya sederhana, bisa makan dengan tenang saja rasanya sudah begitu bahagia.

__ADS_1


"Makasih banget, Bunda," balas Indi.


Akhirnya, Indi mengisi piring suaminya terlebih dahulu dengan mengambilkan nasi putih dan ayam goreng serundeng, serta sambal. Sementara Indi menikmati Sayur Asam yang memang diberi Asam Jawa yang membuatnya sangat segar. Indi dan Satria sama-sama makan dengan lahap dengan lauk dan sayur yang berbeda. Begitu juga dengan Nakula dan Sadewa yang sangat lahap disuapin Eyang Ervi dan Tante Irene.


"Yang kenyang, tetap enak kan kembali ke rumah dan menikmati santapan Nusantara?" tanya Ayah Pandu.


"Nikmat sekali, Yah. Duh, Satria jadi pengen nambah," balas Satria.


"Nambah aja. Yang lahap," balas Ayah Pandu.


Akhirnya Indi mengisi lagi piring suaminya dengan nasi putih. Bunda Ervita malahan senang ketika anak-anaknya makan masakannya dengan begitu lahap. Usai makan, Indi dan Satria juga kompak untuk mencuci peralatan makan mereka.


"Makasih banyak, Bunda ... enak banget. Sambalnya pedes, tapi enak," kata Satria.


Satria menganggukkan kepalanya, walau memang sambalnya lebih pedas, tapi tak mengurangi citarasanya. Setelah itu, Nakula dan Sadewa bermain dengan Irene, sementara yang lainnya duduk di ruang tamu. Kemudian ada pertanyaan yang ditanyakan oleh Bunda Ervita.


"Sudah sampai di Amsterdam, kira-kira sekalian honeymoon enggak?" tanya Bunda Ervita.


Indi dan Satria kemudian sama-sama tersenyum. Malu sebenarnya kala ditanyai seperti ini. Akan tetapi, Indi yang memberikan jawaban.


"Ya, tujuan utama mengikuti acaranya, Bunda. Kalau pergi juga barengan dengan keluarga Rama," jawabnya.


"Bunda dan Ayahmu itu cerita-cerita sapa tahu pulang dari Belanda, tambah momongan lagi," kata Bunda Ervita.

__ADS_1


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. "Iya, kapan kalian menambah momongan lagi?" tanya Ayah Pandu.


"Doakan saja, Yah ... tidak menunda juga sebenarnya. Kalau Allah memberi, insyaallah kami siap," jawab Satria.


"Oleh-olehnya dari Amsterdam kalau tambah cucu juga kami sih mau," balas Bunda Ervita.


Rupanya Bunda Ervita dan Ayah Pandu mengatakan bahwa mereka mengharapkan untuk menambah cucu. Memang keduanya juga tahu bahwa Nakula dan Sadewa baru akan dua tahun, tapi tidak masalah kalau menambah cucu. Para Eyangnya masih muda dan bersedia untuk membantu mengasuh cucunya.


"Kami tidak menunda kok, Nda ..., hanya saja sedikasihnya Allah saja. Walau sebenarnya, kami berharap kalau mendapat momongan lagi setidaknya menunggu Nakula dan Sadewa agak besar sedikit. Indi takut dan kasihan saja kalau Nang-Nang masih butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari kedua orang tuanya," balas Indi.


"Nanti Bunda bantuin ngasuh, Mbak Didi. Jangan khawatir," kata Bunda Ervita.


"Terima kasih banyak, Nda. Indi sih percaya pasti nanti Bunda akan banyak membantu Indi dan Mas Satria," balasnya.


Indi dan Satria lebih memilih sabar saja. Memang di Amsterdam mereka sempat merajut cinta bersama menyusuri swargaloka. Hanya saja memang terjadinya pembuahan itu tidak hanya usaha manusia, tapi ada berkah dan kehendak dari Allah.


"Jangan menjadikan pertanyaan Bunda dan Yayah sebagai beban yah. Dijalani saja. Kalau waktunya Allah memberi, waktu itu juga pasti akan tiba. Santai saja, jangan sampai membebani kalian berdua," kata Bunda Ervita.


"Iya, Nda. Kami santai saja kok. Kalau Allah memberi untuk momongan lagi, Insyaallah kami berdua siap," balas Indi.


Satria juga menambahkan. "Benar Bunda. Tidak menjadikan beban. Dinikmati saja. Kalau belum dikasih berarti diminta Allah fokus untuk Nakula dan Sadewa dulu. Kalau sudah diberi tandanya Allah percaya kepada kami berdua. Dianggap mampu," balas Satria.


"Itu benar, Sat. Selalu berpikiran positif. Ayah percaya sih memang begitulah adanya, kalau belum diberi berarti memang Allah maunya kalian berdua fokus untuk mengasuh Nang-Nang dulu. Benar, gak apa-apa," kata Ayah Pandu.

__ADS_1


Ayah Pandu dan Bunda Ervita mengatakan demikian. Walau sudah menginginkan untuk memiliki cucu, tapi keduanya tetap meminta Indi dan Satria tidak menganggapnya sebagai beban. Lebih baik untuk tetap menjalani dan menikmati masa-masa mengasuh Nakula dan Sadewa terlebih dahulu.


__ADS_2