Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Ngidam Gandos Rangin


__ADS_3

Menjelang sore Indi dan Satria kembali ke rumah mertuanya. Kegiatan di siang hari yang cukup membuat lelah. Walau demikian, Indi masih semangat dan tidak terlihat lesu.


"Assalamualaikum," sapa Indi dan Satria memasuki kediaman Rama Bima dan Bu Galuh.


"Waalaikumsalam," balas kedua pasangan Negara itu. "Dari mana saja tadi? Sudah beli Es Kapalnya belum?" tanya Rama Bima.


"Sudah, Rama. Maaf, tadi Indi mengajak Mas Satria mampir ke rumah Eyang dan Bapak," katanya.


Indi merasa bahwa cukup lama mereka keluar dari rumah mertuanya. Oleh karena itu, Indi meminta maaf dan mengatakan tadi mampir ke rumah Eyang dan Bapaknya. Setidaknya dengan memberitahu bisa membuat mertuanya bisa memahami dirinya.


"Iya, tidak apa-apa Mbak Indi. Kan mumpung berada di Solo. Menginap di sini kan?" tanya Rama Bima.


"Iya, Rama. Kami menginap untuk semalam," balas Satria.


"Ya sudah, sana mandi-mandi dulu. Nanti kita makan malam bersama. Mbak Indi pengen makan sesuatu enggak?" tanya Rama Bima lagi.


"Makan apa saja mau kok, Rama," balasnya.


"Kita ajak makan Nasi Liwet saja, Rama. Mumpung Indi ada di Solo," kata Bu Galuh.


Rama Bima kemudian menganggukkan kepalanya. Ide dari istrinya dinilai bagus. Memang ketika di Solo seperti ini rasanya ingin mengajak menantunya berwisata kuliner di Solo.


"Mbak Indi capek dulu enggak?" tanya Bu Galuh lagi.


"Tidak capek kok, Ibu," jawab Indi.


Akhirnya, Indi dan Satria istirahat sebentar sebelum nanti diajak membeli Nasi Liwet. Keduanya berganti mandi, Indi juga rebahan sejenak di kamar suaminya. Ketika punggungnya mengenai kasur yang empuk rasanya enak sekali.


"Kecapekan, Sayang?" tanya Satria.


"Enggak kok Mas. Cuma seneng aja ketemu kasur. Mana empuk lagi," balas Indi.


Satria tersenyum, dia membiarkan istrinya istirahat sebentar. Nanti jika sudah tinggal menuju ke area Solo Baru dan membeli Nasi Liwet yang terkenal di sana. Hingga akhirnya ada ketukan pintu dari kamar Satria.


"Mas Satria, Mbak Indi, ayo kita berangkat ...."


Terdengar suara Sitha yang memanggil Mas dan Mbaknya. Si Adik Ipar yang disuruh Ibu Galuh untuk memanggil kakak-kakaknya.

__ADS_1


"Ya, Dik ...."


Setelah itu, Satria dan Indi keluar dari kamarnya dan menuju ke bawah. Kali ini Rama Bima yang mengemudikan mobilnya. Dengan Satria yang duduk di samping Ramanya. Di belakangnya ada Indi, Bu Galuh, Sitha. Mobil yang dikemudikan Rama Bima menuju ke arah Solo Baru, dengan melewati pusat kota. Ada lampion dan miniatur Budha tertidur dan Stupa Candi Borobudur di Plaza Balaikota Surakarta.



"Ada acara apa ini, Dik?" tanya Indi kepada Adik Iparnya.


"Ini merayakan Hari Raya Waisak kemarin, Mbak. Brandingnya kan Solo menjadi Kota Toleransi di Indonesia. Jadi, di Plaza Balaikota ini selalu dihias di hari besar keagamaan. Dulu identik dengan Lampion Merah untuk merayakan Imlek karena kawasan Pecinan di belakang Pasar Gedhe. Sekarang, hari besar semua agama dirayakan Mbak," jawab Sitha.


"Benar, Mbak Indi. Kemarin Hari Raya Nyepi itu di Solo rasanya kayak di Bali. Banyak penjor di koridor jalan ini. Ada Bazar rakyat juga," kata Rama Bima.


Indi menganggukkan kepalanya. Itu adalah kemajuan yang bagus untuk kota asal Bundanya. Bukan hanya kota berbudaya, tapi menjadi kota toleransi semua agama. Menarik untuk rakyat Solo, bahkan rakyat pendatang juga.


"Bagus nggih, Rama," balas Indi.


"Iya, Mbak Indi. Memang sekarang Solo semakin maju. Satu hiasan stupa ini dari Pabrik Jamu kita," kata Rama menunjuk sebuah Stupa di tengah jalan.


Sebab konsep yang ditawarkan pelaku bisnis dan keagamaan juga boleh menyumbangkan stupa sebagai hiasan di jalan. Sehingga ada toko emas, toko cat, pabrik jamu, hingga lembaga keagamaan yang mengambil bagian. Indi tersenyum melihat nama pabrik jamu mertuanya itu.


"Turut merayakan saja Mbak Indi," balas Rama Bima.


Setelahnya mereka menuju ke warung Nasi Liwet yang digelar di trotoar di tepi jalan raya. Walau di tepi jalan, tapi warung tenda ini menjadi pilihan kuliner enak khas Solo. Rama Bima dan Bu Galuh memesan untuk keluarganya.


Nasi Liwet adalah nasi gurih dan disajikan dengan sayur sambal goreng labu, suwiran ayam, dan telor rebus. Nasi Liwet sudah menjadi kuliner khas Solo dari masa ke masa. Duduk di tikar dan menikmati Nasi Liwet dan Teh hangat gula batu.


Hingga akhirnya, Indi melihat ada penjual Gandhos Rangin. Seorang Bapak tua yang memanggul dagangannya. Tiba-tiba Indi menginginkannya, tapi Bapak itu sudah berjalan, barulah Indi berkata kepada suami.


"Mas, aku pengen itu," kata Indi.


"Mana, Sayang?"


"Bapak yang jual Gandos Rangin. Sayangnya Bapaknya udah jalan," kata Indi.


Rama Bima juga menanyai apa yang diminta Indi. "Apa Mbak?" tanyanya.


"Pengen Gandos Rangin itu, Rama. Maaf, tapi Bapaknya sudah jalan," balas Indi.

__ADS_1


Satria mengangguk perlahan. "Tunggu sini yah, aku kejar dulu Bapaknya yang jual."


Bu Galuh tersenyum saja. Kala istri ngidam memang kesabaran suami itu diuji. Apakah kali ini Satria akan lulus ujian? Namun, melihat Satria yang berjalan dan setengah berjalan mengejar Bapak yang memanggul dagangannya itu terlihat kasih sayang yang besar dari seorang suami kepada istrinya yang tengah hamil. Berjalan mengejar penjual pun dilakukan Satria, walau tidak mudah.


Sementara Satria sendiri melakukan semua itu juga untuk istri dan bayinya yang masih berada di dalam kandungan. Lebih dari sepuluh menit Satria mengejar barulah berhasil mengejar Bapak penjual itu.


"Pak ... saya mau beli Gandosnya," kata Satria dengan terengah-engah karena dia berjalan cepat dan setengah berlari.


"Masnya ngejar saya?" tanya Bapak itu.


"Iya, Pak. Dari warung Nasi Liwet di sana," balas Satria.


"Ya ampun, jauh banget, Mas," kata si Bapak yang sudah sepuh itu.


"Untuk istri yang hamil, Pak," balas Satria.


"Ya sudah, ke sana lagi saja, Mas."


"Eh, tapi jauh, Pak. Apalagi jualan berat."


Untung Bapak penjual itu baik hati dan mau berjalan balik hingga ke warung Nasi Liwet. Satria yang tidak enak hati membantu memanggul jualan Bapaknya itu. Pria tampan itu kini benar-benar berkeringat. Merasakan anehnya ngidam istrinya.


Dari jauh Bu Galuh tertawa melihat putranya kembali dan membantu memanggul jualan Bapaknya. Di hati Bu Galuh berarti putranya itu lulus ujian.


"Mau Gandos Rangin nggih Mbak?" tanya Bapak penjual itu.


"Nggih, Pak. Satu porsi saja," balas Indi.


Gandos Rangin sendiri adalah kue atau jajanan tradisional di Solo. Makanan ini terbuat dari tepung ketan dan kepala. Memiliki cita rasa yang gurih. Walau begitu, sekarang susah ditemukan penjual makanan tradisional ini. Kalau ada beberapa penjual sudah sepuh dan tidak di semua tempat ada.



Di hadapan Indi, Bapak itu membuatkan Gandos Rangin secara langsung. Sehingga saat disajikan masih panas. Rama Bima yang sedang bahagia meminta izin kepada pemilik warung Nasi Liwet yang mau Gandos Rangin boleh meminta gratis, semuanya akan dibayar Rama Bima. Kebahagiaan si Rama yang akan menjadi Eyang tidak lama lagi.


Sehingga setelah Indi, banyak pemilik warung dan penjual yang meminta Gandos Rangin itu. Sementara Rama Bima yang membayar semuanya. Bahkan Rama Bima memberikan lebih untuk penjual Gandos Rangin.


Walau ngidamnya aneh, dan Satria harus mandi keringat tapi terbayar dengan banyaknya orang yang bahagia kala menikmati kue tradisional yang sekarang sudah begitu jarang ditemukan itu. Selain itu, Satria lega bisa memberikan apa yang diminta istrinya.

__ADS_1


__ADS_2